restu orang tua dandi global volunteer thailand aiesec unand - News | Good News From Indonesia 2026

Berbekal Restu dan Prinsip ‘Siap Perang’: Kisah Dandi Mengabdi di Thailand Lewat AIESEC in UNAND

Berbekal Restu dan Prinsip ‘Siap Perang’: Kisah Dandi Mengabdi di Thailand Lewat AIESEC in UNAND
images info

Dandi in Thailand for Global Volunteer Aiesec


Ikuti GNFI di WhatsApp

Restu dan kepercayaan orang tua menjadi pijakan utama dalam setiap langkah besar seorang anak. Hal ini dirasakan betul oleh orang tua Dandi saat akhirnya memantapkan hati melepas putra mereka untuk mengikuti program Global Volunteer ke Thailand yang diselenggarakan oleh AIESEC in UNAND.

Meski diwarnai kekhawatiran awal terkait keamanan negara tujuan dan jaminan makanan halal, kejelasan visi sang anak serta rekam jejak organisasi mampu mengubah keraguan tersebut menjadi dukungan penuh.

Keputusan melepas anak merantau ke luar negeri dalam jangka waktu yang cukup lama bukanlah perkara mudah bagi setiap orang tua. Pasangan orang tua dari Dandi, seorang mahasiswa yang berpartisipasi dalam program pengabdian internasional Global Volunteer, mengakui sempat berada dalam posisi ragu dan khawatir.

Namun, komunikasi yang terbuka dari sang anak, pemahaman mendalam mengenai program AIESEC in UNAND, serta komitmen finansial keluarga yang dipegang teguh berhasil mengantarkan Dandi melangkah ke panggung internasional untuk menempa kemandirian dan wawasan global.

baca juga

Pada awal penyampaian niat Dandi untuk berangkat ke Thailand, orang tua Dandi sejatinya melihat hal tersebut sebagai peluang emas bagi perkembangan diri dan pengalaman baru sang anak. Meski demikian, naluri perlindungan sebagai orang tua tak bisa diabaikan begitu saja. Kekhawatiran terbesar yang langsung terlintas adalah aspek keselamatan dan kebutuhan mendasar selama di negeri orang.

"Awalnya kami mendukung keinginan Dandi karena kami melihat ini merupakan kesempatan yang baik untuk dirinya belajar dan mendapatkan pengalaman baru. Namun, tentu sebagai orang tua ada kekhawatiran. Pada saat itu kami sempat mendengar bahwa sedang ada konflik antara Thailand dan Kamboja, sehingga kami cukup khawatir dengan kondisi keamanan di sana," ungkap orang tua Dandi.

Selain dinamika keamanan kawasan, faktor pemenuhan kebutuhan pangan halal juga menjadi perhatian serius. Tinggal dalam kurun waktu yang relatif lama di negara dengan mayoritas penduduk non-Muslim menuntut kepastian bahwa Dandi tetap dapat menjalankan kewajiban agamanya dengan baik, khususnya dalam memilih konsumsi harian.

Ketidaktahuan awal mengenai organisasi penanggung jawab menjadi tantangan tersendiri. Sebelum Dandi mengajukan izin, orang tua Dandi mengaku belum pernah mendengar nama AIESEC maupun program Global Volunteer yang ditawarkan oleh organisasi kepemudaan di Universitas Andalas tersebut.

baca juga

Ibu Dandi menceritakan bahwa rasa skeptis sempat berada di angka 50:50. Di tengah maraknya informasi di dunia maya, beliau tidak tinggal diam dan memilih untuk melakukan penelusuran mandiri secara mendalam guna memastikan kredibilitas lembaga tersebut.

"Sebelumnya kami belum mengenal AIESEC maupun program Global Volunteer. Awalnya, terutama Ibu, masih merasa sekitar 50:50 dan masih ragu apakah program ini benar-benar aman dan terpercaya. Karena itu, Ibu berusaha mencari tahu lebih dalam mengenai AIESEC dan programnya melalui berbagai sumber di internet," jelasnya.

Proses verifikasi informasi tersebut membuahkan hasil positif. Setelah mendalami struktur organisasi, kejelasan mekanisme program, bentuk kegiatan di lapangan, hingga sistem perlindungan peserta, keraguan perlahan sirnah dan berubah menjadi rasa percaya.

Di balik riset mandiri orang tua, faktor penentu paling menyentuh hati yang akhirnya meluluhkan keraguan adalah kedewasaan Dandi dalam menyampaikan tujuannya. Dandi tidak hanya sekedar mengutarakan keinginan untuk menginjakkan kaki di luar negeri, tetapi juga mampu memaparkan peta jalan pembelajaran (learning roadmap) yang jelas selama mengikuti Global Volunteer.

baca juga

Dalam diskusi keluarga, Dandi secara lugas menjelaskan manfaat konkret yang akan diperoleh, kompetensi yang ingin diasah, serta kontribusi pengalaman tersebut bagi masa depannya.

"Yang paling membuat kami yakin adalah ketika Dandi menjelaskan sendiri mengenai program tersebut, terutama manfaat dan pengalaman yang akan dia dapatkan. Dandi bisa menjelaskan apa yang ingin dipelajari, pengalaman yang ingin dia dapatkan, serta bagaimana program tersebut dapat memberikan manfaat bagi perkembangan dirinya," ucap orang tua Dandi.

Melihat ikhtiar dan kesungguhan tersebut, orang tua menyadari bahwa keberangkatan Dandi didasari oleh motivasi belajar yang matang, bukan sekadar rekreasi semata. Hal inilah yang memicu keyakinan bulat untuk memberikan restu penuh.

Menjalani program internasional tentu berkonsekuensi pada kesiapan anggaran yang tidak sedikit. Namun, bagi keluarga Dandi, aspek finansial tidak menjadi ganjalan atau bahan perdebatan yang panjang selama hal tersebut mendukung positif sang anak.

baca juga

Orang tua Dandi memegang teguh sebuah falsafah hidup yang kuat dalam mengarungi komitmen pengasuhan. Mengutip filosofi atau pepatah yang akrab di tengah masyarakat Medan, mereka meyakini bahwa kesiapan tujuan harus sejalan dengan kesiapan sarana pendukung.

"Kalau memang itu sudah menjadi keinginan dan pilihan Dandi, kami sebagai orang tua berusaha untuk mendukung semampu kami. Jadi, tidak terlalu banyak perdebatan mengenai biaya. Ada prinsip yang kami pegang, kurang lebih seperti pepatah orang Medan, kalau sudah siap perang, ya harus siap dengan pelurunya,'" tegas mereka.

Bagi orang tua Dandi, maksud filosofi tersebut adalah ketika anak telah menetapkan tekad, niat, dan tujuan hidup yang jelas, tugas orang tua adalah mengupayakan seluruh amunisi dan fasilitas terbaik sesuai kemampuan agar sang anak dapat menyelesaikan perjuangannya dengan tuntas.

Kini, setelah kepulangan Dandi dari program Global Volunteer AIESEC in UNAND di Thailand, orang tua melihat partisipasi tersebut sebagai batu pijakan penting dalam proses pendewasaan sang putra. Keberanian keluar dari zona nyaman diyakini telah menempa karakter Dandi menjadi lebih matang.

baca juga

Orang tua Dandi menaruh harapan besar bahwa pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat internasional, melintasi sekat budaya, dan beradaptasi di lingkungan baru akan membentuk perspektif yang lebih inklusif dan luas.

"Kami berharap setelah mengikuti Global Volunteer, Dandi memiliki wawasan yang lebih luas, terutama karena dia mendapatkan pengalaman hidup dan berinteraksi langsung dengan orang-orang dari lingkungan serta budaya yang berbeda," harap orang tua Dandi.

Selain penguatan wawasan global, aspek keterampilan berbahasa dan karakter kepemimpinan juga menjadi poin utama yang diharapkan terus berkembang. Kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris secara aktif serta peningkatan rasa percaya diri diharapkan menjadi modal berharga bagi Dandi dalam meniti karier dan kehidupan di masa mendatang.

"Kami juga berharap kemampuan bahasa Inggrisnya semakin baik dan dia menjadi lebih percaya diri dalam berkomunikasi. Selain itu, kami ingin pengalaman ini membuat Dandi menjadi pribadi yang lebih mandiri, berani mencoba hal-hal baru, dan mampu membawa pengalaman yang dia dapatkan selama di Thailand untuk menjadi bekal bagi masa depannya," tutup mereka penuh optimistis.

baca juga

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AI
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.