bertemu dunia yang berbeda melihat dengan cara yang baru mahasiswa bisnis digital uns membawa digital marketing dan kreativitas ke ruang lintas budaya untuk sdg 8 - News | Good News From Indonesia 2026

Bertemu Dunia yang Berbeda, Melihat dengan Cara yang Baru: Mahasiswa Bisnis Digital UNS Membawa Digital Marketing dan Kreativitas ke Ruang Lintas Budaya untuk SDG 8

Bertemu Dunia yang Berbeda, Melihat dengan Cara yang Baru: Mahasiswa Bisnis Digital UNS Membawa Digital Marketing dan Kreativitas ke Ruang Lintas Budaya untuk SDG 8
images info

Pengalaman sukarelawanย Fildza di Vietnam (Sumber: Dokumentasi Pribadiย Fildza Aulia Ghaisany)


Ikuti GNFI di WhatsApp

Ada tempat-tempat yang awalnya kita datangi untuk melakukan sesuatu, tetapi justru mengajarkan kita lebih banyak tentang bagaimana menjalani hidup. Bagi Fildza Aulia Ghaisany, mahasiswa S1 Bisnis Digital Universitas Sebelas Maret (UNS), enam minggu di Bac Ha, Vietnam, menjadi salah satunya.

Melalui program AIESEC Global Volunteer bertajuk On the Map pada 12 Juliโ€“23 Agustus 2026, ia terlibat dalam pengembangan konten digital dan promosi ekowisata di Cแป“ Dแป Chแบฃi Herbal Retreat, Lao Cai, Vietnam. Pengalaman ini juga menjadi bagian dari rekognisi kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Saat Fildza dan peserta pertukaran lainnya tiba, Cแป“ Dแป Chแบฃi Herbal Retreat sedang membangun identitas mereknya. Berada jauh dari pusat kota populer, tempat ini memiliki potensi yang lebih luas daripada sekadar pemandangan indah.

Ada alam, budaya lokal, dan kehidupan masyarakat yang membuatnya berbeda. Tantangannya adalah menemukan cara untuk merangkai semua itu menjadi cerita yang menjangkau lebih banyak orang.

baca juga

Dengan KPI harian dan arahan dari manajer pemasaran yang berbasis di Hanoi, Fildza mendapat ruang untuk mengembangkan ide kreatif. Sejumlah konten mendapat respons positif dari audiens, menjadi dorongan untuk terus bereksperimen sembari memahami bahwa membangun merek membutuhkan waktu.

โ€œDulu, saya melihat digital marketing sebagai sesuatu yang terus bergerak mengikuti tren. Di sini, saya mulai memahami bahwa pemasaran bukan hanya soal mengikuti apa yang sedang ramai, tetapi menemukan apa yang membuat sebuah tempat berbeda, lalu menceritakannya dengan cara yang tepat," ujar Fildza.

Baginya, pekerjaan kreatif tidak harus selalu menghasilkan angka besar untuk menjadi berarti. Terkadang, cukup dengan membantu orang menemukan tempat yang sebelumnya tidak mereka kenal. Pengalaman ini memperlihatkan bagaimana pemasaran digital dapat membantu memperluas visibilitas usaha lokal dan membuka peluang ekonomi melalui pariwisata berkelanjutan, sejalan dengan SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.

Namun, yang akan terus Fildza rindukan dari Bac Ha bukan hanya pekerjaan atau tempatnya, melainkan orang-orang yang membuat hari-hari di sana terasa seperti rumah.

baca juga

Bekerja bersama masyarakat lokal, khususnya warga Hmong, menjadi pengalaman yang membekas. Tidak semua orang bisa berbahasa Inggris, sehingga Google Translate kerap menjadi jembatan percakapan. Meski begitu, perbedaan bahasa tidak menghalangi kedekatan mereka. Ada makanan yang dibagikan bersama, perhatian terhadap kebutuhan makan masing-masing, dan panggilan akrab seperti โ€œLinhโ€, โ€œLisaโ€, atau โ€œNidaโ€.

Ada satu momen yang membuatnya merasa bahwa sejauh apa pun ia pergi, ada bagian dari rumah yang selalu ikut dibawanya. Pada 17 Agustus, saat Indonesia merayakan hari kemerdekaannya, Fildza justru berada jauh dari tanah air. Namun, ketika makan malam bersama para staf, ia mendapat perayaan kecil melalui cheers bersama. โ€œHappy birthday Indonesia nha!โ€ seru Mr. Toan, manajer operasional di sana.

Sederhana, tetapi hangat. Di tengah lingkungan yang begitu berbeda, Fildza diingatkan bahwa mengenal dunia baru bukan berarti melupakan tempat ia berasal.

Sebelum berangkat, Fildza kerap meragukan kemampuannya sendiri dan mengurungkan niat mencoba hal-hal yang terasa di luar jangkauannya. Di Bac Ha, ia perlahan menyadari bahwa tidak semua hal harus dipahami sejak awal, dan keberanian tidak selalu berarti melangkah tanpa rasa takut.

baca juga

Rasa itu semakin terasa ketika ia pergi ke Hanoi untuk menghadiri Global Village. Di sana, ia bertemu peserta pertukaran dari berbagai belahan dunia dan saling berbagi pengalaman volunteer.

โ€œLeave what feels safe, see how far your dreams can take you.โ€

Bagi Fildza, kalimat itu merangkum pelajaran yang dibawanya pulang, bahwa meninggalkan hal-hal yang terasa aman bukan berarti harus mengetahui tujuan akhirnya, melainkan memberi diri sendiri kesempatan untuk menemukan sesuatu yang belum pernah dibayangkan.

Fildza pulang dari Vietnam bukan dengan semua jawaban, melainkan dengan lebih banyak kemungkinan untuk dijelajahi. Bac Ha mengajarkannya tentang kehangatan yang tidak membutuhkan banyak kata, sementara Hanoi memperlihatkan betapa luasnya dunia ketika kita bersedia mengenal orang-orang yang berbeda.

baca juga

Mungkin, ada bagian dari hidup yang baru kita pahami maknanya setelah meninggalkannya. Ada hari-hari yang terasa biasa saat dijalani, tetapi kelak menjadi bagian yang paling ingin kita kunjungi kembali dalam ingatan. Bagi Fildza, Vietnam akan selalu menjadi pengingat untuk berani melangkah keluar dari hal-hal yang terasa aman, bukan karena ia tahu apa yang menunggu di depan, melainkan karena ia bersedia memberi hidup kesempatan untuk menunjukkannya.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AI
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

๐Ÿšซ AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.