mahasiswa msp ipb university kaji tambak silvofishery dan mangrove di muara gembong dengan dukungan fincapes dan i can - News | Good News From Indonesia 2026

Mahasiswa MSP IPB University Kaji Tambak Silvofishery dan Mangrove di Muara Gembong dengan Dukungan FINCAPES dan I-CAN

Mahasiswa MSP IPB University Kaji Tambak Silvofishery dan Mangrove di Muara Gembong dengan Dukungan FINCAPES dan I-CAN
images info

Dokumentasi lapangan | Zahra Agista


Ikuti GNFI di WhatsApp

Melalui program "Kampus Berdampak" yang didukung oleh FINCAPES dan I-CAN, mahasiswa IPB University memadukan sains, konservasi mangrove, dan peningkatan kesejahteraan petambak di pesisir Bekasi.

Kawasan pesisir utara Jawa, khususnya di Desa Pantai Mekar, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, menyimpan dinamika sosial-ekologis yang kompleks.

Di satu sisi, daerah ini berhadapan langsung dengan tantangan abrasi, pasang surut air laut, serta sedimentasi dari aliran Sungai Citarum. Namun, di sisi lain, wilayah ini menjadi pusat penghidupan bagi masyarakat pembudidaya ikan melalui sistem pertambakan tradisional yang bersahabat dengan alam: silvofishery.

Melihat potensi dan tantangan tersebut, mahasiswa Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University hadir membawa solusi nyata.

baca juga

Sepanjang Agustus hingga Desember 2026, program Kampus Berdampak dimanfaatkan untuk mengkaji kondisi lingkungan tambak silvofishery dan struktur vegetasi mangrove secara komprehensif. Kegiatan kolaboratif ini turut didukung penuh oleh skema pendanaan strategis internasional dari FINCAPES (Financial Climate Partnership for Ecosystems) dan I-CAN.

Sains Bertemu Praktik Lapangan

Dokumentasi pribadi | Zahra Agista
info gambar

Dokumentasi Pribadi


Dalam pelaksanaan riset ini, para mahasiswa tidak hanya belajar teori di dalam kelas, melainkan terjun langsung melakukan pengukuran empiris di lapangan. Mereka melakukan pengamatan sistematis, pengambilan data primer, hingga wawancara mendalam dengan warga setempat.

Sejumlah parameter fisika dan kimia perairan yang menjadi kunci kesehatan tambak diuji secara teliti, mulai dari suhu air, salinitas, derajat keasaman (pH), kadar oksigen terlarut (Dissolved Oxygen / DO), luas tambak, kedalaman perairan hingga tingkat kecerahan perairan.

Selain itu, karakteristik habitat dan struktur vegetasi mangrove turut dibedah secara mendetail. Aspek seperti identifikasi jenis mangrove, pengukuran diameter batang, kerapatan vegetasi, hingga persentase tutupan kanopi dianalisis untuk melihat sejauh mana fungsi ekologis hutan mangrove berperan sebagai pelindung alami sekaligus penyuplai nutrisi bagi biota tambak—khususnya komoditas unggulan seperti kepiting.

baca juga

Kolaborasi Erat antara Akademisi, Mitra, dan Warga

Semangat kolaborasi lintas sektor ini mendapat apresiasi positif dari berbagai pihak, baik dari kalangan akademisi maupun warga lokal yang menjadi mitra utama di lapangan.

Dosen Departemen MSP IPB University, Prof. Dr. Ir. Sulistiono, M.Sc., menegaskan bahwa program ini dirancang sebagai wadah transformatif agar mahasiswa mampu menguji dan mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah secara langsung pada persoalan nyata di masyarakat. 

"Tujuan kegiatan ini untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan ilmu pengelolaan sumberdaya perairan," ujar Prof. Sulistiono.

Hal senada diungkapkan oleh perwakilan mahasiswa MSP IPB University, Zacky dan Zahra. Menurut mereka, pengalaman turun langsung ke lapangan memberikan pemahaman utuh mengenai keterkaitan ekosistem pesisir dengan roda ekonomi masyarakat.

baca juga

"Kegiatan ini meningkatkan pemahaman kami mengenai silvofishery kepiting dan hubungan ekosistem mangrove serta bagaimana hubungan itu berpengaruh kepada pendapatan masyarakatnya," ungkap Zacky dan Zahra.

Manfaat nyata dari program ini juga dirasakan langsung oleh masyarakat Desa Pantai Mekar. Soleh, selaku Ketua RT setempat, menyampaikan rasa terima kasih dan penilaian positif atas pendampingan yang diberikan oleh para mahasiswa IPB University.

"Kegiatan ini sangat membantu kami dalam meningkatkan pendapatan dan menjaga kelestarian mangrove," ucap Soleh dengan penuh antusias.

Harapan untuk Keberlanjutan Pesisir Nusantara

Kehadiran program Kampus Berdampak di Muara Gembong membuktikan bahwa sinergi antara perguruan tinggi, lembaga donor sepertiFINCAPES dan I-CAN, serta masyarakat pesisir mampu melahirkan solusi yang berkelanjutan.

baca juga

Melalui pendekatan riset berbasis pengabdian ini, kelestarian ekosistem mangrove dapat terus dijaga dari ancaman abrasi, sementara para petambak lokal tetap mendapatkan peningkatan hasil produktivitas dan kesejahteraan ekonomi. Harapannya, model pengelolaan pesisir terpadu di Muara Gembong ini dapat menjadi inspirasi dan percontohan bagi wilayah pesisir lainnya di Indonesia.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

ZA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.