Tokoh pendidikan asal Amerika, John Dewey pernah menyampaikan gagasan yang masih relevan sampai sekarang, “Education is not preparation for life: education is life itself”. Kutipan ini meneguhkan pendidikan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan itu sendiri.
Proses belajar sejatinya berlangsung sepanjang hidup seseorang dan teraktualisasi dalam beragam kesempatan. Namun, diperlukan proses refleksi agar pengalaman bisa bertransformasi menjadi pemahaman dan berimplikasi pada perubahan pola pikir dan perilaku.
Hal ini adalah esensi dari Experiential Learning, sebuah metode pembelajaran yang dihadirkan Beneran Indonesia dalam Roadshow Pendidikan Karakter yang digelar sejak Juni hingga September 2026.
Dalam rentang empat bulan, masing-masing dua program pembelajaran dihadirkan di lima provinsi berbeda, bertolak dari Banten, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, hingga berakhir di Sumatra Utara.
Menjangkau hingga 409 orang, dari pelajar sekolah menengah, mahasiswa, sampai anak binaan Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA), roadshow ini mengajak generasi muda untuk mengalami, merefleksikan, dan bertumbuh bersama, melalui program Beneran Race dan Beneran Bersinar. Tujuannya satu, membangun karakter lewat pengalaman pembelajaran yang bermakna dan dekat dengan keseharian.
Beneran Race: Berburu Jejak Sejarah, Asah Strategi, dan Berkolaborasi
Peserta Beneran Race Yogyakarta di sesi rally games | Dokumentasi Beneran Indonesia
Museum menjadi wahana edukatif sebagai titik awal pelaksanaan program. Sebagaimana diketahui bersama, ruang publik ini menyimpan khazanah intelektual dan kultural peradaban bangsa.
Sebagai informasi, data Kementerian Kebudayaan RI mencatat terdapat 516 museum yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia per April 2026, dengan sebaran yang didominasi di Pulau Jawa.
Dengan potensi ini, di Beneran Race, museum ditransformasi menjadi arena petualangan edukatif yang mempertemukan anak muda lintas sekolah dan universitas. Peserta yang awalnya tidak saling mengenal, ditantang untuk menyusun strategi dan menjelajahi lorong museum untuk selesaikan misi kelompok.

Suasana ice breaking di Beneran Race | Dokumentasi Beneran Indonesia
Program ini mengintegrasikan eksplorasi langsung dengan pembelajaran berbasis aplikasi Pusakawan. Perpaduan ini menghadirkan cara belajar yang relevan dengan karakter generasi muda tanpa kehilangan esensi pembelajaran sosial.
Setiap museum membawa ceritanya sendiri. Di Malang misalnya, petualangan membawa peserta lebih dekat dengan budaya lokal melalui kesempatan memainkan gamelan tradisional di Museum Ganesya (8/8/2026). Kehadiran Walikota Malang, Wahyu Hidayat turut mengukuhkan dukungan pemerintah daerah terhadap kegiatan edukatif ini.

Walikota Malang, Wahyu Hidayat sampaikan kata sambutan | Dokumentasi Beneran Indonesia
Lain lagi di Yogyakarta, peserta ditantang memecahkan sandi morse di Museum Sandi dan Balai Bahasa (1/8/2026). Sementara anak muda Bandung diajak menyingkap perjalanan kota di Museum Sejarah Kota Bandung (4/7/2026).
Antusiasme ini berlanjut ke Medan, anak muda disana dibawa menyusuri warisan budaya dan sejarah di Museum Negeri Sumatera Utara, yang turut dimeriahkan oleh kehadiran Co-Founder Beneran Indonesia, Angsoka Paundralingga dan Avia Destimianti (12/9/2026).
Respon peserta turut mewarnai kegiatan ini. Salah satu peserta di Yogyakarta, Belva, membagikan kesannya. “Aku sangat seneng kalo temen-temen bisa belajar sejarah dengan cara yang sangat menyenangkan karena kita kan kalo di bangku sekolah kan bosen ya. Aku pribadi sangat berterima kasih dengan Beni karena sudah mengadakan kegiatan yang menurutku sangat kreatif untuk belajar dan temen-temen jadi tau”, ujarnya.
Puncak dari Beneran Race bukan tentang kompetisi, tetapi tentang pertemanan baru, pemahaman mengenai identitas kota dan peradaban bangsa, serta kesadaran bahwa mereka adalah pewaris sejarah yang berkontribusi menghidupkan nilai perjuangan dan kearifan lokal setempat.
Beneran Bersinar: Harapan di Balik Tembok LPKA

Anak binaan LPKA ikuti Beneran Bersinar | Dokumentasi Beneran Indonesia
Di balik tembok LPKA, kehidupan masih berlanjut. Ada masa depan yang perlu diperjuangkan. LPKA berperan penting untuk memastikan para anak binaan memiliki hak yang sama untuk belajar dan mengembangkan diri.
Beneran Bersinar berupaya mewujudkan pembelajaran inklusif yang merangkul kalangan rentan, juga sarana microteaching bagi petugas LPKA dalam penguatan kapasitas fasilitasi untuk implementasi modul pendidikan karakter secara mandiri.
Lewat rangkaian roadshow pendidikan ini, pembelajaran dihadirkan di lima LPKA berbeda. Diawali dengan pertemuan bersama adik binaan LPKA Kelas I Tangerang (17/6/26). Acara ini mengusung nilai menghormati sesama dan tangguh hadapi tantangan, kegiatan ini menjadi ruang bagi peserta untuk mengenali kekuatan diri, juga membangun relasi yang lebih positif dengan sekitar.

Aktivitas susun cerita bergambar di LPKA Kelas II Bandung | Dokumentasi Beneran Indonesia
Kemudian program ini menyapa anak binaan LPKA Kelas II Bandung (6/7/26) dengan memperkenalkan konsep tanggung jawab serta kemampuan mengambil keputusan secara bijaksana. Berlanjut ke LPKA Kelas II Yogyakarta (3/8/26) yang turut mendapat sambutan hangat dari anak binaan.
Di sisi timur Pulau Jawa, program ini digelar di LPKA Kelas I Blitar (10/8/26). Perjalanan ditutup di LPKA Kelas I Medan yang berfokus pada nilai tanggung jawab dan global citizenship (14/9/26).
Kegiatan ini dilengkapi pengukuran perubahan tingkat pemahaman peserta serta pendampingan fasilitator kelompok yang memastikan setiap pertemuan menjadi ruang belajar yang bermakna dan berorientasi pada perkembangan peserta.

Anak binaan sampaikan pendapatnya | Dokumentasi Beneran Indonesia
Inisiatif ini hadir dengan keyakinan bahwa pendidikan yang bersandar pada pendekatan empatik dan partisipatif dapat membuka jalan bagi perubahan. Anak binaan dilibatkan secara aktif dalam proses belajar, refleksi, dan aplikasi dalam keseharian.
Suara mereka menjadi bagian penting dalam program ini, sebagaimana tercermin dalam testimoni mereka.
“Datang lagi lain waktu karena masih banyak kawan-kawan yang ingin ikut belajar”, ujar salah satu anak binaan di LPKA Medan.
‘’(Saya) mendapat tambahan ilmu dan pengalaman. Terima kasih karena telah membimbing dengan lembut, dan doain saya agar cepat pulang,” ungkap salah satu anak binaan LPKA Kelas II Yogyakarta.
"Big thanks buat kaka-kakanya karena masi peduli dan mau datang ke LPKA ini. Ternyata ada yang peduli dengan orang-orang kek kita ini", ungkap peserta LPKA Kelas II Yogyakarta.
Masa lalu adalah bagian dari perjalanan, bukan penentu masa depan. Akses pendidikan karakter dan pendampingan berkelanjutan menjadi elemen penting dalam mendukung reintegrasi sosial yang konstruktif sekaligus upaya memutus rantai kekerasan.
Komunitas Sahabat Beni: Ekosistem Kerelawanan Muda

First gathering Komunitas Sabi Medan | Dokumentasi Beneran Indonesia
Roadshow di berbagai kota juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan Komunitas Sahabat Beni (Sabi), wadah kerelawanan anak muda daerah yang diinisiasi Beneran Indonesia. Karena setiap daerah menyimpan potensi generasi muda yang dapat menjadi penggerak perubahan bagi lingkungannya.
Di sini mereka diberi ruang untuk saling terhubung, melatih kepemimpinan dan tanggung jawab, serta jalankan aksi kolaboratif.
Di penghujung 2026, Komunitas Sahabat Beni telah resmi hadir di lima wilayah. Capaian ini jadi langkah konkret untuk memperluas upaya pemberdayaan generasi muda Indonesia.


