AIESEC in UIN Jakarta kembali menghadirkan pengalaman cultural exchange melalui kegiatan Palbatuโs Journey pada Kamis, 13 Agustus 2026. Aktivitas ini mempertemukanย Exchange Participants (EPs) dan Local Volunteers (LVs) dalam rangkaian aktivitas yang memperkenalkan batik sebagai salah satu bagian dari identitas budaya Indonesia sekaligus membuka ruang pertukaran cerita mengenai warisan budaya dari berbagai latar belakang.
Rangkaian dimulai dengan registrasi peserta, dilanjutkan pembukaan oleh Master of Ceremony (MC), penjelasan agenda, check-in, serta roll dance. Setelah sambutan dari perwakilan AIESEC in UIN Jakarta, peserta memasuki sesi utama yang secara bertahap membawa mereka mengenal batik, mulai dari sejarah hingga pengalaman membuatnya secara langsung.
Kegiatan dibuka melalui โBatik? Letโs Talk About It!โ, sebuah sesi ringan yang mengajak peserta berbagi pengalaman mengenai batik. Peserta diajak menjawab pertanyaan sederhana seputar seberapa familiar mereka dengan batik, kapan biasanya mengenakan batik, hingga motif yang paling sering mereka lihat. Percakapan tersebut menjadi pengantar sebelum peserta mempelajari batik secara lebih mendalam.
Selanjutnya, peserta mengikuti sesi โThreads of Identity: Discovering Indonesian Batikโ. Dalam sesi ini, peserta diperkenalkan pada pengertian batik, perjalanan sejarahnya, keberagaman batik Indonesia, makna di balik berbagai motif, serta peran batik dalam kehidupan sehari-hari sebagai bagian dari identitas budaya.
Pembahasan juga diarahkan pada masa depan batik dan peran generasi muda dalam menjaga keberlangsungannya.
Peserta diajak melihat bahwa pelestarian budaya tidak hanya berkaitan dengan mempertahankan tradisi, tetapi juga bagaimana warisan tersebut dapat terus dikenal dan memiliki relevansi di tengah perkembangan zaman, termasuk melalui kaitannya denganย sustainable tourism.
Setelah memperoleh pemahaman mengenai batik, peserta memiliki kesempatan untuk memperdalam rasa ingin tahu melalui โCurious Cornerโ.
Sesi tanya jawab ini memberikan ruang bagi peserta untuk menyampaikan pertanyaan mengenai materi yang telah diberikan sebelum mereka mencoba proses membatik secara langsung.
Pengalaman tersebut kemudian diwujudkan melalui sesi โFrom Culture to Creationโ. Peserta mendapatkan perlengkapan membatik dan mengikuti demonstrasi teknik dasar sebelum mulai membuat karya mereka sendiri. Selama kurang lebih 45 menit, EPs dan LVs mencoba menuangkan kreativitas mereka ke atas kain dengan pendampingan dari speaker dan panitia.
Praktik tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan peserta karena mereka tidak hanya memperoleh informasi mengenai batik, tetapi juga merasakan secara langsung proses di balik sebuah karya.
Melalui pengalaman tersebut, peserta dapat memahami bahwa sebuah kain batik membutuhkan ketelitian, kreativitas, dan kesabaran dalam proses pembuatannya.
Setelah praktik selesai, peserta mengikuti โStories Behind the Strokesโ, sesi refleksi yang mengajak mereka berbagi pengalaman selama membatik. Peserta membahas bagian yang dianggap paling sulit maupun menyenangkan, insight baru yang diperoleh setelah mencoba membatik, serta motif yang menjadi favorit mereka.
Menariknya, refleksi tersebut juga membuka ruang cultural exchange. Peserta diajak membandingkan batik dengan warisan budaya dari daerah atau negara masing-masing, seperti kain tenun, ikat, songket, maupun bentuk kerajinan tradisional lainnya.
Dengan demikian, batik tidak hanya diperkenalkan sebagai budaya Indonesia, tetapi juga menjadi titik temu untuk saling mengenal identitas budaya satu sama lain.
Setelah waktu istirahat, perjalanan berlanjut melalui โWalking Through Batik Heritageโ di Rumah Batik Palbatu. Peserta mengikuti tur bersama pemandu untuk melihat berbagai koleksi batik dan mendengarkan cerita di balik motif-motif yang diperkenalkan.
Peserta juga diberikan kesempatan untuk mengeksplorasi koleksi secara lebih bebas, mengambil foto, mengajukan pertanyaan, serta menentukan motif yang paling menarik perhatian mereka.
Interaksi kembali dibangun melalui permainan โTwo Truths One Lie: Truth, Twist & Traditionโ. Dalam permainan ini, peserta yang berasal dari latar belakang berbeda bekerja dalam kelompok campuran EP dan LV untuk menebak berbagai fakta budaya.
Selain menciptakan suasana yang menyenangkan, permainan tersebut menjadi cara lain bagi peserta untuk memperoleh pengetahuan budaya secara interaktif.
Rangkaian kegiatan kemudian diarahkan pada โYour Turn to Make an Impactโ, yang memberikan penjelasan mengenai campaign dan call to action (CTA) yang perlu dilakukan peserta setelah kegiatan.
Peserta memperoleh informasi mengenaiย Campaign CXIR serta Campaign Foto Promosi sebagai bentuk tindak lanjut dari pengalaman yang telah mereka dapatkan.
Sebelum kegiatan berakhir, peserta mengikuti โBeyond Batik: Connections That Lastโ. Dalam suasana yang lebih santai, seluruh peserta berkumpul dan berbagi impresi serta perasaan selama mengikuti rangkaian kegiatan. Sesi ini menjadi penutup yang memperkuat hubungan antara EPs, LVs, dan OCs setelah menjalani pengalaman budaya bersama.

โAwalnya saya hanya tahu batik sebagai salah satu pakaian tradisional Indonesia. Setelah mencoba membuatnya sendiri dan mendengar cerita tentang motifnya, saya jadi memahami bahwa batik punya banyak makna dan proses di baliknya,โ ujar Aruzha, salah satu peserta.
Pengalaman serupa juga dirasakan peserta lainnya yang melihat adanya kesamaan antara batik dan warisan budaya dari tempat asal mereka.
โBagian yang paling menarik bagi saya adalah ketika kami membandingkan batik dengan budaya dari daerah atau negara masing-masing. Ternyata setiap tempat punya cara sendiri untuk menjaga identitasnya melalui kain dan tradisi,โ ungkap Ameera.
Melalui Palbatuโs Journey, AIESEC in UIN Jakarta menghadirkan pengalaman GlobalVolunteer yang menggabungkan pembelajaran budaya, praktik langsung, serta pertukaran perspektif.
Kegiatan ini diharapkan dapat membantu EPs mengenal Indonesia secara lebih dekat sekaligus membuka kesempatan bagi seluruh peserta untuk memahami bahwa keberagaman budaya dapat menjadi ruang untuk saling belajar, terhubung, dan membangun apresiasi terhadap warisan budaya masing-masing.


