Kawan GNFI, siapa sangka limbah dapur yang biasa dibuang begitu saja ternyata dapat bermanfaat dan disulap menjadi pupuk yang menyuburkan tanaman? Sebagai bagian dari program kerja sosial kemasyarakatan, Emmanuela Destiana Chrisanti, mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro, yang tergabung dalam Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Undip 2026, menginisiasi program kerja "Pemanfaatan Limbah Dapur menjadi Pupuk Organik Cair (POC) sebagai Upaya Mewujudkan Rumah Tangga Ramah Lingkungan dan Mendukung Pertanian Berkelanjutan" di Desa Banyurip, Kecamatan Sambungmacan, Kabupaten Sragen.
Program ini digagas sebagai respons atas potensi limbah dapur rumah tangga yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Pada kenyataannya, limbah dapur tersebut dapat diolah menjadi Pupuk OrganiK Cair (POC) yang bermanfaat bagi pertanian dan tanaman. Melalui prorgam ini, Emmanuela berupaya mendorong terciptanya kebiasaan rumah tangga yang lebih ramah lingkungan sekaligus mendukung praktik pertanian berkelanjutan di tingkat desa.
"Limbah dapur seperti sisa sayuran atau buah sebenarnya masih punya nilai guna jika diolah dengan benar. Melalui Edukasi POC, kami ingin masyarakat melihat bahwa mengelola sampah rumah tangga itu bukan beban, tetapi peluang baik untuk lingkungan maupun untuk pertanian mereka sendiri," ujar Emmanuela.
Leaflet Edukatif sebagai Media Penguatan Peran Multipihak
Sebagai output utama dari program ini, Emmanuela menyusun leaflet edukatif yang memuat materi mengenai pembagian peran antara masyarakat, pemerintah desa, dan kelembagaan masyarakat desa dalam mendukung keberlanjutan program pengolahan limbah dapur menjadi POC. Dalam leaflet tersebut, masyarakat diposisikan sebagai pelau utama yang berperan dalam pengumpulan limbah dapur serta produksi POC secara mandiri di lingkungan rumah tangga masing-masing.
Sementara itu, pemerintah desa digambarkan memiliki peran sebagai fasilitator yang mendukung melalui kebijakan serta penyediaan sarana yang dibutuhkan, dan kelembagaan desa seperti PKK dan Kelompok Wanita Tani (KWT) berperan sebagai penggerak sekaligus pendamping kegiatan di tingkat masyarakat. Pembagian peran ini disusun agar program pengolahan POC tidak berhenti sebagai kegiatan edukasi sesaat, melainkan dapat berjalan secara berkelanjutan dengan dukungan seluruh pihak terkait.
"Kami ingin menegaskan bahwa keberlanjutan program ini bukan hanya tanggung jawab masyarakat, tapi juga perlu sinergi dengan pemerintah desa dan lembaga desa seperti PKK dan KWT. Kalau ketiganya berjalan bersama, program POC ini punya peluang besar untuk terus hidup meski KKN ini sudah berakhir," jelas Emmanuela.
Capaian dan Catatan untuk Keberlanjutan Program
Dari sisi capaian, materi mengenai peran masyarakat, pemerintah desa, dan kelembagaan masyarakat desa dalam prorgam pengelolaan limbah dapur menjadi POC berhasil disusun dan disampaikan kepada sasaran melalui leaflet edukatif tersebut. Namun demikian, Emmanuela juga mencatat adanya sejumlah hambatan dalam pelaksanaannya.

Penyampaian Materi Leaflet oleh Emmanuela
Penyampaian materi mengenai pembagian peran masing-masing pihak belum optimal karena waktu pelaksanaan kegiatan lebih banyak difokuskan pada pembahasan materi lain, sehingga penjelasan belum tersampaikan secara mendalam kepada sasaran.
"Ke depan, perlu ada penyampaian ulang atau edukasi lanjutan yang lebih intensif mengenai peran masyarakat, pemerintah desa, dan kelembagaan desa, baik melalui leaflet maupun forum pertemuan atau musyawarah desa. Dengan begitu, masing-masing pihak dapat memahami dan menjalankan perannya secara optimal demi keberlanjutan program pengolahan limbah dapur menjadi POC," tambah Emmanuela
Program ini menjadi salah satu wujud nyata kontribusi Emmanuela sebagai mahasiswa Ilmu Pemerintahan dalam mendorong praktik rumah tangga ramah lingkungan sekaligus memperkuat kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, dan kelembagaan desa demi pertanian yang berkelanjutan di Desa Banyurip.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


