Sektor pertanian hingga kini masih menjadi urat nadi utama perekonomian di pedesaan, tak terkecuali bagi warga Desa Pojokrejo, Kabupaten Jombang. Tahukah Kawan GNFI, di balik suburnya lahan persawahan di sana, para petani lokal sebenarnya kerap dihadapkan pada tantangan nyata yang memengaruhi produktivitas mereka?
Tantangan tersebut mulai dari tingginya biaya operasional, efisiensi penggunaan air irigasi, hingga makin terbatasnya tenaga kerja saat musim tanam tiba.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKNT Inovasi IPB University Kelompok Kabupaten Jombang 04 bergerak untuk menghadirkan solusi konkret melalui program unggulan bertajuk "Tani Digdaya".
Salah satu agenda utama dari program ini adalah memberikan edukasi dan aplikasi langsung mengenai penerapan teknologi Pertanian Modern berbasisĀ Precision Agriculture (PM-AAS).
Fokus utama yang diusung adalah penanganan efisiensi tanam melalui inovasi Tanam Benih Langsung (Tabela) serta pengelolaan air secara bijak dengan metode Alternate Wetting and Drying (AWD).
Langkah inovatif yang digagas para mahasiswa ini sejalan dengan upaya mendukung program strategis pemerintah dalam memacu akselerasi modernisasi pertanian nasional dari tingkat desa.
Rangkaian kegiatan Tani Digdaya tidak sekadar digelar di dalam ruangan, melainkan dilaksanakan secara bertahap dan interaktif langsung di titik kumpul petani, seperti Pos Tengah Sawah serta Rumah Sibel di Dusun Gongseng dan Dusun Ngerco.
Agenda ini dihadiri oleh jajaran Kelompok Tani Desa Pojokrejo, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL), hingga disaksikan langsung oleh Kepala Desa Pojokrejo.
Guna memberikan bukti fisik dan acuan praktis yang bisa langsung diterapkan, Kelompok Kabupaten Jombang 04 merancang dan merakit 1 unit alat Tabela sederhana.
Proses pembuatan alat ini tidak dilakukan sembarangan, melainkan di bawah bimbingan dan pendampingan intensif dari PPL Desa Pojokrejo, Nizarul Fauzi. Pendampingan ini memastikan bahwa rancangan alat sesuai dengan standar teknis agronomi dan benar-benar menjawab kebutuhan aktualĀ petani di lapangan.
Setelah proses perakitan rampung, unit alat Tabela tersebut langsung didemonstrasikan penggunaannya di lahan persawahan.
Tim mahasiswa bersama Nizarul Fauzi mempraktikkan secara langsung bagaimana alat ini mampu menabur benih padi secara presisi, rapi, dan jauh lebih cepat dibandingkan metode tanam konvensional.
Kehadiran alat ini ditujukan sebagai acuan percontohan bagi para petani di Desa Pojokrejo yang ingin mengadopsi atau merakit sendiri alat serupa dengan biaya terjangkau.
Selain mempraktikkan alat Tabela, mahasiswa KKNT IPB University juga membekali warga dengan materi komprehensif. Materi disampaikan secara interaktif menggunakan media PowerPoint serta pembagian leaflet panduan praktis yang memuat langkah-langkah penerapan teknologi tanam dan metode AWD.
Tak berhenti di situ, sebagai bentuk komitmen terhadap pertanian ramah lingkungan, kelompok ini juga menyerahkan hasil inovasi pestisida nabati berbahan dasar daun sirsak untuk mengendalikan hama tanaman.
Sesi edukasi kemudian dilengkapi dengan pemaparan mengenai pentingnya Asuransi Pertanian guna memberikan perlindungan finansial bagi petani dari risiko gagal panen akibat cuaca ekstrem maupun serangan hama.
Inisiatif terpadu ini mendapatkan respons yang sangat positif dari masyarakat dan anggota kelompok tani setempat. Para petani menyambut antusias keberadaan alat Tabela karena terbukti mampu memangkas waktu penanaman secara signifikan, menghemat penggunaan air, serta menguraikan masalah kelangkaan tenaga kerja tanam.
Koordinator Desa Kelompok Kabupaten Jombang 04, David Sutanzikhar, menyampaikan harapannya agar inovasi ini terus berlanjut.
"Kami sangat berterima kasih atas bimbingan Bapak Nizarul Fauzi selaku PPL Desa Pojokrejo. Melalui pembuatan 1 unit alat Tabela ini, kami ingin memberikan bukti fisik dan acuan nyata bagi Kawan-kawan petani bahwa teknologi pertanian modern tidak selalu rumit dan mahal. Kami berharap alat ini menjadi pemicu awal bagi petani Pojokrejo untuk mulai menerapkan metode Tabela secara mandiri," ungkap David.
Melalui sinergi erat antara mahasiswa, PPL, pemerintah desa, dan kelompok tani, program Tani Digdaya sukses menjadi pemantik awal terbentuknya ekosistem pertanian yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan di Kabupaten Jombang.
Nah, bagaimana menurut Kawan GNFI? Semoga inovasi sederhana ini dapat terus menginspirasi wilayah-wilayah pertanian lainnya di Indonesia!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


