Siapa nyana, benda sesederhana tas serut bisa mengantarkan ribuan orang mencetak rekor nasional?
Ya, itulah yang terjadi di Lapangan Gelora, Kampus IPB Dramaga, Bogor, pada 14 Agustus 2026. Sebanyak 4.300 mahasiswa baru IPB University angkatan 63 berhasil mencetak rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) lewat 74 formasi konfigurasi menggunakan tas serut.
Bukan tas serut biasa. Ribuan tas itu disusun sedemikian rupa hingga membentuk rangkaian ilustrasi raksasa, yang tentu saja hanya bisa dinikmati keindahannya secara utuh kalau dilihat dari atas.
MURI pun resmi mencatat pencapaian ini dengan nomor 12856-R.MURI/8/2026, untuk kategori konfigurasi formasi terbanyak di Indonesia dengan media tas jinjing oleh mahasiswa baru.
Angkatan yang menyandang nama "Mahadipta Nabaskara" ini pun langsung membuka lembar pertama kehidupan kampusnya dengan cara yang mengesankan.
Bukan Cuma soal Rekor tapi juga Nilai Inti
Rektor IPB University, Dr. Alim Setiawan Slamet, mengaku bangga. Tapi menurutnya, kebanggaan itu bukan semata karena rekor berhasil dipecahkan, melainkan melihat nilai-nilai IPB yang selama ini dianut, bisa diturunkan kepada mahasiswa baru.
"Saya mengucapkan selamat, tidak hanya karena sudah mencetak rekor, tetapi karena mereka bisa membuat karya yang sangat indah. Keberanian untuk berkreasi, ketekunan, ketangguhan, kedisiplinan, dan kolaborasi ternyata bisa melahirkan karya yang sangat hebat," ujar Dr Alim.
Nilai-nilai kreativitas itulah yang menurutnya jadi ini yang sesungguhnya dari kegiatan ini. Bukan sertifikat MURI-nya, tapi proses yang membentuk karakter ribuan mahasiswa baru sebelum mereka resmi memulai perkuliahan.
Persiapan Perlu Waktu yang Panjang untuk Menghasilkan Formasi Raksasa
Jelas, persiapan untuk merancang mozaik yang epik butuh waktu yang lama nan panjang. Apalagi melibatkan sekitar 4.300 mahasiswa baru. Ketua Masa Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB) 63, Alyssa Fidelia, mengungkap bahwa persiapannya sudah dimulai sejak Februari 2026, jauh sebelum para mahasiswa baru resmi terdaftar sebagai bagian dari kampus.
Panitia bahkan melalui diskusi panjang sebelum akhirnya memutuskan tas serut sebagai media formasi, lalu mengemas seluruh rangkaian acara dalam tema "Breaking News Rekor".
"Perjalanannya cukup panjang, tetapi hasilnya sangat memuaskan. Kami ingin mengajak Sobat Dipta mengingat kembali perjalanan IPB dengan berbagai inovasi yang ada," kata Alyssa.
"Sobat Dipta" sendiri adalah sapaan akrab untuk mahasiswa baru angkatan 63. Pada hari-H, mereka mengikuti simulasi sejak pagi buta sebelum akhirnya formasi resmi dijalankan dan dinilai langsung oleh tim MURI.
Kenapa Harus Tas Serut?
Ini yang menarik. Dari sekian banyak pilihan media formasi massal, mengapa IPB memilih tas serut?
Senior Manager MURI Indonesia, Tryono, punya jawabannya. Menurutnya, tas jinjing dipilih bukan tanpa alasan. Benda ini bisa dipakai lagi, sehingga tidak berakhir jadi sampah begitu acara selesai.
Oleh karena itu, papermob atau pembuatan mozaik menggunakan kertas warna dinilai sudah usang. Sebab, setelah difoto, benda-benda itu biasanya langsung dibuang. Dengan tas serut, ribuan mahasiswa bisa membawa pulang kenang-kenangan yang bisa mereka pakai lagi untuk kuliah sehari-hari.
Langkah kecil ini sejalan dengan semangat keberlanjutan yang makin sering digaungkan kampus-kampus besar, termasuk IPB yang memang dikenal lewat riset-riset di bidang pertanian dan lingkungan.
Tryono juga menyoroti keunikan IPB dibanding kampus lain. Menurutnya, tak banyak kampus yang menjadikan pemecahan rekor MURI sebagai bagian resmi dari rangkaian penyambutan mahasiswa baru.
"Walaupun memiliki latar belakang dan cita-cita yang berbeda, tanpa kolaborasi kita akan sulit untuk maju. Kegiatan ini menunjukkan bahwa dengan berkolaborasi, kita bisa menghasilkan sebuah karya yang luar biasa," ujarnya.
Bagi Alyssa, semangat yang ditunjukkan Sobat Dipta sejak simulasi pagi hingga pelaksanaan rekor jangan sampai menguap begitu saja. Ia berharap nilai kedisiplinan dan kekompakan itu terus terjaga sepanjang mereka menjalani kehidupan akademik di IPB University.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


