Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IPB University berkolaborasi dengan KKNM Universitas Subang menyelenggarakan Pelatihan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) bagi tenaga wisata Desa Cibeusi pada Kamis (30/7/2026). Kegiatan yang berlangsung di Aula Pasir Ipis, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Jawa Barat, ini menjadi salah satu program kerja kolaboratif kedua perguruan tinggi dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia di desa wisata.
Pelatihan tersebut diikuti oleh para pengelola dan pekerja destinasi wisata di Desa Cibeusi. Tujuannya adalah meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapsiagaan tenaga wisata dalam memberikan pertolongan pertama ketika terjadi kecelakaan maupun kondisi kegawatdaruratan sebelum korban memperoleh penanganan medis lebih lanjut.
Desa Cibeusi merupakan salah satu desa wisata di Kabupaten Subang yang memiliki beragam destinasi wisata alam dan menjadi tujuan kunjungan wisatawan dari berbagai daerah. Aktivitas wisata yang cukup tinggi membuat potensi terjadinya kecelakaan atau kondisi darurat tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, kemampuan memberikan pertolongan pertama menjadi kompetensi penting yang perlu dimiliki oleh setiap tenaga wisata agar penanganan awal dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan aman.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, mahasiswa KKNT IPB University bersama KKNM Universitas Subang menggandeng Puskesmas Palasari sebagai mitra dalam penyelenggaraan pelatihan. Kegiatan dirancang tidak hanya melalui penyampaian materi secara teoritis, tetapi juga dipadukan dengan praktik langsung dan simulasi berbagai kondisi darurat yang berpotensi terjadi di kawasan wisata. Pendekatan ini diharapkan mampu membantu peserta memahami sekaligus menguasai teknik pertolongan pertama sesuai prosedur yang benar.
Ketua BUMDes Desa Cibeusi menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan kebutuhan nyata bagi para tenaga wisata. Menurutnya, pernah terjadi kasus penanganan korban yang kurang tepat di salah satu lokasi wisata sehingga menjadi pelajaran penting bagi seluruh pengelola destinasi.
"Desa Cibeusi itu desa wisata, terdapat tujuh tempat wisata yang ada di sini. Kemarin ada kejadian orang pingsan, tapi penanganannya salah, malah langsung dibawa motor. Padahal jalurnya curam, saya takut malah jadi tambah parah bagi korban," ujarnya.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa penanganan pertama yang kurang tepat justru dapat memperburuk kondisi korban. Melalui pelatihan ini, diharapkan setiap tenaga wisata memahami langkah-langkah yang harus dilakukan sebelum korban dirujuk ke fasilitas kesehatan.
Pelatihan menghadirkan H. Budiyana Taufik, S.Kep., Ners., MAP dari Puskesmas Palasari sebagai narasumber utama. Dalam sesi penyampaian materi, peserta memperoleh penjelasan mengenai berbagai kondisi kegawatdaruratan yang umum dijumpai, seperti henti napas, serangan asma, pingsan, patah tulang, luka ringan maupun luka berat, perdarahan, gigitan hewan, hingga hipotermia. Setiap materi disampaikan secara sistematis disertai contoh penanganan yang mudah dipahami sehingga peserta dapat mengetahui tindakan yang tepat pada setiap kondisi.
Tidak hanya menerima materi di dalam ruangan, peserta juga mengikuti simulasi penanganan korban secara langsung. Dalam sesi ini, peserta mempraktikkan berbagai teknik pertolongan pertama sesuai dengan skenario yang disesuaikan dengan kondisi di kawasan wisata. Mulai dari cara melakukan penilaian awal terhadap korban, menjaga keamanan lokasi kejadian, hingga memberikan tindakan pertolongan pertama sebelum bantuan medis datang.
Metode pembelajaran yang mengombinasikan teori dan praktik membuat suasana pelatihan berlangsung interaktif. Peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan dari narasumber, tetapi juga aktif mengajukan pertanyaan, berdiskusi, serta mencoba langsung setiap teknik yang telah diajarkan. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan diri peserta ketika menghadapi kondisi darurat di lapangan.

Kepala Puskesmas Palasari berharap seluruh peserta dapat menerapkan ilmu yang telah diperoleh dalam aktivitas sehari-hari di kawasan wisata sehingga kejadian salah penanganan tidak terulang kembali.
"Harapan saya setelah adanya pelatihan ini, para tenaga kerja di daerah wisata bisa menerapkan ilmu-ilmu yang sudah diajarkan, sehingga tidak akan terjadi salah penanganan bagi korban kecelakaan di tempat wisata," ujarnya.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Kepala Desa Cibeusi, Ketua BUMDes beserta jajaran, serta para pegawai destinasi wisata di Desa Cibeusi. Rangkaian acara diawali dengan pelaksanaan pre-test untuk mengukur pengetahuan awal peserta, dilanjutkan dengan penyampaian materi, simulasi penanganan korban, diskusi interaktif, hingga post-test sebagai bentuk evaluasi terhadap pemahaman peserta setelah mengikuti pelatihan.
Melalui evaluasi tersebut, panitia berharap dapat mengetahui sejauh mana peningkatan pemahaman peserta sekaligus menjadi bahan perbaikan untuk kegiatan serupa di masa mendatang. Antusiasme peserta selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan menunjukkan tingginya kesadaran tenaga wisata akan pentingnya kemampuan pertolongan pertama sebagai bagian dari pelayanan kepada wisatawan.
Melalui kolaborasi antara mahasiswa KKNT IPB University, KKNM Universitas Subang, dan Puskesmas Palasari, pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun budaya keselamatan di kawasan wisata Desa Cibeusi. Kemampuan memberikan pertolongan pertama tidak hanya menjadi tambahan pengetahuan, tetapi juga menjadi keterampilan yang dapat diterapkan secara nyata ketika menghadapi situasi darurat.
Ke depan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor pariwisata diharapkan mampu mendukung terwujudnya Desa Cibeusi sebagai destinasi wisata yang mengutamakan keselamatan, keamanan, dan kenyamanan. Dengan tenaga wisata yang lebih sigap dan terampil dalam memberikan respons awal terhadap kecelakaan, wisatawan pun dapat memperoleh rasa aman selama berkunjung, sekaligus meningkatkan citra positif Desa Cibeusi sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Kabupaten Subang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


