Tim dosen Universitas Negeri Malang (UM) mengembangkan sebuah model tata kelola technopark yang mengintegrasikan Teaching Factory, prinsip pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), dan kolaborasi enam pemangku kepentingan atau Hexa Helix, untuk membantu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) berstatus BLUD mengoptimalkan potensi pendapatan mereka di luar iuran bulanan siswa.
Penelitian yang dipimpin oleh Robby Wijaya, S.Pd., M.Pd., bersama tim dari Fakultas Teknik UM ini lahir dari kenyataan bahwa status BLUD, meski memberi keleluasaan finansial kepada sekolah, belum banyak dimanfaatkan secara maksimal. Di Jawa Timur, misalnya, baru sekitar 20 dari total 2.110 SMK yang berhasil meraih status BLUD, dan sebagian besar sekolah yang sudah berstatus BLUD sekalipun masih sangat bergantung pada Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) sebagai sumber pendapatan utama.
"Banyak SMK sebenarnya punya potensi kompetensi yang bisa dikomersialkan, mulai dari jasa kuliner, otomotif, hingga produk kreatif. Tapi potensi itu sering berhenti di level unit produksi kecil karena belum ada tata kelola yang menghubungkan pembelajaran, produksi, pemasaran, dan pengelolaan keuangan dalam satu sistem yang utuh," ujar Robby.
Model yang dikembangkan tim ini terdiri dari tiga lapisan yang saling terhubung. Lapisan pertama adalah Teaching Factory sebagai fondasi pembelajaran berbasis produksi dan jasa. Lapisan kedua adalah tata kelola technopark dan BLUD, yang mengintegrasikan lima komponen utama: tata kelola kelembagaan, pembelajaran dan produksi, pengelolaan sumber daya, pengembangan usaha, hingga pengelolaan keuangan BLUD. Lapisan ketiga adalah ekosistem kolaborasi Hexa Helix, yang melibatkan pemerintah, dunia usaha dan industri, akademisi, media, komunitas, serta masyarakat sebagai jejaring pendukung dari luar sekolah.
Model ini telah diuji melalui penelitian pengembangan yang melibatkan enam validator ahli serta uji coba terbatas di tiga SMK di Malang Raya, yaitu SMKN 2 Malang, SMKN 1 Singosari, dan SMKN 1 Kota Batu. Hasilnya, model ini dinyatakan valid oleh para ahli dengan skor 89,38 persen, dan sangat praktis serta diterima baik oleh pihak sekolah dengan skor 89,24 persen.
Meski demikian, tim peneliti menekankan bahwa hasil ini baru mengukur kelayakan dan kepraktisan model, bukan dampak finansial yang sesungguhnya. "Uji coba kami memastikan modelnya bisa dipahami dan diterapkan sekolah. Untuk melihat apakah model ini benar-benar meningkatkan pendapatan sekolah secara nyata, dibutuhkan penerapan jangka panjang yang akan menjadi agenda penelitian lanjutan kami," kata Robby.
Penelitian ini secara khusus dirancang untuk mendukung dua Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), yaitu SDG 4: Pendidikan Berkualitas dan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
Dari sisi SDG 4, model ini dirancang agar aktivitas komersial di sekolah tidak menggeser fungsi utama SMK sebagai lembaga pendidikan. Justru sebaliknya, penguatan tata kelola dan kemitraan diharapkan meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis produksi yang dijalani siswa, mulai dari standar kurikulum, penilaian, hingga mutu produk yang dihasilkan, sehingga kompetensi lulusan semakin relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Dari sisi SDG 8, model ini menyasar akar masalah yang selama ini banyak dikeluhkan: kesenjangan antara kurikulum SMK dan kebutuhan industri, yang berkontribusi pada tingginya angka pengangguran lulusan SMK dibanding jenjang pendidikan lain.
Dengan memperkuat kapasitas kewirausahaan siswa serta memperluas jejaring kemitraan dengan dunia usaha melalui skema Hexa Helix, model ini diharapkan membuka lebih banyak jalur bagi lulusan SMK menuju pekerjaan layak, baik sebagai tenaga kerja siap pakai maupun sebagai wirausahawan muda.
Tim peneliti berencana melanjutkan penelitian ini ke tahap diseminasi yang lebih luas ke SMK berstatus BLUD lain di Jawa Timur, sekaligus mengukur dampak jangka panjang model ini terhadap kinerja finansial sekolah. Hasil penelitian tahap pertama ini telah disusun menjadi artikel ilmiah yang tengah diajukan untuk publikasi di jurnal internasional terakreditasi.
Penelitian ini didanai oleh hibah penelitian internal (Non-APBN) UM skema Penelitian Dosen Baru tahun 2026.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


