"Jika Sungai Cisadane bisa berbicara, apa yang ingin ia sampaikan kepada kita?"
Pertanyaan sederhana itu membuka pengalaman belajar yang tidak biasa bagi anggota Forum Anak Kabupaten Tangerang (FAKTA). Sebelum diminta menulis puisi, mereka diajak membayangkan sungai sebagai bagian dari kehidupan yang memiliki suara, perasaan, bahkan harapan.
Mereka memandang Sungai Cisadane bukan lagi sekadar aliran air, melainkan urat nadi kehidupan. Sampah bukan lagi tempat pembuangan sampah atau limbah, melainkan luka kota yang harus disembuhkan bersama.
Dari metafora-metafora sederhana itu lahirlah puisi, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, dikemas menjadi flipbook digital, dan dipublikasikan sebagai kampanye lingkungan yang dapat diakses siapa saja.
Dari satu pertanyaan tersebut, peserta mulai menyadari bahwa cara manusia berbicara tentang alam turut memengaruhi cara manusia memperlakukannya.
Selama ini pendidikan lingkungan lebih sering diwujudkan melalui aksi nyata, seperti menanam pohon, membersihkan sungai, atau mengurangi sampah plastik. Semua itu tentu penting.
Namun, perubahan perilaku tidak selalu dimulai dari tindakan. Sering kali perubahan justru berawal dari cara berpikir. Kemudian, cara berpikir manusia dibentuk oleh bahasa yang digunakannya setiap hari.
Ketika hutan disebut sebagai paru-paru bumi, sungai sebagai urat nadi kehidupan, atau sampah sebagai luka kota, manusia tidak lagi memandang alam sebagai sekadar objek. Metafora mengubah hubungan itu menjadi lebih personal. Alam menjadi sesuatu yang dekat, bernilai, dan layak dijaga.
Berangkat dari gagasan tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat UNJ menyelenggarakan program "Pelatihan Kreasi Puisi Bilingual Berbasis Metafora Ekologis Bermedia Flipbook untuk Memperkuat Literasi, Kepedulian Lingkungan, dan Pencapaian SDG 4 bagi anggota Forum Anak Kabupaten Tangerang (FAKTA)".
Kegiatan ini adalah bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Tahun Pendanaan 2026. Proyek didanai oleh DPPM, Risbang, dan Kemdiktisaintek.
Program dilaksanakan secara bertahap, dari tanggal 20 Juni—4 Juli 2026 di Forum Anak Kabupaten Tangerang (FAKTA), Kecamatan Tigaraksa, Tangerang.
Tim pelaksana terdiri atas Nadhifa Indana Zulfa Rahman sebagai ketua, bersama Yosafat Barona Valentino, S.Pd., M.Hum. dan Ayu Puspa Nanda, M.Pd. sebagai anggota dosen, serta didukung oleh mahasiswa Elza Zulfa Nabila dan Sifa Awalunisa Al Mugni.
"Kami tidak ingin peserta hanya mengetahui bahwa lingkungan harus dijaga. Kami ingin mereka merasakan hubungan emosional dengan alam melalui bahasa. Ketika seseorang mulai menyebut sungai sebagai urat nadi kehidupan, ia tidak lagi melihat sungai sebagai saluran air biasa. Dari situlah kepedulian mulai tumbuh," ujar Nadhifa.
Rangkaian kegiatan diawali pada 20 Juni 2026 melalui lokakarya "Membaca Lingkungan dengan Metafora" yang dipandu oleh Nadhifa. Dalam sesi ini, peserta diajak mengamati persoalan lingkungan yang mereka jumpai di Kabupaten Tangerang.
Alih-alih hanya mendiskusikan fakta-fakta tersebut, peserta belajar menghubungkannya dengan pengalaman dan emosi mereka sendiri. Dari proses refleksi itu lahirlah berbagai metafora ekologis yang menjadi fondasi penulisan puisi. Metafora tidak lagi dipahami sekadar sebagai gaya bahasa, melainkan sebagai cara membangun kepedulian terhadap lingkungan.

Dokumentasi pribadi
Masih di hari yang sama, peserta mengikuti pelatihan penulisan puisi berbahasa Indonesia menggunakan metode akrostik dari Ayu Puspa Nanda. Setiap peserta memilih satu kata sebagai poros penciptaan puisi, kemudian mengembangkannya menjadi larik-larik yang memuat metafora ekologis.
Melalui proses ini, isu-isu lingkungan yang semula terasa abstrak berubah menjadi kisah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Hasil yang diharapkan bukan hanya puisi yang indah, tetapi juga kemampuan peserta mengolah pengalaman menjadi refleksi yang bermakna.
Sehari kemudian, pada 21 Juni 2026, dilaksanakan tahap pelatihan berikutnya, yaitu memperkenalkan konsep transcreation, penerjemahan kreatif puisi ke dalam bahasa Inggris oleh Yosafat Barona Valentino.
Peserta tidak sekadar memindahkan kata demi kata, melainkan belajar mempertahankan makna, rasa, dan kekuatan metafora ketika puisi dialihkan ke bahasa lain. Pendekatan ini memungkinkan pesan-pesan lingkungan yang lahir dari konteks lokal Indonesia dapat dipahami oleh pembaca internasional tanpa kehilangan identitas budayanya.
Dengan demikian, kemampuan berbahasa Inggris tidak hanya menjadi keterampilan akademik, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan kekayaan budaya dan kepedulian lingkungan Indonesia kepada dunia.
Dokumentasi pribadi
Pembelajaran tidak berhenti setelah lokakarya selesai. Pada 25 Juni 2026, tim melakukan pendampingan intensif terhadap karya peserta yang difasilitasi oleh Elza Zulfa Nabila dan Sifa Awalunisa Al Mugni.
Hasil pendampingan tersebut kemudian dipresentasikan dalam Gelar Karya pada 27 Juni 2026, dilanjutkan dengan evaluasi karya pada 28 Juni 2026.
Selanjutnya, peserta dibimbing mengunggah karya mereka ke dalam media digital pada 2 Juli 2026, sebelum website program diserahkan dan pelatihan penggunaannya diberikan kepada FAKTA pada 24 Juli 2026.
Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan penyerahan barang hibah untuk mendukung proses kreatif FAKTA serta penandatanganan Berita Acara Serah Terima sebagai langkah memastikan keberlanjutan program setelah masa pengabdian berakhir.
Melalui semua proses tersebut, karya peserta diharapkan tidak berhenti sebagai tugas pelatihan saja. Sebanyak 2 puisi karya anggota Forum Anak Kabupaten Tangerang kemudian dihimpun dalam antologi puisi metafora lingkungan dwibahasa berjudul A Human Appreciation Intertwines.
Flipbook puisi ini kemudian dirancang untuk dapat diakses oleh masyarakat melalui media digital dan dikembangkan bersama prototipe situs web sebagai ruang diseminasi berkelanjutan.
Dengan cara ini, puisi tidak hanya menjadi media ekspresi pribadi, tetapi juga berkembang menjadi media kampanye lingkungan yang dapat menjangkau masyarakat lebih luas.
Pendekatan lintas disiplin seperti ini menunjukkan bahwa sastra, linguistik, penerjemahan, dan teknologi digital dapat saling melengkapi dalam membangun kesadaran lingkungan.

Dokumentasi Pribadi
Generasi muda tidak hanya belajar menulis, tetapi juga belajar mengamati, merefleksikan, menerjemahkan, mendesain, dan menyebarluaskan gagasan mereka kepada masyarakat.
Kreativitas menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan kepedulian, sedangkan teknologi menjadi sarana memperluas dampaknya.
Di tengah tantangan perubahan iklim dan berbagai persoalan ekologis yang semakin kompleks, upaya menjaga lingkungan memerlukan lebih dari sekadar kampanye yang bersifat informatif. Ia membutuhkan cara-cara baru yang mampu menyentuh pikiran sekaligus perasaan.
Metafora membantu manusia melihat alam dari sudut pandang yang berbeda. Puisi memberi ruang bagi suara-suara muda untuk berbicara. Sementara media digital memastikan suara tersebut tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi terus bergema sebagai bagian dari gerakan literasi dan kampanye lingkungan.
Barangkali perubahan memang tidak selalu dimulai dari aksi yang besar. Terkadang, perubahan lahir dari satu kalimat sederhana yang mengubah cara kita memandang dunia.
Ketika sungai tidak lagi dianggap sekadar aliran air, melainkan urat nadi kehidupan, menjaga lingkungan bukan lagi sekadar kewajiban. Ia menjadi kesadaran yang tumbuh dari bahasa, berkembang melalui karya, dan menginspirasi tindakan nyata.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


