Sepanjang periode 2026 ini, industri hiburan tanah air mulai mendapat banyak sorotan, tidak hanya secara domestik, melainkan hingga dunia internasional. Dalam konteks berikut, industri animasi Indonesia berkembang pesat, menjadikan kemampuan dalam negeri mulai diperhitungkan oleh berbagai pihak.
Dilihat dari etimologinya, animasi berasal dari istilah Latin yang adalah animare, dengan artian yaitu hidup atau bernapas. Maka dari itu, animasi merupakan bentuk usaha menghidupkan atau memberikan kehidupan atau gerak pada suatu benda atau gambar yang tidak bernyawa.
Menurut informasi dari validnews.id (23/10/2024), animasi di Indonesia terbagi dalam tiga kategori: animasi yang diproduksi di Indonesia; animasi yang dikembangkan oleh orang Indonesia; animasi yang diproduksi secara lokal.
Adapun sejarah animasi modern tanah air dimulai pada 1955. Ketika itu, Presiden Soekarno yang juga dikenal sebagai pecinta seni, menyempatkan diri hadir ke Disneyland di Amerika Serikat dalam rangka kunjungan diplomatik.
Selama kunjungan, Soekarno bahkan dapat bertemu langsung dengan Walt Disney. Dengan nasionalisme yang tinggi, presiden waktu itu meminta seniman bernama Dukut Hendronoto atau yang akrab dipanggil Pak Ook untuk mempelajari teknik animasi di studio Disney.
Setelah tiga bulan “magang”, Pak Ook kembali ke Indonesia dan menciptakan animasi pendek berjudul Si Doel Selection yang memuat tentang kampanye pemilu pertama di tanah air.
Animasi ini disebut merupakan tonggak penting untuk perkembangan industri animasi modern Indonesia. Namun demikian, dokumentasi Si Doel Selection sulit dilacak sehingga autentikasi sejarahnya masih diperdebatkan.
Sehubungan dengan itu, brin.go.id (26/5/2026) mengemukakan industri animasi menjadi bagian penting dari ekonomi kreatif Indonesia yang punya potensi menggiurkan sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru.
“Berdasarkan riset terhadap 262 studio animasi dengan 3.448 tenaga kerja, nilai industri animasi Indonesia tercatat mencapai Rp798,15 miliar pada 2025 atau meningkat lebih dari 3,3 kali lipat dalam 10 tahun terakhir dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 12,86% per tahun,” demikian penjelasan dari Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya saat memberikan sambutan dalam acara peluncuran Indonesia Animation Report 2026.
Kawan GNFI dapat melihat secara konkret, bahwa geliat industri animasi nasional memiliki masa depan yang cerah.
Nah, kali ini Kawan akan berkenalan dengan salah satu studio anak bangsa yang sudah melanglang buana dalam berbagai proyek anime luar negeri kontemporer. Siapa lagi kalau bukan soal Studio Ubud?
Namanya Khas Bali, tapi Bukan Asli Sana
Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, PT. Kreasi Studio Ubud atau mayoritas mengenalnya sebagai Studio Ubud didirikan antara tahun 2015 atau 2016. Sejak awal, Lindra Hismanto selaku pendiri sekaligus CEO Studio Ubud telah menanamkan visi yang jelas: membangun studio animasi Indonesia yang bisa bersaing di ranah global, khususnya di industri anime Jepang.
Barangkali ketika mendengar Studio Ubud, khalayak ramai akan merasa bahwa studio ini berasal dan berkembang di Bali. Fakta uniknya, Studio Ubud justru beroperasi di Jakarta dan Solo (daerah Sukoharjo, Jawa Tengah).
Nama “Ubud” sendiri dipilih oleh pendirinya sebagai bentuk apresiasi pribadi terhadap tempat yang ia sukai, yang kini berubah menjadi identitas dari studio yang karyanya sudah dinikmati oleh jutaan penggemar anime di seluruh kawasan.
Ada pula yang menyebut pemilihan nama tersebut merupakan harapan agar studio ini senantiasa menggelorakan filosofi kreatif nan kental dari Ubud yang dipegang teguh oleh semua tim.
Sampai dengan saat ini, Studio Ubud diketahui memiliki kurang-lebih 100 animator internal yang bekerja penuh waktu. Mereka tidak mengandalkan tenaga outsourcing demi menjaga konsistensi kualitas. Fokus utama studio ini adalah animasi dua dimensi (2D) dengan spesialisasi pada:
- In-between drawing (mengisi detail gerakan antar-frame)
- Compositing
- Digital Painting
- Brushwork
- Photography assistance (penyempurnaan visual)
Supaya berjalan sesuai standar, Studio Ubud mengembangkan sistem kontrol mutu bernama SUITS. Lewat sistem itu, setiap tahap produksi dapat dipantau secara real-time, sehingga hasil akhirnya memenuhi ekspektasi mitra.
Selain itu, kemampuan komunikasi dalam bahasa Jepang dan Inggris juga menjadi nilai tambah dalam menjalin kerja sama lintas negara.
Melansir kompas.com (24/5/2025), Studio Ubud dikabarkan menandatangani perjanjian produksi jangka panjang dengan empat studio anime terkemuka asal Jepang.
Perjanjian tersebut ditandatangani di Tokyo oleh Lindra Hismanto sendiri, bersama perwakilan dari masing-masing studio pada Mei 2025.
Adapun empat studio tersebut adalah ENGI Co., Ltd., A-1 Pictures Inc., Nippon Animation Co., Ltd., serta Asahi Production Co., Ltd.
“Kami bersyukur atas kepercayaan yang diberikan oleh mitra Jepang kami. Perjanjian ini mencerminkan komitmen bersama kami terhadap standar produksi yang tinggi dan kolaborasi jangka panjang,” ungkapnya dalam siaran pers pada hari Jumat (23/5/2025).
Berbagai Judul Anime Hasil Kolaborasi
Mengetahui asal-usulnya ini, Studio Ubud bertransformasi menjadi salah satu studio animasi Indonesia yang terbilang aktif dalam dunia anime.
Kontribusi mereka tidak hanya terbatas pada serial televisi. Namun, juga menjangkau format teaser, mini visual, materi promosi untuk majalah, hingga desain untuk produk merchandise.
Portofolio studio ini sangat mengesankan, karena telah berkolaborasi menciptakan lebih dari 50 judul anime ternama, seperti One Piece, Bleach, Jujutsu Kaisen, Dragon Ball, Pokemon, Jojo’s Bizarre Adventure, hingga Kimetsu no Yaiba: Infinity Castle.
Yang teranyar, Studio Ubud terdeteksi ikut serta menggarap proyek anime berjudul Super no Ura de Yani Suu Futari, yang tayangan regulernya dimulai pada 9 Juli 2026.
Secara garis besar, anime ini memuat tentang romansa kedua tokoh utama dengan meminjam premis dunia kerja yang sangat dinamis.

Animator Studio Ubud tercantum di post-credit | Dokumentasi Pribadi
Dikisahkan karakter perempuan bernama Yamada yang bertugas sebagai kasir supermarket kerap berinteraksi dengan sosok lelaki bernama Sasaki yang bekerja di perusahaan yang bergerak dalam dunia bisnis dan investasi.
Biasanya, mereka mengobrol bersama ketika sedang berlibur atau rehat dari pekerjaan sambil merokok. Anime tersebut merupakan hasil kerja sama dengan Asahi Production dalam bentuk serial televisi.
Tantangan dan Prospek ke Depan
Selama bekerja, para animator tentu tidak luput dari segala macam tantangan yang ada. Tenggat yang ketat dengan perbedaan waktu yang signifikan lintas geografis, tekanan kerja yang tinggi, serta permintaan kualitas yang tanpa kompromi sudah bagaikan kriteria minimum dalam proses produksi anime. Hal tersebut dibutuhkan demi menghasilkan output yang maksimal dan memuaskan.
Maka dari itulah, keuletan dan dedikasi adalah modal penting bagi animator menciptakan setiap detail grafis yang tertuang.
Sekali lagi, Studio Ubud menunjukkan kepada dunia bahwa kepiawaian anak bangsa membuat animasi berstandar global sudah tidak boleh diremehkan lagi. Diharapkan suatu saat nanti, studio ini mampu memproduksi serial animenya sendiri dengan khas Nusantara.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


