ikut lestarikan tradisi mahasiswa kkn uny meriahkan upacara adat tuk si bedug di margodadi - News | Good News From Indonesia 2026

Ikut Lestarikan Tradisi, Mahasiswa KKN UNY Meriahkan Upacara Adat Tuk Si Bedug di Margodadi

Ikut Lestarikan Tradisi, Mahasiswa KKN UNY Meriahkan Upacara Adat Tuk Si Bedug di Margodadi
images info

Gunungan Kirab Tuk Si Bedug Margodadi Seyegan / Foto Oleh Memayu Tegalweru


Kawan GNFI, tahukah kamu bahwa di balik nama unik "Tuk Si Bedug" tersimpan kisah perjalanan Sunan Kalijaga menyebarkan Islam di tanah Jawa? Tradisi yang masih lestari hingga kini itu baru saja dirayakan warga Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman.

Perayaan tahun ini istimewa karena turut dimeriahkan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Yogyakarta yang ambil bagian dalam Upacara Adat Tuk Si Bedug 2026 pada Jumat (24/07). Kehadiran mahasiswa KKN menjadi bagian dari rangkaian tradisi tahunan yang diikuti warga dari 16 padukuhan di Margodadi ini, lengkap dengan kirab gunungan hasil bumi sebagai puncak acara.

Rebutan Gunungan Hasil Bumi Kirab Tuk Si Bedug

Naswa Refa Fauziah, salah satu mahasiswa KKN asal Bekasi, mengaku sangat antusias mengikuti tradisi Tuk Si Bedug untuk pertama kalinya secara langsung. Ia mengaku terkesan dengan kemeriahan dan keunikan kirab yang ditampilkan warga.

"Ternyata seru dan meriah banget, kayak lucu-lucu pakaiannya, terus pada unik-unik juga, ada yang dihias topinya, ada yang bawa keranjang sayur juga," katanya, sembari menyebut sosok prajurit pembuka kirab dan euforia warga saat memperebutkan hasil bumi dari gunungan sebagai momen paling berkesan.

baca juga

Mengenal Asal-Usul Tuk Si Bedug

Dukuh Tegalweru, Bondy Akbar Wibowo, menjelaskan bahwa tradisi Tuk Si Bedug bermula dari kisah perjalanan Sunan Kalijaga saat menyebarkan agama Islam di wilayah Margodadi. Sunan Kalijaga sempat kesulitan mencari air wudu untuk shalat Jumat, hingga akhirnya menancapkan tongkatnya ke tanah dan memunculkan mata air yang kemudian dikenal sebagai "Tuk Si Bedug".

"Air itu keluar, nah jadinya Tuk Si Bedug itu bisa dibuat untuk warga-warga Margodadi khususnya, bisa untuk wudhu, dan lain sebagainya. Pokoknya bermanfaat untuk warga," ujar Bondy.

Kisah tersebut berlanjut ke selatan, tempat Sunan Kalijaga singgah untuk membersihkan diri hingga rambut dan potongan kukunya terjatuh, atau dalam istilah Jawa disebut "nggregeli". Lokasi ini kini dikenal sebagai Dusun Grogol, yang menjadi lokasi petilasan Sunan Kalijaga sekaligus salah satu titik penting dalam rangkaian prosesi upacara adat setiap tahunnya. Mata air yang hingga kini masih dimanfaatkan warga tersebut menjadi latar sekaligus makna filosofis dari upacara adat yang terus dilestarikan lintas generasi ini.

Rangkaian Acara dan Kirab Gunungan

Rangkaian Tuk Si Bedug biasanya digelar setiap Jumat Pahing di bulan Maulud menurut kalender Jawa, dimulai dengan doa bersama, kenduri atau tumpengan, dan selawatan, sebelum gunungan hasil bumi warga diarak menuju lokasi mata air. Pada malam Jumat Pahing, sesepuh adat juga mengambil air dari Tuk Si Bedug menggunakan kendil untuk dibawa ke balai desa. Rangkaian acara dapat berlangsung hingga tiga hari, dengan puncaknya berupa kirab gunungan yang diiringi berbagai kesenian tradisional seperti macapat, wayang kulit, dan jathilan.

Kemeriahan tahun ini turut dirasakan oleh Rahma Hidayanti, Ibu Dukuh Tegalweru, yang menyoroti antusiasme warga, khususnya ibu-ibu, dalam mempersiapkan perlengkapan kirab secara swadaya.

"Alhamdulillah, untuk antusiasmenya, ibu-ibu Tegalweru seperti biasa sangat antusias. Dalam persiapannya pun mereka ingin mengeluarkan sesuatu yang totalitas," kata Rahma.

baca juga

Peran Mahasiswa KKN dalam Kegiatan Dusun

Bondy mengapresiasi kontribusi mahasiswa KKN UNY yang tersebar di beberapa padukuhan Margodadi, termasuk Tegalweru, dalam berbagai kegiatan dusun selama masa penugasan mereka, termasuk dalam menyukseskan upacara adat tahun ini.

"Selama saya menjabat, mahasiswa KKN itu membantu sekali kegiatan-kegiatan dusun. Ternyata pas ada KKN UNY ini ada upacara adat sekalian, jadi itu untuk melestarikan budaya," ujarnya.

Selain sarat makna spiritual, kirab budaya Tuk Si Bedug juga dikenal sebagai daya tarik wisata yang menghadirkan dampak ekonomi bagi warga setempat, sekaligus menjadi ajang ekspresi seni bagi masyarakat Margodadi lintas padukuhan. Upacara Adat Tuk Si Bedug menjadi salah satu bukti bagaimana masyarakat Margodadi terus menjaga warisan budaya leluhur di tengah perkembangan zaman.

Bagi mahasiswa KKN UNY, keterlibatan dalam Upacara Adat Tuk Si Bedug 2026 menjadi pengalaman berharga untuk lebih mengenal dan turut menjaga warisan budaya masyarakat Tegalweru dan Margodadi secara umum. Rahma berharap generasi muda, termasuk mahasiswa yang bertugas di dusun, dapat ikut mengembangkan tradisi ini agar terus lestari. 

"Kalian sebagai muda-mudi mungkin bisa lebih mengembangkan lagi tradisi ini. Kalian harus tetap nguri-nguri budaya sampai turun-temurun ke anak cucu kalian," ujarnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

KM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.