Rumah Joglo merupakan salah satu kekayaan arsitektur tradisional Indonesia yang berkembang dari budaya Jawa. Arsitektur ini hadir dalam berbagai bentuk dengan ciri khasnya masing-masing.
Hingga kini, sejumlah Rumah Joglo masih bertahan, bahkan beberapa telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah.
Lalu, di mana saja lokasi Rumah Joglo tertua di Indonesia? Berikut daftarnya.
Bukan hanya Darmo Wongso, Inilah Joglo-joglo Tertua di Indonesia
1. Joglo Darmo Wongso, Ngawi
Joglo Darmo Wongso di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, menjadi salah satu Joglo tertua yang masih berdiri hingga sekarang. Bangunan ini didirikan pada tahun 1750, sehingga usianya bahkan lebih tua dibandingkan Benteng Van Den Bosch yang dibangun pada abad ke-19.
Joglo Darmo Wongso dibangun di atas tanah pemberian Keraton Kartasura kepada KRMA Aryo Amijoyo sebagai bentuk penghormatan atas jasanya. Selain menjadi tempat tinggal, bangunan ini juga pernah digunakan sebagai markas perjuangan pada masa penjajahan.
Keunikan Joglo Darmo Wongso terlihat pada empat soko guru yang menjadi penyangga utama, pendopo yang luas sebagai ruang berkumpul, serta tata ruang khas Jawa yang mencerminkan nilai keterbukaan dan keharmonisan. Kini, Joglo Darmo Wongso masih dirawat oleh keturunannya dan dimanfaatkan sebagai pusat kegiatan budaya.
2. Joglo Baros, Saptosari (Rumah Tradisional Suwardi), Gunungkidul
Joglo Baros, Saptosari (Rumah Tradisional Suwardi) di Padukuhan Trengguno, Gunungkidul, Yogyakarta ini diperkirakan telah berusia sekitar 250 tahun. Bangunan tersebut didominasi material kayu jati dan hingga kini masih mempertahankan bentuk aslinya.
Menariknya, rumah tersebut belum pernah mengalami renovasi besar. Perawatan hanya dilakukan pada bagian tertentu, seperti penggantian genting yang rusak.
Joglo Baros, Saptosari (Rumah Tradisional Suwardi) telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Pemerintah Kabupaten Gunungkidul. Selain itu, bangunan ini juga bernilai sejarah karena berada di jalur gerilya Jenderal Soedirman dan pernah disinggahi saat perjuangan kemerdekaan.
3. Joglo Kelor, Sleman
Joglo Kelor berada di Dusun Kelor, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Rumah tradisional ini dibangun pada 1835 oleh Kromowijoyo dan diwariskan secara turun-temurun hingga generasi keempat.
Pada masa perang kemerdekaan, Joglo Kelor pernah difungsikan sebagai markas Tentara Pelajar, sekolah, hingga tempat kegiatan masyarakat.
Bangunan ini masih mempertahankan ciri khas Joglo Lawakan dengan ruang kuncungan di bagian depan yang dahulu digunakan sebagai panggung pertunjukan.
Saat ini Joglo Kelor menjadi bagian dari Desa Wisata Kelor dan memperoleh penghargaan sebagai pelestari warisan budaya dari Pemerintah Daerah DIY.
4. Joglo Singodikoro, Sleman
Joglo Singodikoro berada di Padukuhan Kadisono, Kabupaten Sleman. Rumah ini dibangun oleh Kyai Singodikoro, keturunan Sultan Hamengku Buwono II, dan memiliki tata ruang lengkap berupa pendhapa, pringgitan, ndalem, serta gandhok.
Sepanjang sejarahnya, Joglo Singodikoro memiliki berbagai fungsi penting. Pada masa penjajahan, bangunan ini menjadi tempat menyusun strategi perang gerilya sekaligus lokasi persembunyian para pejuang. Saat pendudukan Jepang, bangunan ini juga digunakan untuk melatih anggota Keibodan.
Setelah Indonesia merdeka, Joglo Singodikoro sempat menjadi kantor kelurahan dan gedung sekolah sebelum akhirnya kembali difungsikan sebagai rumah tinggal keluarga.
5. Joglo Tanjung, Sleman
Joglo Tanjung di Kalurahan Donoharjo, Kabupaten Sleman, diperkirakan telah berusia sekitar 200 tahun. Bangunan yang kini berstatus cagar budaya ini terdiri atas joglo utama dan beberapa bangunan pendukung.
Selain pernah menjadi kantor kalurahan, Joglo Tanjung juga memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan. Saat Pertempuran Jalan Palagan Tentara Pelajar, bangunan ini dimanfaatkan sebagai rumah sakit darurat untuk merawat pejuang yang terluka.
Kini, Joglo Tanjung menjadi salah satu daya tarik Desa Wisata Tanjung yang mengembangkan wisata budaya, edukasi, serta pelestarian sejarah lokal.
Rumah Joglo merupakan warisan budaya yang menjadi bukti perkembangan arsitektur asli Indonesia yang lahir dari kebudayaan Jawa.
Di balik usianya yang telah mencapai ratusan tahun, setiap bangunan menyimpan nilai sejarah pada masanya. Oleh karena itu, pelestarian Rumah Joglo menjadi langkah penting untuk menjaga salah satu kekayaan arsitektur Nusantara agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


