Gerakan Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas JOS) yang diinisiasi oleh Pemerintah Kota Yogyakarta sejak tahun 2025 terbukti membuahkan hasil positif. Program ini sukses menggerakkan kesadaran warga untuk mulai memproses limbah langsung dari sumbernya.
Langkah ini berfokus pada penguatan kapasitas rumah tangga agar volume buangan tidak menumpuk di tempat pembuangan akhir. Pemerintah setempat berkomitmen untuk terus menggiatkan pendampingan secara konsisten agar volume pemanfaatan hulu semakin meningkat.
Berdasarkan data Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta, Rajwan Taufiq, pada Jumat (10/7/2026), program ini mencatat lonjakan signifikan. Volume pengelolaan limbah di tingkat hulu meroket hingga mencapai angka 47,68 ton per hari sepanjang tahun 2026.
Pencapaian pada tahun 2026 ini menunjukkan grafik kenaikan yang sangat tajam apabila dibandingkan dengan data pada tahun sebelumnya. Pada tahun 2025, rata-rata volume sampah hulu yang berhasil dikelola masyarakat barulah menyentuh angka 21,20 ton per hari.
Berdasarkan catatan terperinci DLH Kota Yogyakarta, total volume harian tersebut bersumber dari beberapa sektor pemilahan spesifik. Kontribusi bank sampah unit tercatat sebesar 5,05 ton per hari, sedangkan bank sampah induk menyumbang 0,34 ton per hari.
Selain itu, terdapat sisa residu pasar sebesar 1,83 ton dan pemanfaatan ember organik yang mendominasi sebanyak 23,46 ton per hari. Metode biopori jumbo menyumbang 1,35 ton, sampah daun 10,6 ton, serta hasil sapuan jalan sebesar 5 ton setiap harinya.
Rekonstruksi Sosial dan Budaya Memilah

Masyarkat mengelola sampah anorganik di salah satu bank sampah di Kota Yogyakarta | Sumber: Portal Berita Pemerintah Kota Yogyakarta
Keberhasilan gerakan Mas JOS ini tidak lepas dari implementasi lima langkah taktis yang wajib diterapkan oleh segenap warga. Kawan GNFI perlu mengetahui bahwa instruksi utama tersebut meliputi pemilahan sesuai jenis dan penyetoran kategori anorganik ke bank sampah.
Langkah berikutnya adalah kewajiban mengolah sisa organik, komitmen menghabiskan makanan, serta pembiasaan menggunakan wadah pakai ulang. Seluruh rangkaian aktivitas penyelamatan lingkungan ini berjalan di tingkat rumah tangga dengan melibatkan kelurahan, tokoh warga, hingga juru pilah.

Masyakat memilah sampah rumahan di Kota Yogyakarta | Sumber: Portal Berita Pemerintah Kota Yogyakarta
Dampak nyata dari rekonstruksi sosial ini terlihat jelas dari ekspansi infrastruktur pendukung yang tersebar di wilayah perkotaan. Jumlah unit bank sampah di Kota Yogyakarta dilaporkan bertambah menjadi 713 titik pada 2026 dari sebelumnya 698 unit.
Pertumbuhan ini sejalan dengan peningkatan jumlah partisipan yang masuk dalam kategori Keluarga Mas JOS di berbagai wilayah.
Sebanyak 40.000 keluarga kini terdata aktif memilah dan mendapat stiker penanda, meningkat dari sebelumnya 37.000 keluarga.
Rajwan Taufiq memaparkan bahwa upaya rekonstruksi sosial untuk mengubah budaya masyarakat ini akan terus digalakkan secara intensif. Pihaknya menilai pemberian stiker khusus menjadi bukti nyata sekaligus motivasi bagi keluarga yang konsisten melakukan pemilahan mandiri.
Optimalisasi Metode Emberisasi dan Biopori Jumbo
Sektor pengolahan limbah basah melalui metode emberisasi juga menunjukkan performa memuaskan dengan realisasi mencapai 26 ton per hari. DLH Kota Yogyakarta kini memasang target baru agar pemanfaatan ember khusus ini bisa menembus angka 30 ton per hari.
Nantinya, seluruh sisa organik yang telah terkumpul di dalam wadah pemukiman tersebut akan diambil oleh mitra pengolah (off-taker). Bahan baku hayati tersebut bakal dialokasikan kembali sebagai pakan utama sektor peternakan serta budi daya maggot.

Pengambilan sampah organik yang dikumpulkan dalam ember untuk pakan ternak | Sumber: Portal Berita Pemerintah Kota Yogyakarta
Guna mempercepat pemenuhan fasilitas penampungan, pihak pemerintah aktif menjalin kolaborasi strategis melalui pemanfaatan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Kerja sama ini diwujudkan lewat pembagian wadah bekas layak pakai untuk menampung material basah maupun kering.
Salah satu contohnya adalah kontribusi dari Bank Jogja yang menyerahkan bantuan CSR berupa 600 unit wadah penampung. Bantuan yang diserahkan dalam momentum HUT Pemkot Yogyakarta tersebut langsung didistribusikan secara merata kepada para petugas penggerobak.
Di sisi lain, pemanfaatan sistem biopori jumbo menjadi pilar krusial dalam memaksimalkan penyerapan sisa konsumsi di tingkat lokal. Saat ini, sebanyak 600 unit sistem resapan besar telah terpasang di 45 wilayah kelurahan strategis.

Warga menunjukan biopori jumbo untuk mengelola sampah organik yang menjadi Gerakan Mas JOS | Sumber: Portal Berita Pemerintah Kota Yogyakarta
Lokasi penempatan fasilitas ini tersebar di Ruang Terbuka Hijau Publik (RTHP), balai RW, balai kampung, hingga kantor kelurahan. Tujuannya agar aksesibilitas fasilitas penampungan berkapasitas 3 ton ini dapat dijangkau mudah oleh masyarakat dan penggerobak sampah.
Pemerintah juga telah menyiagakan tim khusus yang bertugas memanen hasil pupuk dari sistem resapan besar yang sudah penuh. Warga dipersilakan untuk segera menghubungi pihak dinas terkait apabila fasilitas di kawasannya telah siap dipanen.
Program pendampingan berkelanjutan ini akan terus digulirkan secara terpadu demi menjaga konsistensi perilaku positif di tengah masyarakat. Kolaborasi akan terus melibatkan elemen Jumilah (juru pilah sampah), fasilitator kelurahan, forum bank sampah, hingga kader PKK.
Sinergi berbagai elemen ini diharapkan mampu mencetak lebih banyak Keluarga Mas JOS baru di masa mendatang. Dengan demikian, volume residu yang dapat dikelola langsung dari sumbernya akan semakin meningkat demi mewujudkan lingkungan yang bersih.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


