Sebagai penggemar dunia fantasi, serial sci-fi dan film-film petualangan, saya selalu menikmati karya yang mampu membangun sebuah universe dengan detail cerita yang luar biasa.
Saya mengikuti The Lord of the Rings sejak lama. Bahkan, setiap musim terbaru The Rings of Power tayang, saya rela kembali berlangganan Prime Video hanya untuk mengikuti kelanjutan kisah prekuelnya. Saya juga menikmati drama politik antar “house” dalam serial Game of Thrones hingga House of the Dragon. Bagi saya, daya tarik karya-karya tersebut bukan hanya karena adegan pertarungannya atau efek visualnya, tetapi karena mereka berhasil menciptakan dunia yang bisa dirasakan oleh penggemarnya.
Contohnya saja dalam serial House of the Dragon yang saat artikel ini ditulis, telah memasuki musim ketiga. Saya selalu terpukau melihat bagaimana setiap “house” memiliki sejarahnya sendiri, setiap tokoh memiliki silsilah yang begitu kompleks dan tidak selalu mudah dipahami, lalu setiap keputusan yang para tokohnya ambil juga memicu konflik yang terus diwariskan lintas generasi, yang tidak jarang melahirkan begitu banyak teori dari para penggemarnya yang mencoba menghubungkan setiap detail ceritanya.
Lalu, tersirat pertanyaan di benak saya. Mengapa Indonesia belum memiliki karya seperti House of the Dragon atau bahkan The Lord of the Rings?
Padahal, kita sebenarnya sudah memiliki aset ceritanya. Namanya La Galigo.
La Galigo sendiri merupakan epos yang diwariskan oleh masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan dan dikenal sebagai salah satu karya sastra terpanjang di dunia. Naskahnya terdiri 6.000 halaman atau lebih dari 300.000 baris puisi yang ditulis dalam bahasa Bugis Kuna menggunakan aksara Lontara, bahkan melampaui panjang Mahabharata. Namun, yang membuat saya terpukau bukanlah panjang naskahnya. Melainkan dunia yang dibangunnya.
Jika The Lord of the Rings membangun dunianya melalui sejarah Middle-earth, berbagai kerajaan, ras, bahasa, dan ribuan tahun perjalanan peradaban.
Sementara itu, La Galigo membangun universe-nya melalui kosmologi Bugis yang membagi dunia menjadi Boting Langi' (dunia atas), Ale Kawa atau Ale Lino (dunia tengah atau dunia manusia), dan Pérétiwi (dunia bawah). Dari tiga wilayah inilah lahir kisah para dewa, manusia, dan keturunannya yang membentuk epos terpanjang di dunia.
La Galigo memiliki kerajaan, perjalanan lintas wilayah, konflik, kisah cinta, peperangan, pelayaran, hingga mitologi tentang hubungan manusia, bumi, langit, dan para dewa. Semuanya saling terhubung membentuk sebuah semesta yang kompleks. Luasnya dunia tersebut bahkan sudah terlihat hanya dari beberapa episode ceritanya. Ada kisah ketika penguasa dunia bawah diundang ke Boting Langi', rapat para dewa yang menentukan tatanan dunia, hingga pertengkaran antara Wé Pada Uleng dan Wé Tenrijelloq.
Saat membaca ringkasan kisahnya, saya tidak bisa berhenti membayangkan satu pertanyaan.
Bagaimana jika La Galigo diadaptasi menjadi sebuah cinematicuniverse asli Indonesia?
Bukan untuk menjadi "The Lord of the Rings versi Indonesia." Justru sebaliknya, La Galigo tidak perlu menjadi versi apa pun. Ia sudah memiliki identitasnya sendiri.
Potensi La Galigo sendiri sebenarnya sudah dilihat dunia. Pada 2011, naskah La Galigo resmi diakui UNESCO dalam Memory of the World, sebagai salah satu warisan dokumenter yang memiliki nilai penting bagi sejarah peradaban manusia. Bahkan sebelum mendapat pengakuan UNESCO, La Galigo telah lebih dulu menarik perhatian Sutradara teater Robert Wilson.
Ia mengadaptasinya La Galigo menjadi pertunjukan panggung yang pertama kali dipentaskan di Singapura pada 2003. Selama 2003 hingga 2008, pertunjukan tersebut dipentaskan ke berbagai kota di dunia, seperti Amsterdam, Barcelona, Madrid, Lyon, Ravenna, New York, Melbourne, Milan, dan Taipei.
Lalu mengapa kita belum pernah melihatnya hadir dalam bentuk film atau serial dengan produksi kelas dunia?
Saya mencoba memahami, bahwa mengadaptasi La Galigo bukan pekerjaan sederhana. Dibutuhkan riset yang serius, penghormatan terhadap nilai budaya Bugis, kolaborasi dengan akademisi dan budayawan, serta keberanian untuk berinvestasi besar-besaran dalam cerita yang mungkin belum dikenal pasar global.
Namun, bukankah setiap franchise besar juga pernah memulai dari titik yang sama? Yang membedakan hanyalah siapa yang berani menceritakannya.
Di tengah semakin banyaknya karya global yang mengangkat budaya lokal, saya justru melihat La Galigo sebagai peluang besar bagi Indonesia. Bukan hanya untuk membuat film yang sukses secara komersial, tetapi juga untuk memperkenalkan salah satu warisan budaya terbaik Indonesia kepada dunia melalui medium yang mudah diterima lintas generasi.
Mungkin saya terlalu optimistis. Namun, saya yakin banyak orang yang juga berharap suatu hari nanti La Galigo hadir dalam bentuk serial atau film yang dapat dinikmati di platform seperti Netflix, Prime Video, atau HBO. Sebagaimana The Rings of Power dan House of the Dragon, yang setiap musim terbarunya selalu dinantikan oleh para penggemarnya, termasuk saya.
Semoga tulisan ini sampai kepada para sutradara, penulis, produser, dan rumah produksi di Indonesia atau bahkan dunia. Bahwa mungkin, suatu hari nanti, ada yang berani mengadaptasi La Galigo menjadi film atau serial dengan kualitas produksi kelas dunia.
Bukan untuk menjadi The Lord of the Rings versi Indonesia, melainkan untuk memperkenalkan dunia pada sebuah kisah yang memang lahir dari tanah Bugis.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


