73 tahun bank indonesia dari de javasche bank peninggalan kolonial hingga penjaga rupiah di era digital - News | Good News From Indonesia 2026

73 Tahun Bank Indonesia, Dari De Javasche Bank Peninggalan Kolonial hingga Penjaga Rupiah di Era Digital

73 Tahun Bank Indonesia, Dari De Javasche Bank Peninggalan Kolonial hingga Penjaga Rupiah di Era Digital
images info

Free to use under the Unsplash License by Aini Rahmadini


Kawan GNFI, setiap 5 Juli, dunia perbankan Indonesia memperingati Hari Bank Indonesia. Namun tidak banyak yang tahu bahwa institusi yang menjaga nilai rupiah dan stabilitas ekonomi nasional ini sesungguhnya mewarisi sejarah yang jauh lebih panjang dari usianya yang 73 tahun, sebuah perjalanan yang dimulai dari sebuah bank kolonial Belanda, melewati masa penjajahan, revolusi kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, reformasi, hingga era digital hari ini.

Dari Bank van Courant hingga De Javasche Bank

Sejarah perbankan di Nusantara dimulai jauh sebelum Indonesia merdeka. Berdasarkan catatan resmi sejarah Bank Indonesia di bi.go.id, bank pertama yang berdiri di Nusantara untuk menunjang kegiatan perdagangan adalah Bank van Courant pada tahun 1746, yang bertugas memberikan pinjaman dengan jaminan emas, perak, perhiasan, dan barang-barang berharga lainnya.

Perjalanan panjang berlanjut hingga berdirinya De Javasche Bank (DJB) pada masa penjajahan Belanda, yang menjadi bank sirkulasi resmi Hindia Belanda. Di berbagai pelosok Nusantara, DJB mendirikan kantor perwakilan atau agentschap, termasuk di Banjarmasin pada 1907, sebagai perpanjangan tangan sistem keuangan kolonial. Ketika Jepang mengambil alih kekuasaan, DJB dilikuidasi dan diubah namanya. Namun setelah kemerdekaan, upaya untuk mendirikan bank sentral yang benar-benar milik Indonesia mulai bergulir.

baca juga

1953: Lahirnya Bank Indonesia sebagai Wujud Kedaulatan Ekonomi

Pada 1951, desakan kuat muncul dari berbagai kalangan untuk mendirikan bank sentral sebagai wujud kedaulatan ekonomi Republik Indonesia yang baru merdeka. Pemerintah kemudian membentuk Panitia Nasionalisasi DJB, dan proses nasionalisasi dilakukan melalui pembelian saham DJB oleh Pemerintah RI dengan besaran mencapai 97 persen.

Puncaknya, pada 1 Juli 1953, Pemerintah RI menerbitkan UU No.11 Tahun 1953 tentang Pokok Bank Indonesia, yang menggantikan DJB Wet Tahun 1922. Sejak saat itu, Bank Indonesia secara resmi berdiri sebagai Bank Sentral Republik Indonesia. Tanggal 1 Juli yang menjadi hari lahir Bank Indonesia inilah yang kemudian diperingati setiap tahun sebagai Hari Bank Indonesia, meski kini lebih dikenal diperingati pada 5 Juli.

Sejak saat itu pula, Bank Indonesia menerbitkan uang kertas Bank Indonesia untuk pertama kalinya, dengan tanda tahun 1952, yang dicetak di percetakan Thomas De La Rue & Co di Inggris dan percetakan Johan Enschede en Zonen di Belanda, sebagai simbol fisik paling nyata dari kedaulatan ekonomi Indonesia.

Perjalanan Berliku: Dari Bank Komersial hingga Bank Sentral Independen

Kawan, perjalanan Bank Indonesia menuju bentuknya yang sekarang tidaklah mulus. Pada era Demokrasi Terpimpin, Presiden Soekarno memperkenalkan konsep Ekonomi Terpimpin yang bahkan pernah melebur seluruh bank-bank negara termasuk Bank Indonesia menjadi Bank Negara Indonesia (BNI) melalui Perpres No.17 Tahun 1965. Gubernur BI bahkan sempat ditetapkan sebagai anggota kabinet dengan sebutan Menteri Urusan Bank Sentral.

Baru setelah masa Orde Baru, melalui UU No.13 Tahun 1968 tentang Bank Sentral, Bank Indonesia kembali memperoleh nama aslinya dan menjalankan fungsi murni sebagai bank sentral. Babak paling penting dalam sejarah BI terjadi setelah krisis ekonomi 1998, ketika UU No.23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia menetapkan bahwa BI adalah lembaga negara yang independen, bebas dari campur tangan pemerintah atau pihak lain.

Independensi inilah yang menjadi fondasi bagi Bank Indonesia untuk menjalankan tiga tugas utamanya: menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, serta menjaga stabilitas sistem keuangan.

Laporan Perekonomian Indonesia: 73 Tahun Merekam Perjalanan Bangsa

Kawan GNFI, ada satu warisan Bank Indonesia yang mungkin jarang diketahui publik umum: Laporan Perekonomian Indonesia (LPI). Berdasarkan informasi resmi dari bi.go.id, LPI adalah publikasi flagship Bank Indonesia yang telah terbit sejak awal berdirinya Bank Indonesia pada 1953.

Selama 73 tahun tanpa putus, setiap tahun Bank Indonesia merekam secara sistematis perjalanan ekonomi Indonesia, menjadikan LPI sebagai arsip ekonomi nasional yang tidak ternilai harganya bagi para peneliti, pembuat kebijakan, dan siapapun yang ingin memahami dinamika ekonomi Indonesia dari masa ke masa.

baca juga

Bank Sentral di Era Digital dan Geopolitik yang Bergejolak

Di usia ke-73 tahun, Bank Indonesia menghadapi tantangan yang tidak pernah dibayangkan para pendirinya: disrupsi digital, munculnya mata uang kripto, sistem pembayaran berbasis teknologi yang berkembang pesat, hingga guncangan geopolitik seperti konflik AS-Iran yang baru saja mengguncang harga minyak dunia dan berimbas pada nilai tukar rupiah.

Di tengah semua tantangan itu, tugas Bank Indonesia tetap sama seperti yang diembannya sejak 1953: menjaga stabilitas nilai rupiah demi mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Selamat Hari Bank Indonesia ke-73, Kawan. Semoga rupiah terus kokoh dan perekonomian bangsa terus tumbuh.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

WH
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.