Masalah sanitasi sering kali baru disadari ketika dampaknya mulai terasa. Saat muncul kasus diare, kualitas air menurun, atau lingkungan permukiman menjadi tidak sehat, membuat perhatian kita tertuju pada pentingnya akses sanitasi yang layak. Padahal, sanitasi merupakan kebutuhan dasar yang memengaruhi kesehatan masyarakat setiap hari. Semakin baik sanitasi sebuah wilayah, seharusnya semakin kecil pula risiko penyebaran penyakit berbasis lingkungan.
Jakarta belum sepenuhnya terbebas dari praktik buang air besar sembarangan (BABS). Kondisi ini menunjukkan bahwa pembangunan kesehatan lingkungan masih perlu dipercepat. Penyediaan fasilitas sanitasi yang layak harus berjalan seiring dengan perubahan perilaku masyarakat agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta pada 2025 menunjukkan masih ada 1.083 kepala keluarga di 10 kelurahan yang melakukan praktik buang air besar sembarangan (BABS). Selain itu, sebanyak 119.528 kepala keluarga di 205 kelurahan belum memiliki tangki septik sehingga limbah domestiknya masih dialirkan langsung ke saluran air atau sungai. Kondisi ini menjelaskan bahwa tantangan sanitasi di Jakarta juga berkaitan dengan pengelolaan limbah yang aman.
Kesadaran inilah yang mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mempercepat program Open Defecation Free (ODF). Program ini berperan untuk memastikan setiap warga memiliki akses terhadap sanitasi yang sehat sekaligus menghentikan praktik BABS.
Salah satu capaian terbarunya adalah deklarasi ODF di Kelurahan Tomang, Jakarta Barat. Dengan bergabungnya Tomang, jumlah kelurahan berstatus ODF di Jakarta kini mencapai 194 kelurahan atau sekitar 72,65 persen dari total 267 kelurahan. Angka tersebut menunjukkan bahwa langkah menuju Jakarta yang lebih sehat, selalu diupayakan. Tantangannya sekarang adalah menjaga agar percepatan itu tetap konsisten hingga seluruh wilayah dapat menikmati kualitas sanitasi yang sama.
Status ODF sering dipahami sebagai tanda bahwa sebuah wilayah telah memiliki fasilitas toilet yang memadai. Padahal, makna ODF jauh lebih luas. Program ini menjadi bagian dari Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang menempatkan perubahan perilaku sebagai tujuan utama. Warga didorong untuk menggunakan toilet yang sehat, menjaga kebersihan lingkungan, serta menghentikan kebiasaan buang air besar sembarangan. Perubahan kebiasaan tentu yang akan menentukan keberhasilan program dalam jangka panjang.
Seperti yang kita pahami bersama bahwa praktik BABS dapat mencemari tanah dan sumber air di sekitarnya. Kondisi ini meningkatkan risiko penyebaran penyakit yang ditularkan melalui air maupun lingkungan. Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan ketika kualitas sanitasi belum memadai.
Mereka lebih mudah terserang diare maupun infeksi saluran pencernaan karena daya tahan tubuhnya masih berkembang. Itulah sebabnya perbaikan sanitasi memiliki manfaat yang besar. Lingkungan yang lebih bersih akan membantu menjaga kesehatan anak sekaligus mendukung tumbuh kembang mereka, termasuk dalam upaya mencegah stunting.
Persoalan sanitasi tidak pernah bisa diselesaikan hanya dengan membangun fasilitas saja. Toilet atau MCK komunal memang menjadi kebutuhan dasar, tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada apakah fasilitas tersebut benar-benar digunakan dan dirawat oleh masyarakat.
Oleh karena itu, percepatan ODF membutuhkan dua upaya yang berjalan bersamaan. Pemerintah memastikan masyarakat memiliki akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak, sementara itu masyarakat didorong untuk menerapkan kebiasaan hidup bersih dan sehat agar perubahan yang terjadi dapat bertahan dalam jangka panjang.
Menyediakan fasilitas sanitasi hanyalah awal dari proses yang lebih panjang. Proses ini menunjukkan bahwa kolaborasi menjadi salah satu kunci keberhasilan program ODF. Pemerintah menghadirkan kebijakan dan infrastruktur, sementara kita sebagai masyarakat perlu ikut untuk menggerakkan edukasi dan pendampingan di lingkungan masing-masing agar kebiasaan hidup bersih tumbuh dan bertahan.
Keberhasilan Tomang tentu menjadi kabar baik, namun masih terdapat beberapa kelurahan yang perlu pendampingan hingga memenuhi syarat ODF. Tantangan yang dihadapi pun tidak selalu sama. Di satu wilayah, keterbatasan lahan membuat pembangunan fasilitas sanitasi menjadi lebih sulit. Di wilayah lain, akses sanitasi sebenarnya sudah tersedia, tetapi warganya masih membutuhkan pendampingan agar kebiasaan hidup bersih dapat terus diterapkan.
Perbedaan kondisi tersebut membuat setiap wilayah memerlukan pendekatan yang berbeda. Dengan pendataan yang akurat dan pendampingan yang berkelanjutan, hal ini menjadi bekal penting agar setiap solusi benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Upaya memperluas ODF juga sejalan dengan pengembangan sistem sanitasi yang sedang dilakukan Jakarta. Pemerintah terus memperluas layanan pengelolaan air limbah domestik agar semakin banyak warga memperoleh akses sanitasi yang aman. Langkah tersebut akan memperkuat kualitas kesehatan lingkungan sekaligus mendukung target pembangunan berkelanjutan, terutama dalam penyediaan air bersih dan sanitasi yang layak.
Sanitasi mungkin bukan isu yang paling sering menjadi perhatian publik. Namun, sanitasi yang baik menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan kualitas hidup warga Jakarta. Percepatan ODF layak dipandang sebagai investasi jangka panjang yang manfaatnya akan terus dirasakan. Ketika setiap warga memiliki akses terhadap sanitasi yang layak dan lingkungan yang sehat, Jakarta sedang membangun masa depan yang lebih baik, yang dimulai dari kebutuhan dasar setiap warganya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

