good talk off air yogyakarta 2 bincang ringan soal modernisasi pariwisata berkelanjutan di kota gudeg - News | Good News From Indonesia 2026

Good Talk Off Air Yogyakarta 2, Bincang Ringan Soal Modernisasi Pariwisata Berkelanjutan di Kota Gudeg

Good Talk Off Air Yogyakarta 2, Bincang Ringan Soal Modernisasi Pariwisata Berkelanjutan di Kota Gudeg
images info

Dokumentasi istimewa (Jessica)


“Inilah wajah Jogja di mata warga lokal. Yang katanya macet, tapi jarang ada bunyi klakson. Isu bentor yang akan dihapus atau tidak, padahal ini menjadi penopang hajat hidup banyak orang. Villa-villa Jogja yang serasa di Bali. Masalah bakpia Jogja yang asli dan yang tidak otentik, dan lainnya. Mari, kita (sekarang) akan ngrasani perubahan identitas wisata Jogja.”

Paksi Raras Alit, seorang seniman dan pelestari budaya Jawa, membuka diskusinya dengan pernyataan ini.

Dalam Good Talk Off Air Yogyakarta 2, bertajuk “Turisme dan Kebudayaan, Menerka Masa Depan Pariwisata Indonesia”, acara ini menghadirkan perspektif unik dari sudut pandang warga lokal (warlok).

Mereka duduk bersama dengan perwakilan dari InJourney, Ade Saputra, dan Paksi Raras Alit, dan Febriansyah Tri dari GNFI untuk membahas identitas Jogja di masa kini dalam dunia pariwisata serta strategi korporasi dalam menjaga warisan budaya di tengah arus modernisasi dan globalisasi.

Good Talk Off Air Yogyakarta 2 diselenggarakan oleh GNFI pada Kamis (9/7/2026) di Grand Hotel De Djogja, hotel bersejarah bintang 5 yang terletak di jalan utama Malioboro. Seperti apa keseruannya, Kawan GNFI?

Jogja Tidak Hilang, Hanya Terus Beradaptasi

Menanggapi kekhawatiran masyarakat mengenai narasi "Jogja Ilang Jogjane" (Jogja kehilangan jati dirinya), budayawan dan seniman Paksi Raras Alit menegaskan bahwa Yogyakarta memiliki karakter dasar yang selalu berkompromi dan beradaptasi dengan perubahan zaman.

Paksi mencontohkan bahwa sejak awal, unsur budaya Jogja seperti wayang dan blangkon pun merupakan hasil asimilasi budaya global.

“Jogja tidak pernah berubah, tetapi selalu relevan. Masyarakatnya selalu mampu, peka, dan kreatif. Akar kita tidak pernah hilang, tetapi selalu siap menghadapi globalisasi,” ujar Paksi dalam pemaparannya.

Ia menyoroti bagaimana elemen tradisional kini bersanding dengan tren modern, seperti penggunaan wastra saat menonton konser musik internasional, yang menciptakan wajah unik bagi generasi saat ini.

good talk gnfi
info gambar

Dokumentasi istimewa (Jessica)


Kembali ke Yogyakarta karena Storytelling-nya

Dari sisi industri, Ade Saputra dari Injourney Hospitality memaparkan visi perusahaan untuk mengelola Yogyakarta sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan.

InJourney sendiri yang berada di bawah ekosistem BUMN, mempunyai beberapa fokus utama dalam pengembangan pariwisata Indonesia, termasuk dari layanan penerbangan, manajemen destinasi, perhotelan, dan ritel.

Salah satu langkah nyatanya adalah revitalisasi aset bersejarah, seperti transformasi Grand Hotel De Djogja (dahulu Grand Inna Malioboro) menjadi hotel bintang lima yang tetap mempertahankan nilai heritage-nya, termasuk pelestarian kamar bersejarah Panglima Besar Soedirman saat berdiskusi gerilya.

“InJourney bertransformasi, tak hanya menjual kamar, tapi juga heritage-nya. Indonesia itu punya narasi yang perlu disampaikan lebih luas kepada publik. Adanya revitalisasi di Yogyakarta misalnya, dilakukan agar Jogja bisa semakin pas (naik kelas),” imbuh Ade.

Selain itu, Injourney menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan storytelling yang kuat agar dapat meningkatkan durasi kunjungan (length of stay) wisatawan di Yogyakarta. Hal ini ditanggapi dengan apik oleh salah satu audiens, Lintang, salah satu inisiator dan pengurus Jogja Festivals.

Lintang menyebutkan bahwa acara-acara di Yogyakarta secara organik bertumbuh hingga mencapai usia belasan tahun. Rata-rata terlahir dari komunitas dan kualitas audiensnya pun tak main-main.

“Festival-festival ini bahkan pengunjungnya 80% bukanlah warga lokal sini.”

Namun, ia mengharapkan bahwa regulasi dan dukungan pihak berwenang, termasuk pemerintah dan daerah bisa lebih memperhatikan customer journey dan aksesnya, bahkan dari sejak kedatangan turis pertama kali di sini.

Meskipun menghadapi tantangan seperti isu sampah, kemacetan, dan inklusivitas, Yogyakarta tetap dipandang sebagai kota yang memiliki ikatan emosional kuat bagi siapa pun yang berkunjung.

“Pantai satu dengan yang lainnya, sama-sama bagus. Hotel bintang lima juga banyak, tentu dengan fasilitas yang bagus. Tapi, soal keramahan warganya, hospitality-nya, juara kita! Entah bagaimana, kota ini punya feel yang mengikat memori, seolah mana sosoknya sudah tidak ada, tapi tetap melekat,” tandas Ade.

Sebagaimana disimpulkan dalam diskusi tersebut, Jogja adalah "kota yang selalu memanggil tanpa memaksa," karena menyimpan cerita dan kehangatan yang ‘tak tertandingi’.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.