festival biak munara wampasi 2026 berakhir warisan budaya terus dihidupkan generasi muda - News | Good News From Indonesia 2026

Festival Biak Munara Wampasi 2026 Berakhir, Warisan Budaya Terus Dihidupkan Generasi Muda

Festival Biak Munara Wampasi 2026 Berakhir, Warisan Budaya Terus Dihidupkan Generasi Muda
images info

Malam Penutupan Festival Biak Munara Wampasi | Sumber: Megatari Pasang


Sore itu, irama tabuhan tifa mengringi langkah para pelajar yang memenuhi jalanan di kawasan Pasar Ikan, Biak. Hal tersebut dilakukan oleh Kepala Dinas Dispora Kabupaten Biak Numfor, serta Pimpinan UPD yang berkenan hadir. Mengenakan pakaian berwarna-warni dan menampilkan tarian Yospan dengan penuh semangat, mereka menjadi penutup manis Festival Biak Munara Wampasi (FBMW) 2026, yang telah berlangsung selama sepekan. 

Rangkaian festival yang berlangsung sejak tanggal 1 hingga 7 Juli 2026 itu resmi ditutup pada Selasa (7/7) melalui Parade Yospan yang dimulai dari Kompleks Pasar Ikan, Biak. Suasana sore hari dipenuhi antusiasme masyarakat yang memadati sepanjang rute parade untuk menyaksikan penampilan para pelajar yang membawakan tarian persahabatan khas Papua tersebut. 

Sebanyak 15 grup Yospan dari jenjang sekolah di Kabupaten Biak Numfor turut mengambil bagian dalam parade penutupan. Mereka berasal dari SMP YPPK Santo Petrus Biak, SMP Sup Byaki Fyadi Biak, SMPN 1 Biak, SMPN 2 Biak, SMPN 3 Biak, SMPN 4 Biak, SMP YPK Ruth Yenures Biak, SMAN 1 Biak, SMAN 2 Biak, SMAN 3 Biak, SMA Sup Byaki Fyadi Biak, SMA YPK 2 Mandala, hingga SMK Yapis Biak. Penampilan mereka bukan sekedar hiburan bagi masyarakat yang memadati rute parade, tetapi juga menjadi gambaran bahwa budaya Biak terus diperkenalkan kepada generasi muda melalui ruang-ruang yang dekat dengan mereka.

Peserta Parade Yospan
info gambar

Selasa, 7 Juli 2026 | Peserta Parade Yospan | Sumber: Megatari Pasang 


Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Kepala Badan Kepegawaian Negara, Prof. Dr. Zudan Arif Fakrulloh, S.H., M.H., beserta jajaran, Bupati Biak Numfor, Markus O. Mansnembra, S.H., M.M., dan Wakil Bupati Jimmy Carter Rumbarar Kapissa, serta pejabat penting lainnya yang turut hadir. Festival Biak Munara Wampasi sendiri kembal masuk dalam jajaran Karisma Event Nusantara (KEN) 2026, program nasional yang menghimpun berbagai festival unggulan dari seluruh Indonesia. Selama tujuh hari pelaksanaannya, festival menghadirkan beragam atraksi budaya, pertunjukkan seni, ritual adat, hingga pameran produk lokal yang melibatkan masyarakat.

baca juga

Dalam sambutannya, Bupati Biak Numfor menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung penyelenggaraan festival. Menurutnya, FBMW bukan sekedar agenda tahunan, tetapi menjadi sarana untuk memperkenalkan potensi pariwisata sekaligus memperkuat jati diri dan kekayaan budaya masyarakat Biak.

Antusiasme masyarakat terhadap festival tahun ini juga terlihat dari jumlah pengunjung yang mencapai 7.413 orang. Angka tersebut terdiri dari 7.181 wisatawan lokal, 201 wisatawan nusantara dan 31 wisatawan mancanegara yang berasal dari Jerman, Amerika Serikat, Belanda, Australia, hingga Singapura. Selain menjadi daya tarik wisata, festival ini turut melibatkan 43 pelaku UMKM yang memasarkan berbagai produk lokal kepada para pengunjung.

Bagi banyak orang, daya tarik Festival Biak Munara Wampasi tidak hanya terletak pada kemeriahannya, tetapi juga pada kesempatan untuk menyaksikan tradisi yang masih terus dijaga oleh masyarakat Biak. 

Bunga, salah satu pengunjung festival, mengaku terkesan karena FBMW mampu menghadirkan tradisi leluhur yang jarang ditemui di daerah lain. "FBMW merupakan pesta rakyat yang luar biasa karena mengangkat tradisi leluhur seperti Apen Bayeren, yaitu berjalan di atas batu panas, dan Snap Mor, tradisi menangkap ikan saat air laut meti atau surut," ujarnya. Menurutnya, kehadiran tradisi-tradisi tersebut membuat festival ini memiliki nilai yang berbeda dibandingkan festival budaya lainnya. 

Pengalaman serupa dirasakan Nayla. Ia mengaku tidak ragu merekomendasikan Festival Biak Munara Wampasi kepada teman-temannya di luar daerah. "Menurut saya, FBMW merupakan salah satu festival budaya paling autentik dan unik di Indonesia Timur. Di sini kita bisa menyaksikan atraksi budaya yang luar biasa sekaligus merasakan langsung kearifan lokal masyarakat Biak," katanya.

Sementara itu, ketika diminta menggambarkan festival dalam tiga kata, Tantri dan Sachssyah memilih indah, sakral, dan meriah. Tiga kata tersebut, menurut mereka, cukup menggambarkan suasana yang dirasakan selama mengikuti seluruh rangkaian festival.

baca juga

Tidak hanya meninggalkan kesan bagi para pengunjung, Festival Biak Munara Wampasi juga menjadi ruang belajar bagi generasi muda Biak untuk mengenal budaya daerahnya secara lebih dekat.

Hal itu disampakan Wermon dan Gali, dua pelajar yang turut menyaksikan rangkaian festival. Menurut mereka, kegiatan seperti FBMW memberi kesempatan kepada generasi muda untuk memahami budaya secara langsung, bukan hanya melalui cerita yang disampaikan orang tua. "Festival seperti ini penting sekali karena menjadi kesempatan bagi kami selaku generasi muda untuk lebih mengenal budaya Biak. Selama ini mungkin kami hanya mendengar cerita dari orang tua, tetapi lewat festival ini kami bisa ikut menari, melihat pertunjukkan dan belajar langsung. Jadi rasa bangga terhadap budaya sendiri juga semakin tumbuh."

Pendapat senada disampaikan Maya dan Laura. Mereka menilai budaya akan perlahan menghilang apabila tidak terus dilestarikan dan dikenalkan terhadap generasi penerus. "Kalau budaya tidak dikenalkan kepada generasi muda, lama-kelamaan bisa hilang. Makanya kami sangat senang festival seperti ini tetap diadakan, karena kami jadi punya kesempatan untuk belajar sekaligus ikut melestarikan budaya Biak."

Pandangan para pelajar tersebut menunjukkan bahwa festival tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga ruang pewarisan budaya yang melibatkan generasi muda sebagai pelaku sekaligus penerus tradisi.

Pengunjung
info gambar

Selasa, 7 Juli 2026 | Ina Wanggai - Pengunjung | Sumber: Megatari Pasang


Menariknya, kesan mendalam terhadap festival juga tergambar dari jawaban sederhana yang disampaikan Ina Wanggai. Saat diminta menggambarkan Festival Biak Munara Wampasi dalam satu kata, ia hanya menjawab singkat, "Wonderful."

Satu kata itu, mungkin terdengar sederhana. Namun, di balik kemeriahan parade, tabuhan tifa, hingga ribuan pengunjung yang datang dari berbagai daerah, Festival Biak Munara Wampasi 2026 kembali menegaskan satu hal: Budaya akan tetap hidup selama terus diperkenalkan, dirayakan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

NA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.