Ada satu fakta tentang Taman Nasional Sebangau yang cukup mengejutkan. Kawasan seluas 568.700 hektar di Kalimantan Tengah ini adalah rumah bagi lebih dari 6.000 orangutan liar, sehingga menjadi lokasi dengan konsentrasi orangutan terbesar di dunia.
Taman nasional yang didirikan pada 2004 ini berada di antara Sungai Katingan dan Sungai Sebangau, Kota Palangka Raya, dan merupakan salah satu ekosistem hutan gambut tropis yang masih tersisa di Pulau Borneo.
Yang membuat kawasan ini berbeda dari taman nasional lain di Kalimantan adalah jenis hutannya. Ini bukan hutan hujan tropis biasa, melainkan hutan rawa gambut, dengan lapisan gambut sedalam 1 hingga 17 meter di bawah permukaannya.
Kandungan tanin yang tinggi dari gambut membuat air di sungai-sungai kawasan ini berwarna hitam pekat, sebuah fenomena alam yang terlihat asing tapi justru menciptakan ekosistem unik yang tidak mudah ditemukan di tempat lain.
Bagi Kawan GNFI yang tertarik dengan wisata alam yang benar-benar berbeda dari pantai dan gunung yang sudah lebih umum, Taman Nasional Sebangau menawarkan jenis petualangan yang berbeda.
Petualangan tersebut berupa menyusuri labirin sungai sempit di tengah hutan gambut, dengan orangutan bergelantungan di pohon dan air hitam mengalir pelan di bawah perahu.
Sekilas Mengenai Taman Nasional Sebangau
Kawasan Sebangau mendapat status taman nasional pada 19 Oktober 2004 melalui Keputusan Menteri Kehutanan.
Sebelumnya, kawasan ini mengalami tekanan berat akibat pembalakan liar dan kebakaran hutan yang sempat merusak sebagian ekosistemnya. Penetapan sebagai taman nasional menjadi langkah penting untuk memulihkan dan melindungi hutan gambut yang tersisa.
Taman nasional ini dijaga melalui program konservasi berkelanjutan yang melibatkan kearifan lokal masyarakat Suku Dayak setempat.
Pintu masuk utama untuk wisatawan adalah Desa Kereng Bangkirai, Kecamatan Sebangau, yang berjarak sekitar 20 menit dari pusat Kota Palangka Raya.
Di desa ini terdapat dermaga keberangkatan dan kantor Balai Taman Nasional Sebangau tempat pengunjung mendaftarkan kunjungan sebelum masuk ke kawasan.
Kekayaan hayati kawasan ini luar biasa. Ada 808 jenis tumbuhan, 25 jenis mamalia, 182 jenis burung, 36 jenis ikan, and 54 spesies ular tercatat sebagai penghuni alami.
Selain orangutan, kawasan ini juga menjadi habitat bekantan, beruang madu, macan dahan, kelasi, binturong, enggang gading, dan bangau rawa.
Daya Tarik Utama Taman Nasional Sebangau
Aktivitas wisata utama di Taman Nasional Sebangau adalah susur Sungai Koran menggunakan kelotok atau speedboat.
Perjalanan dari Dermaga Kereng Bangkirai menuju Camp Sungai Koran memakan waktu sekitar 30 hingga 45 menit, melewati labirin pohon rasau yang mendominasi tepian sungai.
Pohon rasau mirip pohon pandan laut dengan duri tajam di dahannya dan jalur sungai yang melewati rapatnya pepohonan ini mengharuskan penumpang perahu sesekali merunduk melewati terowongan alam yang terbentuk dari ranting-ranting yang saling bertautan.
Bagi yang tidak terbiasa, semua sisi jalur ini terlihat sama sehingga mudah tersesat tanpa pemandu.
Di Camp Sungai Koran, terdapat jalur trekking sepanjang 250 meter menggunakan titian kayu yang kemudian berlanjut ke jalur tanah di dalam hutan sekunder rawa gambut.
Di sepanjang jalur ini, pengunjung bisa mengamati tumbuhan tropis, pohon kayu jelutung dan ulin, tanaman obat, serangga, dan jika beruntung satwa liar yang muncul di sekitar camp.
Orangutan, monyet, dan bekantan paling aktif terlihat di sore hari sekitar pukul 15.00 saat mereka bergelantungan di pohon-pohon tinggi. Di Camp Koran juga tersedia menara pandang untuk menikmati pemandangan hutan dari ketinggian.
Selain trekking dan susur sungai, Danau Sebangau di kawasan Desa Kereng Bangkirai juga menawarkan berbagai wahana wisata air seperti sepeda air, perahu angsa, dan restoran apung dengan tarif Rp10.000 yang mengitari danau.
Kawasan danau ini lebih ramah untuk pengunjung keluarga yang tidak ingin masuk jauh ke dalam hutan.
Akses Menuju Taman Nasional Sebangau
Rute paling umum dimulai dari Bandara Tjilik Riwut di Palangka Raya. Tersedia penerbangan langsung dari Jakarta, Surabaya, dan beberapa kota besar lainnya menuju Palangka Raya dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam dari Jakarta.
Dari bandara, perjalanan darat menuju Dermaga Kereng Bangkirai hanya sekitar 20 menit menggunakan kendaraan sewaan atau ojek.
Dari dermaga, perjalanan dilanjutkan dengan speedboat atau kelotok menuju Camp Sungai Koran selama 30 hingga 45 menit.
Sebelum berangkat, pengunjung wajib registrasi di Kantor Balai Taman Nasional Sebangau yang berada di kawasan dermaga.
Penting untuk berangkat pagi hari sekali karena tidak ada kapal yang membawa pulang pengunjung saat malam, sehingga yang terlambat berangkat harus bermalam di camp.
Jam Operasional dan Harga Tiket
Taman Nasional Sebangau buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 18.00 WIB. Waktu terbaik berkunjung adalah musim hujan antara Desember hingga Februari saat debit air sungai penuh dan orangutan lebih mudah ditemukan.
Di musim kemarau, air rawa bisa surut dan pengunjung perlu berjalan kaki di beberapa titik yang biasanya bisa dilalui perahu.
Tiket masuk Taman Nasional Sebangau dikenakan Rp5.000 per orang untuk WNI dan Rp150.000 untuk wisatawan mancanegara.
Biaya sewa perahu sekitar Rp450.000 untuk kapasitas 3 hingga 4 orang, dengan biaya tambahan Rp150.000 jika ingin menjelajah lebih jauh ke dalam hutan.
Untuk paket wisata lengkap satu hari termasuk jemputan dari hotel, perahu, pemandu, dan makan siang, harga menyesuaikan jumlah pengunjung dan bisa dikonfirmasi ke Pengelola Desa Wisata Kereng Bangkirai.
Pos Jaga Sungai Koran juga menyediakan fasilitas menginap bagi yang ingin bermalam dengan suasana pedalaman hutan.
Ayo Berkunjung ke Taman Nasional Sebangau!
Taman Nasional Sebangau adalah destinasi yang tepat untuk Kawan GNFI yang ingin pengalaman alam berbeda dari wisata yang sudah lebih umum.
Pastikan tubuh dalam kondisi fit, bawa lotion antiserangga, selalu gunakan pelampung saat di atas perahu, dan jangan lupa kamera atau teropong untuk memaksimalkan pengamatan satwa.
Berangkatlah sepagi mungkin dan koordinasikan perjalanan dengan pemandu lokal agar tidak tersesat di labirin pohon rasau yang mempesona tersebut ya Kawan!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


