anak muda rentan jadi generasi cemas lima mahasiswa ugm bikin camilan penenang hati - News | Good News From Indonesia 2026

Anak Muda Rentan Jadi Generasi Cemas, Lima Mahasiswa UGM Bikin Camilan Penenang Hati

Anak Muda Rentan Jadi Generasi Cemas, Lima Mahasiswa UGM Bikin Camilan Penenang Hati
images info

1.Lima mahasiswa UGM racik camilan dan aplikasi lawan kecemasan remaja


Data resmi WHO lewat Global Health Observatory 2021 mencatat angka bunuh diri di Indonesia sekitar 2,4 kasus per 100 ribu penduduk. Sementara itu, berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sekitar 2% penduduk berusia 15 tahun ke atas mengalami masalah kesehatan jiwa, dengan gangguan kecemasan, depresi, dan skizofrenia sebagai prevalensi tertinggi.

Memang, data yang ada menunjukkan bahwa kondisi pada kelompok usia muda lebih mengkhawatirkan. Hasil survei I-NAMHS memperlihatkan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia usia 10–17 tahun memiliki masalah kesehatan mental, yang setara dengan 15,5 juta jiwa.

Dari jumlah tersebut, gangguan kecemasan menjadi masalah yang paling dominan diderita remaja, yakni sebesar 3,7%. Pada anak-anak, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025–2026 menemukan bahwa sekitar 4,4% atau 338.000 anak menunjukkan gejala kecemasan dan 4,8% atau 363.000 anak lainnya menunjukkan gejala depresi.

Gangguan psikologis seperti kecemasan dan depresi yang tidak dikenali maupun ditangani sejak dini, dampaknya dapat memengaruhi kualitas hidup, hubungan sosial, prestasi belajar atau bekerja, hingga meningkatkan risiko perilaku menyakiti diri sendiri.

Dampak paling tragis dari masalah kesehatan mental yang tidak tertangani adalah tindakan bunuh diri, yang angkanya terus meningkat secara signifikan setiap tahun.

Sejak tahun 2019 yang mencatat 230 kasus, angka ini melonjak tajam hingga mencapai 1.226 kasus pada tahun 2023. Memasuki tahun 2024, kepolisian mencatat setidaknya 988 kejadian bunuh diri hanya dalam sembilan bulan pertama, dengan rata-rata tiga kejadian terjadi setiap harinya pada bulan September 2024.

Secara global, Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) memperkirakan Indonesia menyumbang sekitar 4.750 kasus kematian akibat bunuh diri per tahun.

Belum berhenti di situ, masalahnya, riset Sandersan Onie dari University of New South Wales yang terbit di jurnal The Lancet Regional Health-Southeast Asia tahun 2024 mengungkapkan bahwa data bunuh diri di Indonesia bahkan bisa saja mencapai 860% dari data yang dipaparkan. Bukankah mengerikan, Kawan?

baca juga

Kecemasan Bukan Cuma Soal Suasana Hati

Ya, menurut laporan WHO, lebih dari 1 miliar orang di seluruh dunia hidup dengan gangguan kesehatan mental. Gangguan kecemasan dan depresi jadi yang paling umum, menyerang siapa saja, dari segala usia dan tingkat pendapatan, dan dalam kasus terparah bisa berujung pada keinginan mengakhiri hidup.

Nah, dari keresahan itulah tim mahasiswa UGM yang terdiri Ikhlasul Amal dari Fakultas Biologi, Qorina Nisrina Hafshah dari Fakultas Teknologi Pertanian, Zikra Fataha Al Mutansir dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, Diva Nadiartalika, serta Athar Rosyad Partadireja dari Fakultas Psikologi patungan ide lintas jurusan. Gagasan dari lintas jurusan ini menghasilkan inovasi yang unik.

baca juga

Inovasi Pertama, CalmBar: Camilan yang Katanya Bisa Menenangkan Saraf

Inovasi dari hasil pertukaran ide itu menghasilkan produk pertama yang dinamakan CalmBar. Ini bukan sekadar snack bar biasa yang dijual buat ganjal perut. Konsepnya menggabungkan nutritional neuroscience (ilmu soal bagaimana nutrisi memengaruhi kerja otak dan saraf) dengan sensory grounding, teknik menenangkan diri lewat panca indra.

Bahan-bahannya pakai yang alami, seperti kacang hijau, biji labu, duckweed alias Lemna minor (semacam tanaman air kecil), kacang tanah, peppermint, madu, kismis, sampai Virgin Coconut Oil.

Menurut tim, bahan-bahan ini dipilih karena mengandung protein nabati, magnesium, zat besi, antioksidan, dan senyawa bioaktif seperti GABA, triptofan, serta mentol yang berpotensi mendukung fungsi sistem saraf dan membantu regulasi emosi.

Yang menarik, di kemasannya bukan cuma ada tabel nutrisi. Ada juga panduan breathing exercise dan teknik grounding 5-4-3-2-1. Ini adalah teknik sederhana melibatkan lima indra untuk menenangkan pikiran saat cemas melanda. Jadi sambil ngunyah, orang juga diajak latihan napas.

"Kami mengembangkan sebuah model inovatif yang menggabungkan pendekatan pangan fungsional dan sistem metakognitif digital untuk membantu generasi muda membangun kemampuan regulasi diri secara lebih komprehensif," kata Amal, Rabu (1/7), sebagaimana dikutip dari laman resmi UGM.

baca juga

Bukan Cuma Soal Nutrisi, Ada Musuh Bernama "Spotlight Effect"

Amal tidak serta-merta melihat kecemasan remaja zaman sekarang disebabkan oleh apa yang dikonsumsi. Ia juga sadar bahwa di era digital, banyak remaja tertekan gara-gara paparan media sosial, perbandingan sosial, dan perasaan seolah selalu diperhatikan orang lain. Fenomena ini disebut spotlight effect, dan menurut tim, sering jadi pemicu kecemasan sosial yang berkepanjangan.

Dari situ lahir produk kedua: SELF-SCAN, kependekan dari Self-Scan: A Youth-Driven Ecological Metacognitive System for Addressing the Global Youth Anxiety Crisis in the Digital Era. Ini aplikasi yang memakai pendekatan Ecological Momentary Assessment (EMA)—metode memantau kondisi psikologis seseorang secara real-time dalam kehidupan sehari-hari, bukan cuma lewat wawancara sesaat di klinik.

Di dalamnya ada fitur bernama Algorithmic Trigger Radar, The Auditor, dan Pattern Intelligence. Ketiganya dirancang membantu pengguna mengenali pemicu kecemasan, merefleksikan diri, dan membangun ketahanan mental jangka panjang.

baca juga

Dua Produk, Satu Tujuan

Amal menegaskan CalmBar dan SELF-SCAN sebenarnya dirancang saling melengkapi, bukan produk yang berdiri sendiri-sendiri.

"Kami ingin menghadirkan solusi yang tidak hanya membantu seseorang merasa lebih baik secara sesaat, tetapi juga membantu mereka memahami dirinya sendiri. Kesehatan mental bukan hanya tentang mengatasi gejala, tetapi juga membangun kemampuan untuk mengenali dan mengelola proses berpikir serta respons emosional secara mandiri," ungkapnya.

Kerja keras tim ini nggak sia-sia. CalmBar dan SELF-SCAN berhasil meraih Silver Medal Theme Sub Health, Silver Medal Sub Theme Food, dan Favorite Poster Theme Sub Food di ajang 5th International Youth Summit (IYS) 2026 yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 30–31 Mei 2026.

Bagi tim, ajang ini bukan cuma soal koleksi medali. Kompetisi internasional macam ini juga jadi ruang buat mereka bertukar pikiran dengan peserta dari berbagai negara soal isu yang sama-sama dihadapi anak muda di seluruh dunia: kecemasan yang datang dari tekanan hidup di zaman serba digital.

Mereka berharap riset ini berlanjut ke tahap pengembangan prototipe sampai benar-benar bisa diimplementasikan di masyarakat luas. Optimisme mereka cukup sederhana: kalau pendekatan biologis dan psikologis bisa disatukan dalam satu ekosistem, bukan tidak mungkin CalmBar dan SELF-SCAN jadi bagian dari solusi nyata menghadapi krisis kesehatan mental generasi muda—yang, sekali lagi, datanya jauh lebih besar dari yang selama ini kita kira.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.