Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) jadi kampus pertama di Jawa Tengah—negeri maupun swasta—yang meraih akreditasi internasional dari ACQUIN, lembaga penjaminan mutu pendidikan tinggi asal Jerman. Belasan asesor dari berbagai negara hadir ke Semarang untuk menguji secara langsung kualitas dua belas program studi kampus ini.
Akreditasi ini jelas bukan hanya perkara menambah daftar akreditasi. Rektor UPGRIS, Dr. Sapto Budoyo, SH, MH menegaskan bahwa langkah mengajukan akreditasi internasional ini bukan soal mengejar pengakuan dari luar negeri semata, tapi untuk menjaga mutu pendidikan.
"UPGRIS berkomitmen menjaga mutu pendidikan tinggi secara berkelanjutan. Kami ingin kualitas yang dikembangkan di kampus ini diakui tidak hanya secara nasional, tapi juga memenuhi standar internasional," kata Rektor, dikutip dari keterangan resmi Upgris.
Ada 12 program studi yang diajukan dalam akreditasi ini, yakni Manajemen, Bisnis Digital, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah, Pendidikan Matematika, Pendidikan Biologi, Pendidikan Fisika, Pendidikan Teknologi Informasi, Pendidikan Bimbingan dan Konseling, PGSD, dan PG PAUD.
Semua prodi ini dominan berbasis kependidikan, sesuai identitas UPGRIS sebagai kampus pencetak guru.
Kenapa Harus ACQUIN?
ACQUIN, kependekan dari Akkreditierungs-, Certifizierungs- und Qualitätssicherungsinstitut, bukan lembaga sembarangan. Ini asosiasi nirlaba beranggotakan lebih dari 150 institusi pendidikan tinggi di Jerman dan luar negeri, ditambah berbagai asosiasi profesi di bidang sains.
Lembaga ini lahir dari kebutuhan riil Jerman menjaga mutu pendidikan tingginya. Cikal bakalnya muncul dari resolusi Konferensi Rektor Jerman pada Juli 1998 dan Konferensi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Jerman pada Desember 1998. Saat itu, sistem program studi dan gelar di kampus-kampus Jerman berkembang pesat sehingga butuh mekanisme kontrol mutu yang jelas.
Dewan Akreditasi Jerman kemudian dibentuk Juni 1999. Mei 2000, asosiasi kepala perguruan tinggi di Bavaria memutuskan mendirikan lembaga akreditasi independen, karena keikutsertaan Jerman dalam Kawasan Pendidikan Tinggi Eropa (EHEA) mensyaratkan jaminan mutu resmi untuk program sarjana dan magister lewat akreditasi.
Bavaria tidak sendirian. Baden-Württemberg, Saxony, Thuringia, sampai Austria ikut mendukung. Pada 26 Januari 2001, ACQUIN eV resmi berdiri sebagai lembaga independen penjamin mutu.
Sampai sekarang, misi ACQUIN tetap sama, yakni menjalankan akreditasi nasional maupun lintas universitas untuk program sarjana dan magister di semua disiplin ilmu. Tujuan jelas untuk memastikan mutu tinggi, menciptakan transparansi pasar pendidikan, meningkatkan daya tarik kampus di mata mahasiswa asing, dan mempromosikan keterbandingan gelar akademik antarnegara.
Aspek Penilaian Akreditasi ACQUIN
Selama asesmen, tim asesor internasional menilai banyak aspek, mulai dari tata kelola perguruan tinggi, sistem penjaminan mutu, kurikulum, kualitas sumber daya manusia, riset, pengabdian masyarakat, sampai luaran tiap prodi.
Asesornya lintas negara: Maria Zinsmeister, Dr. Tamta Lekishvili, Henrik Eckert, Assoc. Prof. Majid Daneshgar, Prof. Dr. Christopher Kuhn, Prof. Dr. Valerie Sollars, Prof. Dipsych Tija Sirina, Prof. Dr. Hans Stefan Sillers, Prof. Dr. Paul Edwin Wierenga, Prof. Dr. Bas Aarts, Prof. Dr. Vincentes L., Associate Prof. Dr. Jesper Brun, Prof. Dr. Kien, dan Robert Raback.
Skemanya, para asesor ini berdialog langsung dengan pimpinan kampus, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, sampai pemangku kepentingan eksternal. Ini yang membuat penilaian ACQUIN berbeda dari audit yang lebih berfokus pada hal-hal yang administratif. Di ACQUIN, suara mahasiswa dan alumni ikut menentukan hasil akhir.
UPGRIS Kini Berjejer dengan Kampus Besar
Menariknya, kalau ditelusuri daftar kampus Indonesia yang pernah diakreditasi ACQUIN, UPGRIS kini berada di jalur yang sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Negeri Malang, Universitas Tanjungpura, dan Universitas Bengkulu.
UGM misalnya, sudah lebih dulu mengantongi akreditasi ACQUIN untuk prodi Antropologi Budaya, Pariwisata, Sosiologi, Hubungan Internasional, sampai Manajemen Pendidikan Tinggi. UPI bahkan tercatat paling sering mengajukan akreditasi ACQUIN, mencakup rumpun pendidikan bahasa, keguruan, psikologi, teknik, hingga pariwisata.
Ada juga Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN). Prodi sarjana dan magisternya di bidang intelijen ikut mendapat pengakuan ACQUIN pada 2024. Ini menunjukkan akreditasi internasional semacam ini tidak eksklusif untuk PTN besar saja, tapi terbuka untuk kampus swasta maupun kedinasan yang serius menjaga mutu.
Apa Dampaknya Buat Mahasiswa?
Gelar dari prodi terakreditasi ACQUIN lebih mudah diakui dan dibandingkan oleh perguruan tinggi di luar negeri. Ini berarti proses transfer kredit, studi lanjut, atau kerja sama riset lintas negara jadi lebih mulus.
Bagi UPGRIS, capaian ini juga jadi modal memperkuat arah internasionalisasi kampus yang sudah dirintis beberapa tahun terakhir, mulai dari kerja sama dengan lembaga luar negeri, peningkatan kapasitas dosen, sampai program pertukaran mahasiswa, praktik pengalaman lapangan (PPL) internasional, dan KKN lintas negara.
Predikat sebagai kampus pertama di Jawa Tengah yang meraih akreditasi ACQUIN sebenarnya menyimpan pesan lebih besar dari sekadar prestise. Ini sinyal bahwa standar mutu internasional bukan monopoli kampus-kampus besar di Jawa Barat atau Yogyakarta.
Kampus daerah dengan basis kependidikan seperti UPGRIS pun bisa menembus standar yang sama. Bagi perguruan tinggi lain di Jawa Tengah, capaian ini bisa jadi pemicu untuk berani mengejar jalur serupa.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


