Bagaimana jika sebuah kota yang pernah dihuni sekitar 10.000 orang tiba-tiba lenyap tanpa meninggalkan jejak yang pasti? Bukan karena perang ataupun wabah, melainkan akibat letusan gunung berapi yang begitu dahsyat hingga dampaknya tercatat di berbagai belahan dunia.
Kisah tersebut dipercaya pernah terjadi di Pulau Lombok. Namanya Pamatan, sebuah kerajaan kuno yang hingga kini masih menjadi misteri. Keberadaannya dikenal melalui naskah kuno Babad Lombok, sementara bukti arkeologisnya masih terus dicari.
Menariknya lagi, bencana yang diduga mengakhiri kejayaan Pamatan ternyata telah dibuktikan melalui penelitian ilmiah modern sebagai salah satu letusan gunung berapi terbesar dalam dua milenium terakhir.
Dari Permukiman Laeq Menuju Kerajaan Pamatan
Menurut Babad Lombok, masyarakat Sasak awalnya tinggal di sebuah permukiman bernama Laeq yang diperkirakan berada di kawasan Sambalia, Lombok Timur. Kehidupan mereka masih sederhana dengan bertani padi, menanam kapas, dan belum mengenal sistem pemerintahan kerajaan yang mapan.
Seiring bertambahnya jumlah penduduk, sebagian masyarakat kemudian berpindah dan mendirikan pusat permukiman baru bernama Pamatan. Lokasinya diperkirakan berada di sekitar kaki Gunung Samalas atau Rinjani, dengan dugaan berada di wilayah Aikmel maupun Sembalun.
Berbeda dengan Laeq, Pamatan telah dipimpin oleh seorang raja sehingga dianggap sebagai salah satu awal berkembangnya sistem kerajaan di Pulau Lombok.
Kota Besar di Lombok pada Abad ke-13
Yang membuat Pamatan menarik adalah gambaran kotanya dalam naskah kuno. Kota ini disebut memiliki sekitar 10.000 penduduk, dilengkapi tembok pertahanan, balai kota, rumah-rumah penduduk, hingga jalan-jalan besar. Untuk ukuran abad ke-13, deskripsi tersebut menunjukkan bahwa Pamatan bukan sekadar desa, melainkan pusat pemerintahan yang cukup maju.
Pada masa itu, Lombok juga dihuni beberapa kerajaan lain seperti Suwung, yang kemudian disusul Selaparang, Pejanggik, dan Langko. Namun, Pamatan kerap disebut sebagai salah satu kerajaan paling penting sebelum periode tersebut.
Meski demikian, seluruh informasi mengenai Pamatan masih bertumpu pada sumber-sumber tertulis dan tradisi lokal. Para arkeolog hingga kini belum menemukan situs yang dapat dipastikan sebagai ibu kota kerajaan tersebut.
KetikaSamalasMengubahSejarah
Kejayaan Pamatan diyakini berakhir sekitar tahun 1257 ketika Gunung Samalas meletus sangat dahsyat. Gunung purba yang kini menyisakan Kaldera Segara Anak itu memuntahkan aliran piroklastik yang menghancurkan kawasan di sekitarnya. Permukiman, lahan pertanian, hingga pusat-pusat kehidupan masyarakat diduga terkubur dalam waktu singkat.
Babad Lombok mengisahkan bahwa banyak penduduk menjadi korban, meski sebagian keluarga kerajaan dan rakyat berhasil menyelamatkan diri ke wilayah lain. Dari perpindahan para penyintas inilah dipercaya kemudian muncul pusat-pusat kekuasaan baru di Lombok.
Yang menarik, kisah ini tidak hanya hidup sebagai legenda. Penelitian yang dipimpin vulkanolog Franck Lavigne dan dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) pada 2013 berhasil mengidentifikasi Gunung Samalas sebagai sumber "mystery eruption" tahun 1257. Letusan tersebut bahkan meninggalkan jejak sulfur pada inti es di Greenland dan Antartika serta diduga mempengaruhi iklim global pada abad ke-13.
MisteriyangMasihMenungguTerungkap
Hingga sekarang, lokasi pasti Kerajaan Pamatan masih menjadi teka-teki. Pada 2018, tim gabungan Badan Geologi Bandung dan Balai Arkeologi Bali melakukan penelitian di sejumlah lokasi yang diduga berkaitan dengan Kerajaan Pamatan. Salah satu lokasinya berada di Dusun Tanak Bengan, Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah.
Di kawasan itu, para peneliti menemukan singkapan endapan piroklastik setinggi lebih dari 10 meter, yang merekam tahapan letusan Gunung Samalas. Yang lebih menarik, tepat di bawah lapisan material vulkanik tersebut ditemukan lapisan budaya berupa sebaran tembikar, pecahan kendi, keramik, fragmen logam, hingga tulang dan gigi hewan.
Sejumlah artefak tersebut menunjukkan bahwa masyarakat di kawasan tersebut telah memiliki peradaban yang berkembang. Kehadiran keramik dari masa Dinasti Tang, misalnya, mengisyaratkan adanya hubungan dengan dunia luar jauh sebelum Gunung Samalas meletus.
Hal ini memperkuat dugaan bahwa Pamatan juga sebagai pusat aktivitas politik, ekonomi, sekaligus perdagangan di Pulau Lombok pada masanya.
Meski demikian, para peneliti masih berhati-hati. Berbagai temuan tersebut memang menjadi indikasi yang menjanjikan, tetapi belum cukup untuk menyatakan secara bahwa lokasi tersebut adalah ibu kota Kerajaan Pamatan sebagaimana disebut dalam Babad Lombok. Penelitian lanjutan masih diperlukan agar hubungan antara temuan arkeologis dan catatan sejarah dapat dipastikan secara ilmiah.
Meski identitasnya belum dapat dipastikan sepenuhnya, setiap penelitian baru membawa kita selangkah lebih dekat untuk memahami salah satu bab paling menarik dalam sejarah Pulau Lombok. Sampai hari itu tiba, Pamatan tetap menjadi salah satu misteri sejarah Indonesia yang paling menarik.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

