mengenal ajang kelicung flora identitas nusa tenggara barat yang kian langka - News | Good News From Indonesia 2026

Mengenal Ajang Kelicung, Flora Identitas Nusa Tenggara Barat yang Kian Langka

Mengenal Ajang Kelicung, Flora Identitas Nusa Tenggara Barat yang Kian Langka
images info

Pohon Ajang Kelicung | Wikimedia Commons: Raditya Nanta


Di balik bentang alam Nusa Tenggara Barat (NTB) yang didominasi perbukitan, savana, dan hutan tropis, tumbuh sebuah pohon yang menjadi kebanggaan daerah: Ajang Kelicung (Diospyros macrophylla).

Masyarakat mengenalnya sebagai kayu kelicung atau kayu hitam Nusa Tenggara, sejenis pohon berkayu keras yang menjadi bagian dari kekayaan hayati Pulau Lombok dan Sumbawa.

Selain dikenal karena kualitas kayunya yang bernilai tinggi, Ajang Kelicung merupakan flora identitas Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sayangnya, di balik predikat tersebut tersimpan ironi.

Pohon yang tumbuh lambat ini kini semakin sulit dijumpai di habitat alaminya akibat eksploitasi dan berkurangnya kawasan hutan. 

Morfologi Ajang Kelicung

Ajang Kelicung merupakan anggota famili Ebenaceae, kelompok tumbuhan yang juga mencakup berbagai jenis eboni dan kesemek.

Pohon ini dapat tumbuh hingga puluhan meter dengan batang lurus, tajuk yang rindang, serta kayu berwarna gelap yang terkenal kuat dan awet.

Secara morfologi, Ajang Kelicung memiliki daun tunggal berbentuk lonjong dengan permukaan mengilap. Bunganya berwarna putih kekuningan dan mengeluarkan aroma harum, sedangkan buahnya berbentuk bulat yang akan berubah menjadi jingga hingga kemerahan ketika matang.

Di berbagai daerah di Indonesia, pohon ini juga dikenal dengan nama ki calung, areng-areng, atau siamang.

Habitat alaminya berada di hutan dataran rendah, terutama di kawasan yang memiliki drainase baik, seperti tepian sungai atau lereng yang tidak tergenang air.

Meski penyebarannya terdapat di beberapa wilayah Indonesia, NTB menjadi daerah yang paling lekat dengan identitas pohon ini karena ditetapkan sebagai flora khas provinsi.

baca juga

Kayu Berkualitas Tinggi dengan Banyak Manfaat

Salah satu alasan Ajang Kelicung begitu dikenal adalah kualitas kayunya. Kayu pohon ini memiliki tekstur yang halus, serat yang indah, serta daya tahan tinggi terhadap cuaca maupun serangan hama.

Karakteristik tersebut membuatnya banyak dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, jembatan, kusen, furnitur, hingga berbagai produk kerajinan dan ukiran.

Bagi para pengrajin, kayu kelicung menjadi material yang bernilai karena menghasilkan produk yang kokoh sekaligus memiliki tampilan elegan. Nilai ekonominya yang tinggi bahkan menjadikannya salah satu jenis kayu yang cukup diminati di pasaran.

Namun, tingginya permintaan juga membawa konsekuensi. Penebangan yang tidak terkendali selama bertahun-tahun membuat populasi Ajang Kelicung di alam terus menyusut.

Di sisi lain, pohon ini memiliki laju pertumbuhan yang relatif lambat sehingga regenerasi alaminya tidak mampu mengimbangi tingkat eksploitasi.

Simbol Identitas NTB

Sebagai flora identitas Nusa Tenggara Barat, Ajang Kelicung memiliki makna yang melampaui nilai ekonominya. Keberadaannya menjadi representasi kekayaan alam yang dimiliki provinsi ini sekaligus pengingat bahwa setiap daerah di Indonesia memiliki spesies khas yang perlu dijaga.

Ajang Kelicung juga pernah diabadikan dalam perangko Indonesia. Pengakuan simbolik tersebut menunjukkan bahwa pohon ini memiliki nilai penting, tidak hanya bagi masyarakat NTB, tetapi juga sebagai bagian dari kekayaan hayati nasional.

Di tingkat lokal, pemanfaatan kayunya dalam berbagai kerajinan menunjukkan hubungan erat antara alam dan budaya masyarakat.

Bahan baku dari hutan tidak hanya dipandang sebagai sumber ekonomi, tetapi juga menjadi media untuk mempertahankan tradisi dan keterampilan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Populasi Terus Menurun, Konservasi Menjadi Kebutuhan

Saat ini, tantangan terbesar Ajang Kelicung adalah menurunnya populasi di habitat alami. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa pohon ini semakin jarang ditemukan di kawasan hutan NTB. Penyebabnya beragam, mulai dari penebangan liar, alih fungsi lahan menjadi permukiman atau area pertanian, hingga minimnya upaya budidaya.

Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena hilangnya satu spesies bukan hanya berarti berkurangnya jumlah pohon. Lebih dari itu, ekosistem yang bergantung pada keberadaannya juga dapat mengalami perubahan. Selain itu, NTB berpotensi kehilangan salah satu identitas alam yang telah melekat selama bertahun-tahun.

Berbagai langkah konservasi dapat dilakukan, mulai dari rehabilitasi kawasan hutan, pembibitan dan penanaman kembali, hingga edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga flora lokal. Pelestarian juga perlu melibatkan pemerintah, akademisi, komunitas, dan masyarakat sekitar hutan agar upaya yang dilakukan dapat berjalan berkelanjutan.

baca juga

Ajang Kelicung membuktikan bahwa sebuah pohon dapat menyimpan banyak nilai sekaligus. Di tengah ancaman terhadap keberadaannya, pelestarian Ajang Kelicung menjadi tanggung jawab bersama. Karena ia merupakan sumber daya alam yang bernilai ekonomi, bagian dari keseimbangan ekosistem, sekaligus simbol identitas Nusa Tenggara Barat.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.