mengapa kita cenderung tertarik pada seseorang yang sulit didapatkan - News | Good News From Indonesia 2026

Mengapa Kita Cenderung Tertarik pada Seseorang yang Sulit Didapatkan?

Mengapa Kita Cenderung Tertarik pada Seseorang yang Sulit Didapatkan?
images info

Ilustrasi seseorang menunggu balasan pesan | Pexels/Nam Mau


Pernahkah Kawan GNFI menyadari bahwa isi kepala kita sering kali bekerja dengan cara yang sangat kontradiktif dalam urusan perasaan?

Saat ada seseorang yang membalas pesan dalam hitungan detik, selalu ada saat dibutuhkan, dan secara terbuka menunjukkan ketertarikannya, dinamika itu sering kali terasa datar.

Tidak ada letupan. Namun, ceritanya akan langsung berubah ketika kita berhadapan dengan seseorang yang irit kata, membalas pesan berjam-jam kemudian, atau bersikap setengah hati. Tiba-tiba saja, seluruh fokus dan energi kita terserap untuk memikirkan dia sepanjang hari.

Secala logika, ini adalah sebuah anomali. Kita tahu bahwa mengejar ketidakpastian itu melelahkan, tetapi mengapa otak kita justru merasa tertantang untuk memecahkan teka-teki dari seseorang yang sulit didapatkan?

Drama read tapi tidak dibalas di WhatsApp atau sinyal ambigu di media sosial bukan lagi sekadar pelengkap hubungan anak muda hari ini, melainkan sebuah fenomena psikologis nyata yang memiliki akar riset yang sangat panjang.

Prinsip Kelangkaan dan Cara Kita Menilai Seseorang

Secara psikologis, manusia cenderung menilai sesuatu menjadi jauh lebih berharga ketika hal tersebut sulit untuk didapatkan. Hal yang sama berlaku dalam hubungan interpersonal.

Harry Reis, seorang profesor psikologi di University of Rochester, menjelaskan bahwa sikap selektif atau sulit didapatkan bisa membuat seseorang tampak lebih diminati.

Dalam istilah psikologi, kondisi ini disebut memiliki mate value atau nilai pasangan yang lebih tinggi. Sebaliknya, seseorang yang terlalu mudah didekati atau terlalu cepat menunjukkan ketertarikan berisiko dipersepsikan sebagai pribadi yang terlalu membutuhkan validasi dari orang lain.

Untuk menguji fenomena ini, Reis bersama Gurit Birnbaum, seorang psikolog sosial dari Interdisciplinary Center Herzliya, pernah melakukan serangkaian eksperimen.

Mereka meminta para partisipan untuk berinteraksi dengan seseorang yang sebenarnya merupakan bagian dari tim peneliti.

baca juga

Hasil eksperimen tersebut menunjukkan pola yang konsisten. Peserta yang berhadapan dengan sosok yang lebih selektif dalam menunjukkan ketertarikan justru menganggap sosok tersebut lebih bernilai dan layak untuk diperjuangkan.

Kondisi ini berkaitan erat dengan prinsip reciprocity of attraction, sebuah kecenderungan di mana kita biasanya menyukai orang yang menyukai kita.

Namun, begitu kepastian itu hilang atau menjadi kabur, otak kita justru terpancing untuk terus mengejar jawabannya.

Ketidakpastian yang Memicu Rasa Penasaran

Penjelasan lain mengenai fenomena ini bukan selalu tentang seberapa istimewanya sosok yang sedang dikejar, melainkan tentang rasa penasaran yang berhasil ia timbulkan.

Sebuah tinjauan ilmiah yang dimuat dalam Journal of Sex Research mengungkapkan bahwa perasaan tertarik sering kali muncul dari ketidakpastian itu sendiri.

Ketika seseorang tidak yakin bagaimana penilaian orang lain terhadap dirinya, otak secara alami akan berusaha mengurai kebingungan tersebut. Caranya adalah dengan memaksa pikiran untuk terus berfokus pada orang itu.

Dinamika ini mirip dengan kebiasaan memeriksa cerita Instagram mantan atau gebetan berkali-kali hanya karena status atau unggahan yang mereka buat terasa ambigu.

Semakin tidak jelas sinyal yang diberikan, semakin sering seseorang memutar ulang setiap pesan dan interaksi di dalam kepala, mencoba menemukan petunjuk yang sebenarnya belum tentu ada.

Pola Kelekatan di Balik Keinginan Mengejar

Menariknya, kecenderungan untuk tertarik pada sosok yang sulit dijangkau tidak hanya sekadar strategi pencarian pasangan, tetapi juga berkaitan erat dengan gaya kelekatan (attachment style) yang dimiliki sejak masa lalu.

Omri Gillath, seorang profesor psikologi dari University of Kansas, menemukan bahwa individu dengan gaya kelekatan cemas (anxious attachment style) cenderung lebih mudah tergoda untuk mengejar sosok yang menghindar atau bersikap dingin.

baca juga

Menurut analisis Gillath, perilaku sulit didapatkan sering kali berfungsi sebagai cara untuk melindungi diri sekaligus mengelola perilaku calon pasangan.

Artinya, bagi sebagian orang, mengejar seseorang yang tidak acuh bukanlah taktik permainan cinta yang disengaja. Hal tersebut bisa jadi merupakan cerminan dari luka lama atau ketakutan mendalam terhadap keintiman emosional yang belum terselesaikan.

Jika seseorang terus-menerus terjebak pada figur yang sulit dipahami, alasannya mungkin bukan karena sosok tersebut sangat memikat, melainkan karena ada pola kelekatan dalam diri sendiri yang sedang bekerja di balik layar.

Pada akhirnya, merasa penasaran dan tertarik pada seseorang yang sulit didapatkan adalah hal yang manusiawi. Riset psikologi telah membuktikan bahwa emosi ini memiliki dasar yang nyata, mulai dari penilaian nilai pasangan, dorongan rasa penasaran, hingga pengaruh pola kelekatan masa lalu.

Namun, rentetan penelitian yang sama juga memberikan sebuah catatan penting bahwa strategi traik-ulur ini memiliki batasan yang jelas. Jika ketidakpastian dibiarkan menggantung terlalu lama, rasa penasaran tersebut bisa berubah menjadi kelelahan emosional.

Lambat laun, seseorang akan kehilangan minat dan memilih untuk mencari sosok lain yang lebih terbuka serta berani jujur dengan perasaannya.

Jadi, ketika lain kali muncul perasaan makin penasaran pada seseorang yang bersikap cuek, mungkin itu saatnya bagi Kawan GNFI untuk berhenti sejenak dan berefleksi.

Pertanyaannya bukan lagi seberapa menarik dirinya, melainkan apakah kita benar-benar menyukai orangnya, atau kita hanya sedang terjebak dalam labirin rasa penasaran yang ia ciptakan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.