Buka ChatGPT, ketik pertanyaan, lalu dapatkan jawaban dalam hitungan detik. Bagi Gen Z, pemandangan seperti ini sudah menjadi bagian dari keseharian. AI hadir di berbagai aspek kehidupan, mulai dari mencari referensi tugas, menyusun ide tulisan, hingga sekadar mencari teman berbicara.
Tidak mengherankan jika Survei Internet APJII tahun 2025 yang melibatkan 8.700 responden mencatat Generasi Z sebagai kelompok pengguna AI terbesar di Indonesia dengan persentase mencapai 43,7%, jauh melampaui generasi milenial yang hanya sebesar 22,3%.
Pengaruh AI diperkirakan akan semakin besar di masa depan. Microsoft Work Trend Index 2025 mencatat bahwa 97% pemimpin bisnis di Indonesia memandang tahun 2025 sebagai momentum penting untuk mengevaluasi kembali cara mereka bekerja bersama AI.
Namun, perubahan tersebut tidak selalu disambut dengan optimisme. Survei PwC yang diterbitkan pada awal 2026 menunjukkan bahwa 42% Generasi Z di Indonesia justru merasa cemas dan kewalahan menghadapi tekanan dunia kerja yang semakin dipengaruhi oleh teknologi.
Di tengah perubahan ini, muncul pertanyaan yang menarik: apakah kedekatan Generasi Z dengan AI merupakan bentuk adaptasi yang sehat, atau justru awal dari ketergantungan yang dapat mengikis kemampuan berpikir kritis dan kualitas hubungan antarmanusia?
AI Bukan Lagi Sekadar Alat Belajar
Kecerdasan buatan kini telah menjadi bagian dari cara Generasi Z belajar. Penelitian Rahmadani dkk. (2025) terhadap 107 responden menunjukkan bahwa 90,7% responden menggunakan AI secara rutin, sementara 86% memanfaatkannya untuk mencari referensi tugas akademik. Lebih dari separuh responden, yakni 56,1%, bahkan mengaku sering merasa bergantung pada AI. Temuan ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan lagi terletak pada seberapa sering AI digunakan, melainkan pada kecenderungan menjadikan teknologi sebagai jalan pintas yang menggantikan proses memahami informasi secara mandiri.
Fenomena tersebut mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit mahasiswa yang lebih memilih meminta AI merangkum jurnal atau menyusun kerangka jawaban daripada membaca sumber aslinya. Kemudahan ini memang menghemat waktu, tetapi jika digunakan secara berlebihan, kebiasaan berpikir kritis dan kemandirian dalam belajar berisiko ikut terkikis.
Ketika AI Menjadi Tempat Curhat
Pengaruh AI ternyata tidak berhenti pada aktivitas belajar. Penelitian Faatin dan rekan-rekannya dari Universitas Negeri Semarang pada tahun 2026 menemukan bahwa 45% peserta menggunakan AI untuk keperluan pribadi dan emosional. Sebagian besar mengaku kesulitan mengungkapkan perasaan dengan kata-kata sendiri, sementara yang lain merasa AI selalu tersedia dan tidak menghakimi. Temuan ini menunjukkan bahwa bagi sebagian Generasi Z, AI mulai berperan sebagai tempat mencari kenyamanan emosional.
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang yang sedang menghadapi masalah pribadi atau tekanan akademik terkadang lebih memilih mencurahkan perasaannya kepada AI daripada berbicara dengan keluarga atau sahabat. Respons yang cepat dan tidak menghakimi memang terasa menenangkan, tetapi ketergantungan yang berlebihan berisiko membuat hubungan dengan sesama manusia semakin renggang.
Gen Z: Fasih Menggunakan AI, tetapi Tetap Menjaga Jarak
Meskipun menjadi generasi yang paling akrab dengan teknologi, Generasi Z ternyata tidak serta-merta mempercayai AI sepenuhnya. Penelitian Fortune dkk. (2025) menunjukkan bahwa para responden mengakui manfaat AI dalam meningkatkan efisiensi, tetapi pada saat yang sama menyadari bahwa penggunaan yang berlebihan dapat mengurangi kreativitas dan orisinalitas. Menariknya, banyak responden memilih jawaban netral ketika ditanya mengenai tingkat kepercayaan mereka terhadap AI.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa Generasi Z sebenarnya masih memiliki kesadaran kritis terhadap keterbatasan AI. Tidak sedikit mahasiswa maupun pekerja yang menggunakan AI untuk mencari ide atau mempercepat pekerjaan, tetapi tetap memeriksa kembali informasi yang diperoleh melalui buku, jurnal, atau sumber lain. Sikap skeptis yang sehat inilah yang memungkinkan manusia tetap menjadi pengambil keputusan, bukan sekadar penerima hasil dari algoritma.
Di Antara Ancaman dan Adaptasi
Pada akhirnya, ketergantungan Generasi Z terhadap AI tidak dapat dipandang semata-mata sebagai ancaman maupun bentuk adaptasi yang sepenuhnya positif. Keduanya bergantung pada cara manusia memanfaatkan teknologi tersebut.
Ketika AI digunakan untuk memperluas kemampuan berpikir, ia menjadi sarana adaptasi terhadap perkembangan zaman. Namun, ketika kemudahan yang ditawarkannya justru membuat manusia berhenti berpikir, kehilangan empati, dan menjauh dari hubungan sosial yang nyata, saat itulah ketergantungan berubah menjadi ancaman.
Karena itu, tantangan terbesar Generasi Z bukanlah belajar hidup tanpa AI, melainkan belajar hidup bersama AI tanpa kehilangan kemampuan yang membuat manusia tetap menjadi manusia. Sebab, ancaman terbesar dari kecerdasan buatan bukanlah mesin yang menjadi terlalu pintar, melainkan manusia yang menjadi terlalu terbiasa untuk tidak berpikir.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.


