indonesia punya pohon dengan minyak hingga 70 persen bisa jadi senjata baru di era energi hijau - News | Good News From Indonesia 2026

Indonesia Punya Pohon dengan Minyak hingga 70 Persen, Bisa Jadi Senjata Baru di Era Energi Hijau

Indonesia Punya Pohon dengan Minyak hingga 70 Persen, Bisa Jadi Senjata Baru di Era Energi Hijau
images info

Buah Nyamplung


Kalau selama ini nyamplung hanya dikenal sebagai pohon peneduh di kawasan pantai, mungkin sudah waktunya reputasinya naik kelas. Di balik buahnya yang sering jatuh begitu saja, tersimpan potensi besar yang bisa membantu Indonesia mengejar target energi hijau sekaligus memulihkan lahan-lahan kritis. Tak tanggung-tanggung, minyak dari biji nyamplung bahkan digadang-gadang dapat menjadi bahan baku bioavtur untuk pesawat terbang.

Potensi inilah yang terus dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Berbeda dengan kelapa sawit atau tanaman pangan lainnya, nyamplung tidak bersaing dengan kebutuhan konsumsi masyarakat. Artinya, pengembangannya sebagai tanaman energi tidak akan mengganggu ketahanan pangan nasional.

Kandungan Minyaknya Bisa Mencapai 70 Persen

Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Budi Leksono, menjelaskan bahwa biji nyamplung memiliki kandungan minyak yang sangat tinggi, yakni sekitar 60–70 persen. Kandungan tersebut menjadikannya salah satu kandidat paling menjanjikan sebagai sumber bahan bakar nabati.

"Minyak nyamplung berpotensi diolah menjadi biokerosin, biodiesel, hingga bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang saat ini menjadi kebutuhan penting dalam agenda transisi energi global. Produktivitas tanaman yang relatif tinggi menjadikan nyamplung sebagai salah satu kandidat unggulan tanaman energi berbasis tanaman hutan," ujarnya.

Di tengah meningkatnya kebutuhan bahan bakar rendah emisi, terutama di sektor penerbangan, potensi ini menjadi sangat strategis. Indonesia memiliki peluang besar untuk memanfaatkan sumber daya hayati lokal sebagai bahan bakar masa depan tanpa bergantung sepenuhnya pada energi fosil.

Bisa Tumbuh di Lahan Kritis Sekaligus Menyerap Karbon

Keunggulan nyamplung bukan hanya terletak pada minyaknya. Tanaman asli Indonesia ini mampu tumbuh di lahan marginal, termasuk kawasan tandus dan lahan kritis yang sulit ditanami tanaman pangan. Dengan kata lain, nyamplung bisa menghasilkan energi tanpa harus membuka lahan pertanian baru.

Menurut Budi, pengembangan nyamplung juga dapat menjadi strategi rehabilitasi lingkungan. Akar dan tajuknya membantu memperbaiki kondisi lahan, sementara kemampuannya menyerap karbon berkontribusi terhadap target Net Zero Emission yang tengah dikejar Indonesia.

Pemanfaatan nyamplung juga membuka peluang peningkatan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan hutan maupun pesisir. Lahan yang sebelumnya tidak produktif dapat menghasilkan komoditas bernilai ekonomi tanpa mengorbankan fungsi ekologisnya.

Tidak Ada yang Terbuang Berkat Konsep Ekonomi Sirkular

Yang lebih menarik, hampir tidak ada bagian buah nyamplung yang terbuang. BRIN mengembangkan konsep ekonomi sirkular sehingga seluruh komponen buah dimanfaatkan.

Minyak bijinya diolah menjadi biofuel, sedangkan tempurung dan ampasnya bisa diubah menjadi pellet biomassa, biochar, arang aktif, hingga pakan ternak berprotein tinggi. Residu cair seperti resin dan gliserol pun dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku sabun serta produk biofarmaka.

Pendekatan ini membuat nilai ekonomi nyamplung jauh lebih tinggi dibandingkan jika hanya dimanfaatkan sebagai penghasil minyak semata. Setiap bagian tanaman memiliki peluang menjadi produk bernilai tambah sehingga limbah produksi dapat ditekan seminimal mungkin.

Potensinya Merambah Dunia Farmasi dan Kosmetik

Potensi nyamplung juga diperkuat oleh riset kolaboratif Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Institut Teknologi Bandung (ITB). Penelitian yang dilakukan Ika Amalia Kartika, A. Febriani Pahan, Ono Suparno, dan Danu Ariono menggunakan sampel dari Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHTDK) Carita, Banten.

Hasil penelitian menunjukkan biji nyamplung mengandung minyak sebesar 39,43 persen. Sementara itu, cangkangnya mengandung karbohidrat sebesar 28,56 persen dan serat hingga 45,29 persen yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan perekat industri kertas maupun papan gipsum.

Tak kalah menarik, resin hasil ekstraksinya kaya akan senyawa fenolik yang memiliki aktivitas antioksidan, antiinflamasi, antimikroba, bahkan berpotensi dikembangkan sebagai bahan antikanker.

Di sektor kosmetik, minyak nyamplung juga dinilai sangat menjanjikan. Bilangan iodnya yang rendah membuat minyak ini cocok dijadikan bahan baku sampo, losion, hingga berbagai produk perawatan kulit. Pemanfaatan tersebut sebenarnya sudah lama dikenal masyarakat yang menggunakan minyak nyamplung sebagai obat tradisional untuk penyakit kulit dan rematik.

Produktivitasnya Mengungguli Kelapa Sawit

Dari sisi produktivitas, nyamplung menawarkan kejutan yang sulit diabaikan. Tanaman ini diproyeksikan mampu menghasilkan hingga 20 ton per hektare per tahun, jauh lebih tinggi dibandingkan produktivitas kelapa sawit yang rata-rata sekitar 6 ton per hektare per tahun.

Dengan kombinasi produktivitas tinggi, kemampuan tumbuh di lahan marginal, serta nilai tambah dari berbagai produk turunannya, nyamplung dinilai memiliki prospek besar sebagai salah satu komoditas bioenergi masa depan Indonesia.

Dengan potensi menghasilkan bioavtur, biodiesel, kosmetik, produk farmasi, hingga material industri sekaligus mampu menghijaukan lahan rusak, nyamplung tampaknya bukan lagi sekadar pohon pantai yang sering luput dari perhatian.

Jika riset, investasi, dan hilirisasinya terus dikembangkan secara konsisten, bukan tidak mungkin nyamplung akan menjadi salah satu komoditas strategis Indonesia. Pohon yang selama ini tumbuh tenang di pesisir itu bisa berubah menjadi "ladang energi hijau" yang menopang ketahanan energi nasional sekaligus membantu pemulihan lingkungan.

baca juga

baca juga

https://www.youtube.com/watch?v=OiE7zuwyLDs

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.