Rencana implementasi bahan bakar biodiesel B50 berbasis minyak kelapa sawit digadang-gadang punya potensi besar untuk memangkas angka emisi gas rumah kaca di tanah air. Secara teori, bahan bakar nabati ini jauh lebih bersih kalau dibandingkan dengan solar fosil yang selama ini mengeruk isi bumi. Namun, hitung-hitungan emisi sepanjang siklus hidup minyak sawit ini rupanya tidak sesederhana yang dibayangkan karena dipengaruhi oleh banyak faktor di lapangan.
Variabel penentunya sangat beragam, mulai dari bagaimana praktik budidaya pohon sawit di perkebunan, proses pengolahan di pabrik, pilihan jenis bahan baku (seperti CPO, RBDPO, atau PFAD), sampai ke metode perhitungan perubahan tata guna lahan.
Seluruh komponen tersebut akan menghasilkan angka estimasi dampak lingkungan yang berbeda-beda. Manfaat bersih dari B50 ini bahkan bisa langsung jeblok dan kehilangan tujuannya kalau minyak sawit yang dipakai ternyata diproduksi dari hasil membabat hutan lindung atau mengonversi lahan gambut yang kaya stok karbon.
Oleh karena itu, jaminan bahwa pasokan kelapa sawit diproduksi melalui praktik yang berkelanjutan menjadi harga mati. Tanpa adanya pengawasan ketat di sektor hulu, klaim sebagai energi hijau rendah emisi justru bisa berbalik menjadi pemicu kerusakan lingkungan yang baru.
"Secara umum berbagai penelitian menunjukkan biodiesel sawit menghasilkan emisi GRK yang lebih rendah dibandingkan diesel fosil," ujar Dosen Teknik Mesin dan Biosistem IPB University, Dr Leopold Oscar Nelwan.
Namun, manfaat tersebut bakal berkurang secara drastis apabila proses produksinya masih dikaitkan dengan pembukaan lahan berstok karbon tinggi.
Karakter Minyak Sawit dan Ancaman Kerusakan Mesin
Masuk ke aspek teknis kendaraan, karakteristik kimiawi biodiesel sangat berbeda dengan solar murni karena senyawa penyusunnya berupa ester asam lemak. Sifat bawaan ini membuat cairan biodiesel menjadi sangat sensitif terhadap kondisi lingkungan sekitar. Sifatnya mirip seperti spons yang gampang menyerap kandungan air dari udara, serta mudah teroksidasi kalau terlalu lama didiamkan.
Proses oksidasi pada cairan bakar yang mengendap berpotensi memicu lahirnya zat peroksida, asam organik, hingga endapan berupa gel (gum) yang otomatis menurunkan mutu bahan bakar. Di sisi lain, tingginya kandungan air di dalam tangki bisa memicu reaksi hidrolisis, mempercepat korosi atau karatan pada komponen besi, hingga menyuburkan pertumbuhan mikroorganisme seperti lumut.
Risiko kerusakan ini diprediksi bakal semakin meningkat pada formula campuran tinggi seperti B30 hingga B50 kalau sistem pengelolaannya di SPBU maupun kendaraan kurang optimal.
Meski demikian, serangkaian uji coba pada kendaraan sebetulnya menunjukkan bahwa mesin-mesin diesel modern generasi terbaru masih sanggup menenggak solar campuran sawit berkadar tinggi ini dengan aman sejauh ribuan kilometer tanpa ada penurunan performa yang berarti.
"Namun, hasil tersebut umumnya diperoleh menggunakan bahan bakar yang masih segar sehingga belum sepenuhnya menggambarkan kondisi penyimpanan dan distribusi dalam jangka panjang," urai Leopold Oscar Nelwan.
Transisi Menuju Era Kendaraan Listrik Total
Hambatan terbesar di sektor hilir justru terletak pada rantai logistik pengiriman bahan bakar di Indonesia yang jalurnya sangat panjang. Kondisi bahan bakar segar yang diuji di laboratorium tentu akan berbeda nasibnya setelah melewati proses pengiriman berhari-hari menggunakan kapal tangker atau truk, hingga disimpan berbulan-bulan di dalam bungker penampungan daerah terpencil.
Guna mengantisipasi hal tersebut, peluncuran program B50 secara nasional harus dikawal lewat pengujian jangka panjang yang melibatkan masukan dari pihak industri otomotif, akademisi, hingga masyarakat pengguna langsung di jalan raya. Pemantauan berkala wajib dilakukan untuk melihat efek nyata penumpukan zat asam di dalam ruang bakar mesin masyarakat.
Ke depan, peran biodiesel ini sebaiknya diposisikan sebagai teknologi transisi atau jembatan sementara saja guna menekan polusi transportasi darat.
Peta jalan energi nasional nantinya akan terus bergeser mengikuti perkembangan teknologi mesin, kebijakan subsidi energi, serta laju elektrifikasi kendaraan massal sampai target keseimbangan baru atau Net Zero Emission (NZE) benar-benar tercapai sepenuhnya pada periode tahun 2050 hingga 2060 mendatang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


