merawat tradisi merajut kebersamaan santri al hikam dan warga dusun simpar hidupkan semangat grebeg suro - News | Good News From Indonesia 2026

Merawat Tradisi, Merajut Kebersamaan: Santri Al-Hikam dan Warga Dusun Simpar Hidupkan Semangat Grebeg Suro

Merawat Tradisi, Merajut Kebersamaan: Santri Al-Hikam dan Warga Dusun Simpar Hidupkan Semangat Grebeg Suro
images info

Santri Abah Hasyim


Halo, Kawan GNFI! Datangnya Bulan Muharram selalu membawa suasana yang berbeda di berbagai daerah di Indonesia. Bukan hanya menjadi penanda pergantian Tahun Baru Islam, Muharram juga menjadi momentum bagi masyarakat untuk mempererat tali silaturahmi, memanjatkan doa, sekaligus menjaga tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Semangat itulah yang terasa begitu hangat di Dusun Simpar, Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, pada Minggu (29/6/2026).

Ratusan warga berkumpul mengikuti rangkaian Grebeg Suro, sebuah tradisi tahunan yang memadukan nilai religius, budaya, dan semangat gotong royong dalam satu perayaan yang penuh makna.

Sejak sehabis maghrib, sepanjang jalan rumah warga mulai dipenuhi masyarakat yang datang membawa nasi tumpeng dan aneka hidangan.

Tidak ada sekat usia maupun latar belakang. Anak-anak, pemuda, hingga para sesepuh duduk bersama mempersiapkan acara dengan penuh antusias. Pemandangan tersebut menjadi gambaran sederhana bahwa tradisi masih memiliki tempat istimewa di tengah kehidupan masyarakat.

baca juga

Ragkaian kegiatan diawali dengan pembacaan tahlil dan doa bersama. Suasana khusyuk menyelimuti sepanjang jalan Dusun Simpar ketika lantunan doa dipanjatkan sebagai ungkapan syukur sekaligus harapan agar tahun baru Hijriah membawa keberkahan, keselamatan, dan kesejahteraan bagi seluruh warga desa.

Setelah doa bersama, Kepala Desa Wringinanom, Ahmad Muslimin menyampaikan sambutannya. Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak masyarakat untuk terus menjaga semangat persatuan yang selama ini menjadi kekuatan desa.

Ia juga menyampaikan rasa syukur atas berbagai capaian yang berhasi diraih Desa Wringinanom dalam bidang pariwisata,

Menurutnya, Desa Wringinanom berhasil masuk dalam 8 besar desa wisata terbaik dalam ajang internasional serta meraih tiga predikat tiga besar desa terbaik pada tingkat nasional.

Prestasi tersebut, ujarnya, merupakan hasil kerja bersama seluruh masyarakat yang selama ini terus menjaga lingkungan, melestarikan budaya, dan mengembangkan potensi desa.

Sambutan kemudian dilanjutkan oleh Kepla Dusun Simpar, Kholili, ia menekankan bahwa kerukunan merupakan modal utama dalam menjaga keberlangsungan tradisi yang telah diwariskan oleh para leluhur.

Dirinya pun berharap masyarakat tetap meluangkan waktu untuk hadir dalam berbagai kegiatan keagamaan maupun budaya yang rutin diselenggarakan di dusun.

Ada satu hal yang menarik dalam penyelenggaraan Grebeg Suro tahun ini. Kelancaran acara tidak hanya didukung oleh pemerintah desa dan masyarakat. Namun, juga melibatkan 18 santri Pesantren Mahasisiwa Al-HikaM Malang yang sedang melakukan pengabdian masyarakat serta berasal dari berbagai latar belakang perguruan tinggi yang berbeda yakni Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang, serta Sekolah Tinggi Agama Islam Ma'had Aly Al-Hikam Malang.

baca juga

Mereka bergotong royong membantu panitia sejak tahap persiapan hingga jalannya acara selesai, mulai dari menata lokasi, membantu mengatur jalannya kegiatan, mendampingi masyarakat, hingga memastikan seluruh rangkaian acara berlangsung dengan tertib.

Kolaborasi ini menjadi potret indah bagaimana dunia pendidikan, pesantren, dan masyarakat dapat saling bersinergi dalam menjaga tradisi.

Kehadiran para santri tidak hanya memberikan tenaga, tetapi juga memperkuat semangat pengabdian kepada masyarakat yang menjadi bagian penting dari pendidikan di pesantren.

Puncak acara yang paling dinantikan akhirnya tiba, yakni Grebeg Suro. Berbagai hasil bumi hasil panen warga, mulai dari sayuran, buah-buahan, jagung, cabai, jajan-jajan manis hingga uang tunai, disusun membentuk gunungan sebagai simbol rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan.

Begitu gunungan dibuka, suasana berubah menjadi penuh semangat. Anak-anak, remaja, hingga orang tua berbaur meperebutkan hasil bumi yang dipercaya membawa keberkahan. Meski berlangsung meriah,masyarakat tetap menjaga ketertiban dan saling menghormati satu sama lain.

Gelak tawa, sorak sorai, dan wajah-wajah bahagia menjadi pemandangan yang menghiasi malan penuh keberkahan itu.

Usai Grebeg Suro, seluruh warga kembali berkumpul menikmati nasi tumpeng secara bersama-sama. Tradisi makan bersama bukan sekedar menikmati hidangan, melainkan menjadi simbol kesetaraan, persaudaraan, dan rasa syukur yang dirasakan bersama tanpa memandang status sosial maupun usia.

Malam pun ditutup dengan suasana yang semakin semarak. Setelah makan bersama usai, langit malam Dsusun Simpar dihiasi dentuman petasan yang disambut antusias oleh masyarakat.

Cahaya yang berpendar di langit malam menjadi penutu manis dari rangkaian peringatan Tahun Baru Islam yang berlangsung penuh kehangatan.

Kawan GNFI, Grebeg Suro di Dusun Simpar menunjukkan bahwa tradisi tidak hanya hidup karena diwariskan, tetapi karena terus dirawat bersama.

Ketika masyarakat, pemerintah desa, dan para santri mahasiswa dapat bergandengan tangan, tradisi menjadi lebih dari sekedar seremoni.

Ia berubah menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan, menumbuhkan kepedulian, dan menjaga identitas budaya agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

Semoga semangat gotong royong yang tumbuh dari Dusun Simpar ini dapat menjadi inspirasi bagi daerah-daerah lain di indonesia untuk terus merawat tradisi lokal sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

SA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.