Perlu diketahui, zaman Pencerahan (Renaissance Era) merupakan suatu bentuk transisi teramat bersejarah bagi bangsa Eropa, setelah mengalami tragedi Black Death yang disebut telah membunuh sepertiga populasi di sana.
Sebagaimana disitat dari kumparan.com (7/1/2024), bisa dibilang bahwa zaman Pencerahan juga dikenal sebagai wujud protes masyarakat terhadap dominasi Gereja Katolik Roma yang “memaksa” rakyat untuk hidup sesuai ajaran agama, sekalipun itu irasional. Misal saja, orang yang terindikasi memiliki gejala pes kebanyakan akan dihakimi sepihak, entah itu berupa kutukan maupun pengucilan—sebelum sains menyingkap fakta yang sebenarnya.
Dalam konteks penjelajahan seturut ideologi Gold-Glory-Gospel, secara tidak langsung, zaman Pencerahan yang berlangsung di Eropa ikut memengaruhi kehidupan di Indonesia. Setidaknya, ada 3 pengaruh yang dapat disaksikan hingga kini:
- Marak terjadinya invasi akan bangsa Barat guna mencari rempah-rempah serta rute perdagangan yang baru;
- Menjamurnya praktik kolonialisme dan imperialisme di tanah jajahan;
- Bermunculan gaya arsitektur khas kolonial di Nusantara, seperti kantor pemerintah, gereja/katedral, stasiun, benteng, bendungan, hingga jembatan.
Dari semuanya itu, Benteng Nassau hadir sebagai memoar aktif akan dinamika penjajahan yang dilakukan Belanda kala itu di wilayah timur Indonesia.
Introduksi
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyatakan benteng sebagai bangunan tempat berlindung atau bertahan dari serangan musuh. Mayoritas benteng tersusun atas dinding atau tembok tebal dan punya sejumlah ruang bawah tanah di dalamnya.
Melansir GoodStats (20/1/2024), Indonesia memiliki beberapa benteng yang berubah nilainya sebagai peninggalan sejarah paling tua, antara lain Benteng Indra Patra dan Benteng Kuta Lubok di Aceh, Benteng Otanaha di Gorontalo, Fort Rotterdam di Sulawesi Selatan, dan Benteng Victoria di Maluku.
Ini sejatinya tidak mengherankan, mengingat Nusantara telah dianggap sebagai wilayah kaya sumber daya alam terutama soal rempah-rempah, misalnya lada, cengkeh, pala, dan sebagainya.
Oleh sebab itu, pihak kolonial akan membangun basis pertahanan mereka demi menjaga pasokan serta arus perdagangan yang sudah ditemukan dari ancaman musuh.
Sebagaimana diwartakan dari nationalgeographic.grid.id (20/11/2012), benteng-benteng yang tersebar di Indonesia bukanlah sekadar bangunan biasa, melainkan adalah bagian dari sejarah yang menjadi kekayaan warisan budaya.
Disebut fondasi utama yang menopang benteng secara umum berasal dari bata, balok batu, hingga campuran antara bata serta batu.
Adapun benteng dengan arsitektur khas Belanda punya beberapa kemiripan, yaitu menyisip di dalam tata ruang kota. Alasannya: mengontrol pemerintahan para raja/sultan.
Dari filosofinya saja, benteng dapat mencerminkan pengalaman mengolah kekayaan alam untuk keperluan manusia dalam hal mempertahankan diri, kemudian perkembangan teknologi pertahanan dan keamanan, serta konsep dari pertahanannya itu sendiri.
Benteng Nassau sebagai Salah Satu Perwakilan: Cerita yang Terkandung di Dalamnya
Benteng Nassau berlokasi di Desa Nusantara, Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Benteng ini merupakan benteng pertama yang secara resmi dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda di Banda Neira.
Letaknya Benteng Nassau tepat berada di pesisir selatan pantai Banda Neira, yang mana struktur fondasinya adalah bekas milik Portugis yang tidak rampung dibangun.
Melansir travel.detik.com (30/10/2017), awalnya Portugis membangun fondasi Benteng Nassau pada tahun 1529; selanjutnya dihentikan karena posisi benteng yang dinilai berada di area terbuka dan sangat mudah diintai penduduk.
Menghimpun informasi berbagai sumber, Benteng Nassau dilanjutkan pembangunannya di bawah komando Laksamana Pieterzoon Verhoeven sekitar tahun 1608.
Dengan jumlah tenaga sebanyak 750 orang pasukan VOC, Verhoeven berdalih bahwa benteng ini dibangun guna menjaga wilayah Banda dari serangan Portugis dan Inggris.
Padahal, masyarakat Banda lebih suka berbisnis dengan orang Inggris. Tujuan yang asli terkait pembangunan: menguasai perdagangan pala yang saat itu hanya tumbuh di Banda Neira.
Ditambah dengan segala muslihat licik VOC, membikin para tokoh lokal kenamaan yang dikenal sebagai “orang kaya Banda” berpura-pura mengadakan perundingan damai soal perdagangan rempah bersama Verhoeven.
Setuju dengan itu, begitu datang pada lokasi yang disepakati, Verhoeven—begitu pula dengan para dewan kapten, pedagang, hingga beberapa serdadunya yang mengikuti—berhasil dihabisi. Sementara beberapa yang lainnya disandera, hanya Jan Pieterszoon Coen selaku juru tulis Verhoeven waktu itu yang bisa kabur.
Kabar tentang Verhoeven dan rombongannya yang terbunuh bahkan dianggap sebagai gangguan misi diplomatik VOC untuk pertama kali sepanjang sejarah. Sontak saja, pewartaan tersebut dengan cepat menyebar ke seluruh pelabuhan di koloni VOC hingga sempat menghentikan proses pembangunan benteng.
Atas perintah Pieter Both sebagai gubernur jenderal, Laksamana Simon Janszoon Coen ditunjuk untuk menyelesaikan pembangunan Benteng Nassau pada tahun 1609, menggantikan Verhoeven.
Setelah berdiri, Benteng Nassau difungsikan menjadi kantor administrasi Belanda di Banda Neira merangkap gudang penyimpanan rempah-rempah, selain untuk pertahanan. Orang kaya Banda sempat meminta Coen untuk membongkar benteng, tetapi langsung ditolak.
Semenjak itulah, perseteruan antara masyarakat Banda dan VOC terus memanas. Disebut pada tanggal 8 Mei 1612, Coen mengumpulkan sekitar 44 orang kaya Banda, lalu ia memerintahkan enam algojo untuk membantai semua orang tanpa kecuali. Tidak berhenti di situ, insiden semacam ini berlanjut ulang pada Pembantaian Banda 1621.
Ketika itu, Jan Pieterszoon Coen yang telah menjabat sebagai Gubernur Jenderal VOC, membantai 48 orang kaya Banda serta ribuan rakyat yang berdomisili di sana. Ironisnya, masyarakat Banda sampai harus ‘terusir’ dari kediamannya sendiri.
Dengan dikuasainya Banda Neira saat itu, Benteng Nassau bertransformasi sebagai pusat perdagangan rempah, gudang penyimpanan, dan pemukiman bagi pihak kolonial.
Mari Merawat Situs Bersejarah Ini!
Sejarawan mengungkapkan bahwa Benteng Nassau pernah hancur akibat dibom Inggris pada abad ke-19, berlanjut ketika masa penjajahan Jepang hingga karena gempa bumi. Pemerintah Indonesia sendiri telah melakukan pemugaran bertahap sejak tahun 2014-2019, dengan melibatkan para arkeolog dan masyarakat setempat. Bahkan, benteng ini sudah terdaftar sebagai Benda Cagar Budaya sejak tahun 2008.
Walaupun memang Benteng Nassau adalah tempat eksekusi sadis bagi insan Nusantara di era kolonialisme Belanda, lantas janganlah membiarkannya jadi terbengkalai.
Dengan merawat benteng ini, kita boleh kembali diingatkan betapa peliknya orang-orang pada masa itu melawan kekuatan penjajah yang barangkali tidak sebanding dengan apa yang dimiliki.
Kiranya, Benteng Nassau dapat memperkuat rasa persatuan dan nasionalisme yang telah diperjuangkan sedemikian rupa oleh para pahlawan yang gugur mendahului kita.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


