Pelatihan manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) belakangan menuai sorotan tajam dari berbagai pihak. Hak ini disebabkan karena pelatihan militer yang diberikan kepada seluruh peserta dianggap tidak relevan dengan tugas utama seorang manajer koperasi.
Melihat hal ini, dosen sekaligus peneliti di Departemen Manajemen dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Subarsono, M.Si., M.A., mengungkap jika sejatinya pelatihan militer tersebut memang tidak berkorelasi dengan tugas yang diemban oleh manajer koperasi.
Menurutnya, tugas utama seorang manajer adalah mengeksekusi kebijakan strategis yang dibuat pengurus dalam pengoperasian koperasi. Manajer koperasi sudah sepatutnya menjadi pengawas sekaligus memastikan target penjualan koperasi tercapai.
“Mereka bertanggung jawab untuk mengelola staf, mengawasi arus kas, memastikan target penjualan tercapai, serta melaporkan kinerja bisnis kepada pengurus secara berkala demi kesejahteraan anggota,” jelas Surbarsono melalui situs ugm.ac.id.
Apa Pelatihan yang Tepat untuk Calon Manajer KDMP?
Dalam penjelasannya, Subarsono mengungkap jika calon-calon manajer ini diberikan pelatihan yang berkaitan dengan tata kelola koperasi. Selain itu, peserta juga harus dibekali soal kepemimpinan dan manajemen sumber daya manusia (SDM), manajemen keuangan digital, kewirausahaan dan inovasi model bisnis, perencanaan strategis, serta pemasaran, utamanya e-marketing.
Hal senada juga disampaikan oleh Dr. Aulia Nur Kasiwi, S.IP., M.IP., Dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Aulia dalam penjelasannya di umy.ac.id mengungkap jika esensi dari pemberdayaan koperasi sepatutnya bertumpu pada peningkatan kapasitas pengurus dalam mengelola organisasi secara profesional.
Keterampilan utama yang dibutuhkan pengurus koperasi disebutnya bukanlah soal ketahanan fisik, tetapi kecakapan administrasi. Manajer juga harus bisa mengelola keuangan serta memiliki kemampuan membangun jejaring dan partisipasi aktif anggota.
Selain itu, manajer juga disebutnya harus bisa memanfaatkan teknologi digital dan membangun kepercayaan masyarakat. Makin tinggi partisipasi anggota, makin besar pula peluang koperasi untuk berkembang.
“Dalam perspektif kebijakan publik, pengurus koperasi wajib memahami tata kelola organisasi, administrasi, dan keuangan yang sehat,” papar Aulia.
Adakah Manfaat Pelatihan Militer untuk Manager KDMP?
Pelatihan dasar militer bagi calon manager KDMP bukan berarti tidak bermanfaat. Lebih lanjut, Subarsono menjelaskan terdapat manfaat lain dalam dimensi kedisiplinan.
Di bidang koperasi, disiplin bisa diartikan sebagai manajer mampu membuat laporan tepat waktu, berperilaku transparan dan akuntabel, tidak menggunakan fasilitas koperasi untuk kepentingan dirinya sendiri, menyediakan produk dan layanan seperti kebutuhan pelanggan, serta tidak menjual barang ilegal.
Meskipun demikian, Subarsono tetap menekankan implikasi besar yang mungkin akan terjadi jika manajer koperasi dilatih secara militeristik, seperti lunturnya demokrasi dalam koperasi.
Koperasi sejatinya adalah organisasi sipil yang mengutamakan prinsip demokrasi, partisipasi anggota, dan musyawarah. Hal ini berbeda dengan militer yang menganut budaya sistem komando.
“Ketika manajer koperasi dilatih secara militeristik, ada potensi akan menggunakan pendekatan militer dalam tatakelola koperasi, dan menggeser budaya demokrasi ke arah sistem komando, komunikasi satu arah, jauh dari partisipasi dan hilangnya budaya dialog,” tegasnya.
Sebagai informasi, saat ini Kementerian Pertahanan mengubah latihan dasar militer bagi calon manajer KDMP dengan latihan bela negara dan manajerial. Artinya, kegiatan yang bersifat taktis dan teknis militer dikurangi.
Peserta akan diarahkan pada pembentukan disiplin, karakter, kepemimpinan, kerja sama, tanggung jawab, wawasan kebangsaan, dan kesiapan manajerial sebagai calon pengelola koperasi.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


