tabung gas alternatif ini cuma perlu ganti isi tiap lima tahun teknologi apa itu - News | Good News From Indonesia 2026

Tabung Gas Alternatif Ini Cuma Perlu Ganti Isi Tiap Lima Tahun, Teknologi Apa Itu?

Tabung Gas Alternatif Ini Cuma Perlu Ganti Isi Tiap Lima Tahun, Teknologi Apa Itu?
images info

Dok. Koldunov (Shutterstock)


Urusan dapur warga kita hari ini masih sangat bergantung pada pasokan LPG impor. Saban tahun, ketergantungan ini sukses membuat neraca perdagangan limbung dan mempertebal beban subsidi pada APBN. Sebagai solusi alternatif, pemanfaatan gas alam domestik kini mulai diuji menggunakan teknologi Metal Organic Frameworks (MOF).

Sederhananya, MOF ini adalah material berpori berbasis jaringan logam dan ligan organik yang punya kemampuan menyerap gas metana dalam volume besar. Kepala Pusat Riset Teknologi Polimer BRIN, Joddy Arya Laksmono, menjelaskan bahwa inovasi ini memungkinkan gas disimpan pada tingkat tekanan yang jauh lebih rendah daripada metode kompresi konvensional.

Eksperimen yang berjalan di laboratorium Serpong ini menunjukkan hasil yang lumayan. Daya serap gas dari material tersebut sudah mendekati angka 95% setelah melewati 700 kali siklus pengujian.

Tim peneliti menargetkan pengujian bisa tembus hingga 1000 siklus. Jika target itu tercapai, material di dalam tabung ini punya masa pakai minimal 5 tahun. Menariknya, saat masa pakainya habis, konsumen tidak perlu membeli tabung baru, melainkan cukup mengganti komponen pengisi di dalamnya saja.

 

Cara Kerja Tabung Gas Baru

Sistem penyimpanan gas model baru ini dinamakan Adsorbed Natural Gas (ANG). Cara kerjanya mengandalkan struktur pori-pori berukuran nano yang bertugas mengikat molekul gas metana di dalam ruang tabung. Desain ini berbeda dengan tabung CNG konvensional yang membutuhkan dinding tebal karena harus menahan tekanan super tinggi hingga 200 bar.

Karena bekerja pada tekanan rendah, bobot tabung penampungnya bisa dirancang menjadi jauh lebih ringan. Urusan angkat-junjung tabung gas ke dalam dapur tidak akan lagi menguras tenaga. Selain itu, tingkat tekanan yang rendah ini secara otomatis memperkecil risiko bahaya kebocoran yang berujung pada ledakan fatal di perumahan.

Keunggulan lain dari gas alam berpori ini ada pada sisi emisi yang diklaim jauh lebih bersih ketimbang bahan bakar fosil biasa. Memang harus diakui, infrastruktur pipa dan rantai distribusi gas jenis ini belum matang dan masih butuh waktu untuk dibangun secara massal.

Namun untuk jangka panjang, skema pengiriman gas dengan tekanan rendah ini dinilai punya potensi besar memotong biaya logistik.

 

Kajian Ekonomi Sebelum Dijual

Melihat potensinya yang besar, Dewan Energi Nasional (DEN) bersama Kementerian ESDM dan PT Pertamina langsung merapat ke laboratorium BRIN. Kedatangan lintas instansi ini bertujuan untuk melihat langsung perkembangan riset sekaligus menyiapkan peta jalan untuk menyapih ketergantungan kompor rumah tangga dari LPG impor.

Anggota DEN, Satya Widya Yudha, meminta tim peneliti untuk bergerak lebih cepat. Menurutnya, kerangka waktu pengembangan dari laboratorium ke masyarakat tidak boleh terlalu lama dan tidak harus menunggu sampai kondisinya sempurna total.

Hal yang paling mendesak untuk diselesaikan sekarang adalah memastikan keandalan tabung saat dipakai, jaminan keselamatan, dan hitung-hitungan ekonominya.

Bagaimanapun, kunci utama agar teknologi ini mau diadopsi oleh masyarakat terletak pada harga jual ecerannya. Upaya yang sedang dilakukan saat ini adalah mendorong agar biaya produksi gas alternatif ini bisa ditekan serendah mungkin. Jadi, ketika nanti resmi dilempar ke pasar domestik, harganya minimal bisa setara atau bahkan lebih murah daripada harga LPG yang beredar sekarang.

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.