Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, layar laptop masih menyala menampilkan episode terakhir dari series yang selalu di tunggu selama berminggu-minggu. Sampai akhirnya ada tulisan “Selesai” di layar laptop dan closing credits mulai bergulir dari bawah ke atas layar.
Seharusnya tidak ada yang istimewa karena itu hanyalah sebuah series dengan cerita fiksi di dalamnya. Namun, entah mengapa ada perasaan aneh, perasaan kosong yang tidak bisa dijelaskan.
Keesokan harinya, pikiran masih terus berputar pada tokoh dalam series, pada percakapan antartokoh yang sudah berakhir dan pada segala kemungkinan yang tidak akan pernah terjadi. Tanpa sadar, kehidupan sehari-hari menjadi sedikit lebih sepi dari sebelumnya.
Ini adalah pengalaman yang terjadi mungkin terasa familiar bagi banyak orang. Setelah selesai membaca novel dan menonton film ataupun series, terkadang terasa sulit untuk bisa lepas dari dunia fiksi yang ada di dalamnya. Menariknya, pengalaman itu bukan sekadar bentuk keterikatan terhadap sebuah cerita.
Dunia fiksi sering kali menjadi tempat berlindung dari tekanan hidup, membantu seseorang memahami dirinya sendiri, dan mendorongnya untuk lebih peka terhadap orang lain.
Ketika sebuah cerita fiksi terasa sulit untuk dilupakan, mungkin yang tertinggal bukan hanya alurnya. Bisa jadi ada sesuatu tentang diri kita di dalamnya.
Apa yang Sebenarnya Terjadi saat Kita Terhanyut dalam Cerita Fiksi?
Di balik kebiasaan sederhana menonton film atau membaca cerita fiksi, ternyata ada proses yang jauh lebih dalam dari sekadar “mengisi waktu”. Lawton dan Cain, dua peneliti dari University of Tennessee menemukan bahwa saat seseorang benar-benar tenggelam dalam sebuah cerita, terdapat proses yang terjadi di dalam dirinya. Ada tiga hal yang ternyata terjadi secara bersamaan ketika seseorang terhanyut dalam dunia fiksi.
Pertama, cerita fiksi ternyata bisa menjadi tempat untuk berlindung. Saat seseorang sedang mengalami masalah keluarga, akademik dan tuntutan pekerjaan, cerita tentang dunia fiksi baik itu petualangan, fantasi atau kehidupan sederhana dapat menjadi ruang untuk bernapas dan juga bisa menjadi tempat dimana semuanya terasa lebih mungkin dan tertata.
Kedua, fiksi membantu seseorang untuk bisa memahami dirinya sendiri. Saat menonton harry potter, pembaca tahu betul bahwa mereka tidak akan pernah menerima surat dari Hogwarts atau belajar ilmu sihir seperti harry. Namun, banyak yang tetap merasa dekat dengannya.
Banyak yang memahami perasaan yang harry rasakan seperti merasa kesepian, keinginan untuk diterima dan pencarian akan tempat yang bisa disebut rumah. Di sinilah fiksi bukan hanya menjadi sebuah hiburan, melainkan menjadi ruang bagi pembaca untuk memahami dirinya sendiri.
Ketiga, fiksi membantu seseorang untuk lebih peka terhadap orang lain dan dunia sekitar. Saat seseorang ikut merasakan kesedihan, kekecewaan dan bahkan kebahagian yang dialami para tokoh, di situlah empati bisa tumbuh. Bukan dari pengalaman pribadi melainkan dari cerita yang mengajak seseorang untuk memahami pengalaman orang lain.
Sekarang coba ingat lagi perasaan yang muncul saat selesai membaca buku atau menonton film. Mungkin selama ini kita mengira perasaan itu muncul karena terlalu larut dalam cerita. Padahal bisa saja ada alasan lain.
Bisa saja saat sedang membaca, kita sedang butuh tempat untuk berlindung, sedang mencoba memahami diri sendiri atau bahkan belajar untuk lebih peka dan melihat dunia dari sudut pandang orang lain.
Dunia fiksi memang bukan dunia nyata, tetapi di dalamnya ada cerita yang diam-diam membentuk cara kita memahami diri sendiri dan orang lain. Karena itu, terkadang kita sulit untuk bisa lepas dari cerita fiksi, mungkin karena ada bagian dari diri kita yang ditemukan di sana.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

