doom scrolling sebelum tidur kebiasaan sepele yang ternyata ada penjelasan ilmiahnya - News | Good News From Indonesia 2026

Doom Scrolling Sebelum Tidur, Kebiasaan Sepele yang Ternyata Ada Penjelasan Ilmiahnya

Doom Scrolling Sebelum Tidur, Kebiasaan Sepele yang Ternyata Ada Penjelasan Ilmiahnya
images info

Foto oleh Borna Hržina di Unsplash


Pagi belum benar-benar dimulai, tetapi HP sudah ada di tangan. Belum sempat cuci muka, jempol sudah duluan buka TikTok. Siangnya, begitu sampai rumah habis kuliah atau kerja, badan langsung rebahan sambil scroll tanpa tujuan.

Malamnya, niat tidur jam sepuluh, tetapi jam dua belas masih saja geser-geser layar. Kalau ini terasa seperti rutinitas harian Kawan, bukan berarti kurang disiplin. Ada penjelasan ilmiah di balik kebiasaan yang rasanya susah dihentikan ini.

Otak Tidak Sedang Malas, Ia sedang Mencari

Sebelum menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa lepas dari layar, ada baiknya memahami dulu apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala saat scroll.

Otak manusia punya sistem reward yang bekerja dengan cara unik. Setiap kali menemukan sesuatu yang menarik di layar, mulai dari video lucu, berita mengejutkan, sampai postingan yang bikin penasaran, otak melepaskan dopamin.

Yang menarik, dopamin itu tidak muncul setelah kontennya ditemukan, melainkan justru saat proses mencarinya. Scroll itu sendiri yang terasa menyenangkan, bukan isinya.

Tiga peneliti dari University of Florida, Sharma, Lee, dan Johnson, pernah menerbitkan studi pada 2022 yang hasilnya cukup mengejutkan. Selama ini banyak yang mengira doom scrolling hanya istilah baru untuk kebiasaan rebahan sambil main HP seperti biasa.

Ternyata tidak. Studi itu menemukan bahwa ini adalah pola perilaku tersendiri, di mana orang terus-menerus mencari berita buruk di media sosial meski sudah tahu itu bikin tidak nyaman.

Setiap kali scroll, otak membaca situasi itu sebagai "mungkin yang berikutnya lebih menarik," dan siklus itu terus berputar tanpa titik akhir yang jelas.

baca juga

Istirahat Terasa Asing bagi Otak yang Sudah Terbiasa Scroll

Kalau begitu, kenapa istirahat justru terasa tidak nyaman padahal badan sudah minta berhenti?

Susan Tapert, profesor psikiatri dari UC San Diego, punya penjelasan yang menarik soal ini. Menurutnya, otak manusia sejak dulu memang dirancang untuk lebih peka terhadap ancaman dibanding hal-hal yang menyenangkan. Ini bukan kelemahan, melainkan insting bertahan hidup yang terbentuk selama ratusan ribu tahun.

Dulu, waspada terhadap bahaya berarti selamat. Masalahnya, di era sekarang insting itu tidak hilang, hanya berpindah sasaran. Ancamannya bukan lagi predator di hutan, melainkan notifikasi, berita buruk, dan konten yang tidak ada habisnya. Otak tetap memindai, terus mencari, dan susah berhenti karena memang itulah yang sudah ia pelajari sejak lama.

Di sinilah letak masalahnya. Scroll memberikan stimulasi yang cepat dan mudah, sementara istirahat tidak memberikan apa-apa secara instan.

Otak yang sudah terbiasa dengan dopamin dari scroll akan selalu memilih stimulasi layar dibanding ketenangan yang terasa hampa. Wajar kalau rebahan tanpa HP terasa aneh atau bahkan gelisah, karena otak sudah belajar bahwa layar adalah sumber reward yang paling mudah dijangkau.

baca juga

Sadar Dulu, Baru Bisa Berubah

Satu hari penuh scroll, dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, bukan sekadar kebiasaan buruk. Itu tanda bahwa otak sudah sangat terbiasa dengan stimulasi layar sampai tidak tahu lagi cara beristirahat dengan tenang.

Mengetahui semua ini bukan berarti besok langsung bisa berhenti scroll. Perubahan kebiasaan tidak semudah itu, dan otak memang butuh waktu untuk belajar ulang. Setidaknya ada satu hal yang bisa dimulai sekarang, yaitu kesadaran bahwa ini bukan soal lemah atau tidak disiplin.

Otak memang dirancang untuk terus mencari, dan aplikasi dirancang untuk memanfaatkan sifat itu sebaik-baiknya. Mulai dari hal kecil saja, taruh HP di luar jangkauan sebelum tidur, bukan karena harus, tapi supaya otak perlahan belajar bahwa diam juga bisa menjadi pilihan yang aman.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.