Berkaca dari drakor Teach You a Lesson yang belakangan ini ramai diperbincangkan, terdapat satu episode yang terus terngiang di kepala saya.
Episode di mana seorang anak bernama Jung Hyeon-Min dipersiapkan masuk Kedokteran SNU—salah satu fakultas bergengsi di Korea Selatan—sejak kecil. Ia tumbuh dengan target hidupnya yang jelas, jadwal belajarnya yang teratur, bahkan mungkin masa depannya.
Namun, saat ditanya apa yang ia sukai, jawabannya, “Aku bisa menyebutkan 100 yang ibuku sukai, tapi aku tidak tahu apa yang aku sukai.” Jawaban itu terasa lebih menyedihkan daripada tekanan untuk masuk fakultas kedokteran bergengsi.
Masalahnya bukan hanya seorang anak yang dipaksa mengejar cita-cita pilihan orang tua, melainkan seorang anak yang tidak memiliki kesempatan untuk mengenal dirinya sendiri.
Hari Anak Nasional menjadi pengingat kembali berbagai hak yang dimiliki anak, mulai dari hak pendidikan, perlindungan, dan tumbuh kembang yang layak.
Namun, ada satu hal yang jarang dipertanyakan, apakah anak-anak benar-benar memiliki kesempatan untuk mencari tahu apa yang mereka sukai?
Hak yang Tertulis, tetapi Jarang Terasa
Walaupun kisah Hyeon-Min hanya fiksi, perasaan tidak diberi ruang untuk berpendapat seperti tidak diajak berdiskusi saat memilih menu makan malam, sekolah impian, atau cita-cita mungkin pernah Kawan GNFI rasakan atau bahkan saat ini sedang merasakannya.
Dalam kondisi seperti itu, kesempatan untuk menyampaikan pendapat sering menjadi hal yang dianggap sepele. Padahal, baik Konvensi Hak Anak maupun UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak mengakui bahwa anak berhak menyampaikan pendapatnya dalam hal-hal yang memengaruhi hidup mereka.
Namun, kita masih hidup dalam budaya yang sering menganggap pendapat anak kurang penting dibandingkan keputusan orang dewasa.
Ketika Anak Tidak Diberi Kesempatan Berbicara
Saat Hyeon-Min kecil ditanya mengenai apa cita-citanya, Hyeon-Min diam sejenak. Belum selesai berpikir apa yang sebenarnya ia impikan, ibunya langsung berkata, “Tentu saja kamu harus menjadi dokter.”
Di sini, ia hanya bisa mengangguk. Semua proses menjadi dokter sudah difasilitasi oleh ibunya, mulai dari jadwal les, jam tidur, hingga menu makanan.
Hyeon-Min hanya fokus mencapai mimpi yang sudah disiapkan tanpa ada kesempatan untuk merasakan hal baru yang mungkin ingin ia coba.
Muttaqin dan Ekowarni dalam artikelnya yang diterbitkan di Jurnal Psikologi tahun 2016 menyebutkan bahwa remaja membentuk identitas dirinya dari kesempatan dan kebebasan untuk mencoba berbagai hal dalam hidupnya. Akan tetapi, Hyeon-Min tidak memiliki kesempatan dan kebebasan itu, sehingga ia tumbuh tanpa tahu apa yang ia sukai.
Bukan Soal Benar atau Salah
Jadi, apakah yang ibunya Hyeon-Min lakukan salah? Tidak juga. Setiap orang tua punya cara mengasuh tersendiri yang hadir dari rasa sayang dan harapan. Mendorong anak untuk berprestasi bukan hal yang salah, banyak orang tua yang melakukannya karena ingin anaknya memiliki masa depan yang lebih baik.
Masalahnya justru muncul ketika mengejar prestasi menghabiskan semua kesempatan untuk belajar hal lain. Hyeon-Min tentu butuh arahan dari ibunya, tetapi ia juga butuh didengar.
Mendengarkan tidak selalu butuh langkah besar, sesederhana bertanya, “Kamu sendiri ingin menjadi apa?” lalu menunggu jawabannya, tidak dibiarkan sebagai angin lalu. Dengan begitu, orang tua juga hadir sebagai pendukung anaknya.
Saatnya Beri Ruang untuk Didengar
Pada akhirnya, yang membuat kisah Hyeon-Min terasa menyedihkan bukan hanya alasan di balik ambisinya untuk masuk Kedokteran SNU. Namun, juga kenyataan bahwa ia tahu masa depan yang telah disiapkan untuknya, tetapi tidak bisa menjawab pertanyaan sekecil apa yang ia suka.
Hari Anak Nasional menjadi pengingat bahwa setiap anak membutuhkan ruang dan kesempatan untuk mengenal dirinya sendiri, menyampaikan pendapatnya, serta tumbuh menjadi manusia atas pilihannya sendiri. Sebab sebelum menjadi dokter, guru, insinyur, atau profesi lainnya, mereka terlebih dahulu adalah seorang anak yang sedang belajar memahami siapa dirinya.
Mungkin Kawan GNFI pernah ada di posisi Hyeon-Min. Atau mungkin, tanpa sadar, ada anak di sekitar Kawan GNFI yang sedang merasakannya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

