Pernahkah Kawan GNFI mendengar kisah The Tielman Brothers? Band legendaris yang beranggotakan orang-orang Indonesia ini ternyata jadi salah satu pelopor musik rock and roll yang punya taji di panggung Eropa.
Beberapa tahun sebelum The Beatles merajai tangga lagu, aksi teatrikal Tielman Bersaudara ini ternyata lebih dulu jadi standar di dalam panggung hiburan klasik. Bahkan bisa dibilang, mereka ini melahirkan subgenre Indorock yang jadi cikal bakal musik rock di zaman setelahnya.
Untuk Kawan GNFI yang penasaran kiprah grup musik fenomenal ini, baca kisah lengkapnya di artikel ini, yuk!
Awal Mula The Tielman Brothers di Indonesia
The Tielman Brothers terlahir dari keluarga berdarah campuran Indonesia dan Jerman. Sang ayah, Herman Dirk Tielman, merupakan seorang tentara KNIL asal Manado yang memiliki darah Timor. Sementara ibu mereka, Flora Laurentine Hess adalah perempuan berdarah Jerman kelahiran Madiun.
Keempat personil utamanya adalah Andy, Reggy, Ponthon, dan Loulou yang seluruhnya lahir dan tumbuh besar di Nusantara. Mereka menghabiskan waktu kecil di Surabaya dan Makassar.
Sejak belia, bakat seni mereka mengalir deras dari sang ayah. Mereka pun menunjukkan bakat yang luar biasa untuk menguasai berbagai alat musik. Akhirnya pada 1947, mereka mulai merintis langkah di industri hiburan Surabaya dengan membentuk grup bernama The Timor Rhythm Brothers.
Pencapaian kaka beradik ini di Tanah Air pun sungguh membanggakan, lho! Seperti diwartakan IDNTimes, The Tielman Brothers pernah diundang secara khusus oleh Presiden Soekarno untuk tampil di Istana Negara pada 1949.
Pada momen bersejarah di perayaan kemerdekaan 1949, mereka berhasil mencetak prestasi yang bersejarah. Bahkan, mereka bisa dibilang sudah berprestasi jauh sebelum hijrah ke Belanda.
Atraksi The Tielman Brothers di Eropa
Pada tahun 1957, keluarga Tielman hijrah ke Belanda. Di sanalah nama The Tielman Brothers mulai dikukuhkan dan merajai kancah hiburan. Mereka memadukan irama keroncong khas Nusantara dengan dentuman musik rock and roll yang sedang digandrungi.
Perpaduan unik antara musik Nusantara dengan rock and roll ini ternyata begitu kawin satu sama lain. Hingga pada akhirnya, campur budaya ini menghasilkan subgenre baru bernama Indorock. Siapa sangka, aliran musik segar ini dengan cepat diterima dan jadi fenomena di masyarakat Eropa pada masa itu.
Asal Kawan GNFI tahu, daya tarik mereka lebih dari perpaduan musik yang unik. Mereka juga menampilkan aksi panggung teatrikal yang liar dan enerjik. Mereka sempat unjuk kemampuan di pameran dunia Expo 58 Brussels, Belgia.
Andy Tielman menunjukkan kemampuannya memetik gitar pakai gigi, kaki, hingga memainkannya di belakang kepala. Ditambah Loulou yang menabuh set drum sambil berjalan keliling panggung, serta Ponthon yang mencabik double bass-nya sambil merangkak. Unik banget!
Mengutip tulisan yang dilansir oleh situs Student Activity Binus, Andy Tielman membuktikan dirinya sebagai inovator. Ia memodifikasi gitar Fender Jazzmaster kesayangannya jadi bersenar sepuluh demi mendapatkan resonansi suara yang thick dan unique.
Berjaya di Eropa Sebelum Meroketnya The Beatles
Bagi Kawan GNFI yang menyukai sejarah musik, mengulik garis waktu para musisi klasik tentu jadi hal yang begitu menarik. Ketika grup legendaris asal Inggris, The Beatles, baru dibentuk dan masih merintis karier di kelab-kelab malam Hamburg, The Tielman sudah lebih dulu wara-wiri.
Dengan jam terbang yang tinggi serta aksi panggung revolusioner, kakak beradik ini sukses jadi salah satu yang tersohor di benua Eropa. Bahkan sebelum The Beatles meroket dan menguasai dunia!
Kesuksesan The Tielman Brothers juga bukan dari pengakuan semata di atas panggung, mereka juga terbukti secara komersial di kancah internasional. Pada 1967, mereka merilis single berjudul “Little Bird” yang sukses bertengger di peringkat ke-7 dalam Top 40 tangga lagu Eropa kala itu.
Eksistensi dan dedikasi luar biasa mereka ini bahkan mendapat apresiasi dari Kerajaan Belanda. Pada 2006, Ratu Beatrix secara khusus menganugerahi Andy Tielman dengan bintang jasa Order of Orange Nassau. Ia mendapatkan penghargaan bergengsi ini atas kontribusi besarnya bagi perkembangan musik populer di Belanda.
Warisan Abadi Sang Legenda Musik
Siapa sangka, musisi asal Indonesia telah lama punya andil besar dalam membentuk sejarah budaya pop dunia? Hebatnya lagi, mereka juga tidak pernah lupa akar identitasnya dengan kerap menyisipkan lagu-lagi daerah seperti “Ole Sio”, “Ayo Mama”, hingga “Sarinande” di sela-sela penampilan mereka.
Tentunya, warisan gemilang mereka ini jadi memori kejayaan masa lalu sekaligus kebanggaan abadi buat orang Indonesia. Prestasi mereka jadi bukti kalau talenta Nusantara selalu punya cara untuk mendobrak batas dan mengukir prestasi secara global. Keren banget!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


