bukan cuma buat masuk angin ternyata minyak kayu putih bisa wujudkan energi hijau - News | Good News From Indonesia 2026

Bukan Cuma Buat Masuk Angin, Ternyata Minyak Kayu Putih Bisa Wujudkan Energi Hijau

Bukan Cuma Buat Masuk Angin, Ternyata Minyak Kayu Putih Bisa Wujudkan Energi Hijau
images info

Dok. Chelsea (Unsplash)


Selama ini, kita sering menganggap bahwa semua hal yang berbau energi terbarukan seperti panel surya pasti sepenuhnya ramah lingkungan sejak dari proses pembuatannya.

Faktanya, ada sisi yang mungkin jarang diketahui publik. Industri semikonduktor organik yang menjadi komponen utama sel surya efisiensi tinggi ternyata masih sangat bergantung pada bahan kimia beracun seperti klorobenzena dan kloroform dalam proses fabrikasinya.

Mau menyelamatkan bumi dari polusi karbon, tetapi prosesnya masih harus memakai pelarut yang berisiko merusak lingkungan. Ketergantungan pada zat toksik ini menjadi tantangan besar bagi keberlanjutan industri hijau global.

Langkah peneliti dari Pusat Riset Sistem Nanoteknologi (PRSN) BRIN memanfaatkan minyak kayu putih sebagai bahan pelarut alternatif bertujuan untuk memutus rantai penggunaan bahan kimia berbahaya tersebut.

Minyak alami yang biasanya diidentikkan dengan obat gosok saat masuk angin ini ternyata memiliki karakteristik kimia yang mampu menggantikan peran pelarut beracun dengan hasil yang tidak kalah efektif.

Peneliti Ahli Muda BRIN, Mohamad Insan Nugraha, menjelaskan bahwa efisiensi semikonduktor organik di pasar global sebenarnya sudah sangat bagus, bahkan bisa mencapai lebih dari 17 persen.

Namun, dengan mengganti bahan pelarutnya menggunakan minyak kayu putih, proses produksi sel surya menjadi jauh lebih aman bagi keselamatan pekerja pabrik dan tidak menghasilkan limbah kimia berbahaya yang merusak tanah.

Solusi yang ditawarkan dari inovasi berbasis minyak kayu putih ini tidak hanya berhenti pada aspek kelestarian lingkungan, melainkan juga menyentuh efisiensi waktu dan energi saat proses manufaktur.

Perakitan sel surya organik ini menggunakan metode spin coating yang pengerjaannya tergolong sangat cepat. Tim peneliti hanya membutuhkan waktu kurang dari satu jam untuk memfabrikasi lapisan sel surya dengan temperatur rendah di bawah 100 derajat Celcius.

Proses produksi dengan suhu rendah ini menjadi jawaban atas kebutuhan efisiensi modal bagi industri petrokimia dan energi.

Dibandingkan dengan pembuatan semikonduktor konvensional berbasis silikon yang membutuhkan tungku pembakaran bersuhu sangat tinggi dan memakan banyak energi listrik, metode organik ini jauh lebih hemat biaya operasional. Karakteristik fisik material yang dihasilkan juga jauh lebih ringan dan fleksibel.

Sifat material yang ringan ini memunculkan peluang implementasi bagi kondisi geografis Indonesia. Sel surya organik ini dapat diaplikasikan langsung pada struktur atap rumah atau genteng bangunan tanpa membebani konstruksi di bawahnya.

Bagi wilayah yang rawan dilanda bencana gempa bumi seperti Indonesia, penggunaan komponen atap yang ringan merupakan solusi penting untuk meminimalkan risiko fatal akibat runtuhnya bangunan saat terjadi guncangan.

Meskipun begitu, perjalanan menuju penggunaan massal masih membutuhkan waktu. Saat ini, pengembangan semikonduktor organik berbasis minyak kayu putih tersebut masih berada dalam tahap skala laboratorium.

Menjadikan formula ini sebagai produk komersial yang dijual bebas di toko bangunan memerlukan langkah lanjutan yang melibatkan investasi besar dari sektor swasta. Saat ini, BRIN membuka peluang kolaborasi seluas-luasnya dengan pihak industri untuk mendorong pengembangan teknologi ini ke tahap manufaktur massal.

Jalan menuju dekarbonisasi total tidak harus selalu diimpor dari teknologi luar negeri, melainkan bisa dimulai dari pemanfaatan kekayaan alam yang ada di sekitar kita. 

Terlebih lagi, bahan baku minyak kayu putih sangat melimpah dan sudah diproduksi secara komersial di dalam negeri, sehingga keberlanjutan pasokan bahan bakunya sudah sangat terjamin.

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.