Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat mendadak menjadi sorotan publik setelah keputusan dewan juri dinilai tidak konsisten dalam memberikan penilaian kepada peserta.
Kompetisi yang berlangsung di Pontianak itu viral di media sosial usai potongan video perlombaan tersebar luas dan menuai kritik dari warganet.
Polemik bermula ketika sesi rebutan menghadirkan pertanyaan mengenai proses pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Grup C dari SMAN 1 Pontianak menjadi tim pertama yang menekan bel dan menjawab pertanyaan. Namun, jawaban mereka justru dinilai salah dan dikenai pengurangan poin lima oleh dewan juri.
Tidak lama berselang, Grup B dari SMAN 1 Sambas memberikan jawaban yang dinilai publik memiliki substansi serupa. Bedanya, jawaban tersebut justru dianggap benar dan memperoleh nilai sempurna. Perbedaan keputusan itu langsung memicu protes dari peserta maupun penonton yang menyaksikan perlombaan.
Dewan juri kemudian menjelaskan bahwa jawaban Grup C dianggap tidak menyebut unsur Dewan Perwakilan Daerah (DPD) secara jelas karena persoalan artikulasi. Penjelasan tersebut justru memicu gelombang kritik baru di media sosial.
Banyak netizen menilai alasan artikulasi tidak cukup kuat untuk membedakan dua jawaban yang secara substansi dianggap sama.
Kontroversi itu membuat publik mempertanyakan objektivitas sistem penilaian dalam kompetisi akademik, terutama pada lomba yang membawa nama lembaga negara dan mengusung tema pendidikan kebangsaan.
Cerdas Cermat dan Jejak Propaganda Era Orde Baru
Perdebatan mengenai LCC MPR RI juga memunculkan kembali pembahasan lama tentang sejarah lomba cerdas cermat di Indonesia. Pada masa pemerintahan Orde Baru di bawah Presiden Soeharto, acara kuis seperti “Cerdas Cermat” dan “Kelompencapir” dikenal luas melalui tayangan TVRI.
Saat itu, televisi masih berada di bawah kontrol negara dan menjadi alat utama pemerintah dalam menyampaikan pesan kepada masyarakat. Program “Cerdas Cermat” hadir dalam format kompetisi antarsekolah yang mempertemukan kelompok siswa untuk menjawab pertanyaan pengetahuan umum, sosial, hingga wawasan kebangsaan.
Setiap kelompok biasanya terdiri dari tiga peserta yang harus berlomba menekan bel dan memberikan jawaban secepat mungkin. Acara ini populer pada dekade 1970-an hingga 1980-an dan menjadi salah satu tayangan favorit masyarakat Indonesia.
Namun, di balik popularitasnya, sejumlah pengamat dan peneliti menilai acara tersebut tidak sepenuhnya netral.
Dalam buku Mengenal Orde Baru karya Dhianita Kusuma Pertiwi disebutkan bahwa program “Cerdas Cermat” dan “Kelompencapir” diyakini menjadi bagian dari alat propaganda pemerintah Orde Baru.
Melalui tayangan tersebut, pemerintah disebut berupaya membangun narasi tunggal dan membentuk pola pikir masyarakat yang seragam. Sistem soal yang menekankan hafalan, jawaban baku, dan pilihan tunggal dianggap tidak memberi ruang besar terhadap pemikiran kritis maupun perdebatan terbuka.
Sementara itu, program Kelompencapir atau Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa dibuat untuk menyasar petani dan nelayan. Program tersebut dikemas dalam bentuk diskusi, tetapi tema dan arah pembahasannya telah ditentukan pemerintah.
Tujuan utama dari pola komunikasi semacam itu adalah menjaga stabilitas nasional dan memperkuat legitimasi kekuasaan pemerintah Orde Baru. Kritik terhadap pemerintah pada masa itu sangat terbatas, sehingga media televisi menjadi instrumen penting dalam membentuk opini publik.
Meski era Orde Baru telah berakhir sejak 1998, jejak budaya pendidikan yang menekankan kepatuhan terhadap jawaban tunggal dinilai masih terasa hingga sekarang.
Josepha Alexandra dan Simbol Sikap Kritis Generasi Muda
Di tengah polemik LCC MPR RI, perhatian publik kemudian tertuju kepada Josepha Alexandra Roxa Potifera, siswi SMAN 1 Pontianak yang berani mempertanyakan keputusan juri secara langsung.
Josepha, yang akrab disapa Ocha, mendapat banyak pujian dari netizen karena dianggap menunjukkan sikap kritis dan keberanian dalam menyampaikan pendapat. Banyak pengguna media sosial menilai tindakannya menjadi simbol penting bahwa peserta didik tidak lagi hanya menerima keputusan secara pasif, tetapi juga berani meminta kejelasan ketika merasa dirugikan.
Sosok Josepha sendiri bukan nama baru dalam dunia kompetisi akademik. Ia diketahui aktif mengikuti berbagai lomba cerdas cermat dan pernah meraih juara pertama pada ajang LCC Empat Pilar MPR RI tahun 2025 bersama timnya.
Selain aktif di dunia perlombaan, Josepha juga tergabung dalam komunitas Generasi Berliterasi (Gebrasi) Pontianak yang fokus pada peningkatan literasi anak dan remaja. Di tengah derasnya kritik terhadap dewan juri, kemunculan Josepha justru menghadirkan narasi berbeda.
Publik melihat keberanian dan sikap kritisnya sebagai gambaran generasi muda yang lebih berani menyuarakan pendapat, sekaligus menjadi pengingat bahwa pendidikan seharusnya tidak hanya melahirkan kemampuan menghafal, tetapi juga keberanian untuk berpikir kritis dan mempertanyakan ketidakadilan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


