Media sosial saat ini sudah menjadi bagian yang hampir tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Bangun tidur membuka media sosial, sebelum tidur juga melihat media sosial beraktivitas seperti makan pun kadang membuka media sosial. Banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk scrolling video, melihat kehidupan orang lain, atau menunjukkan ke dunia aktivitas pribadinya sendiri. Kehadiran media sosial memang mempermudah komunikasi dan penyebaran informasi, tetapi di balik itu semua muncul masalah yang kadang dipandang sebelah mata yaitu krisis identitas diri.
Tanpa disadari, media sosial secara perlahan membuat banyak orang kehilangan jati dirinya sendiri. Banyak orang yang tanpa sadar dan juga sadar membuat media sosial sebagai bentuk dirinya dengan mencari kehidupan didalamnya dan lupa dengan realita. Banyak pribadi berubah karena ingin terlihat sesuai standar kemenarikan di platform media sosial. Tekanan ini menimbulkan pribadi yang merasa hidupnya kurang berharga ketika melihat kehidupan orang lain di media sosial yang mempunyai kelebihan.
Fenomena seperti ini sekarang sangat mudah ditemukan. Ada orang yang memaksakan gaya hidup mewah demi konten, ada yang merasa minder karena penampilannya tidak seperti influencer, bahkan ada yang rela mengubah cara berbicara dan bersikap hanya agar dianggap “relate” dengan tren saat ini. Padahal, apa yang terlihat di media sosial sering kali hanyalah bagian terbaik dari kehidupan seseorang, bukan kenyataan sepenuhnya.
Akibatnya, muncul rasa tidak percaya diri, overthinking, sampai merasa tidak cukup baik menjadi dirinya sendiri. Kondisi seperti ini bisa memengaruhi kesehatan mental dan pemikiran hidup untuk masa depan dan juga dalam bermasyarakat.
Di zaman modern ini anak muda menjadi kelompok yang paling rentan mengalami hal tersebut. Di usia remaja dan masa kuliah, seseorang sebenarnya sedang mencari jati diri dan mencoba mengenal dirinya sendiri. Sekarang proses itu sering dipengaruhi oleh media sosial. Banyak anak muda akhirnya lebih sibuk membangun “image” dibanding membangun kualitas diri yang sebenarnya.
Tidak sedikit orang yang terlihat bahagia di media sosial, tetapi sebenarnya merasa kosong dalam kehidupan nyata. Mereka merasa harus selalu tampil sempurna agar mendapatkan likes, komentar, dan perhatian dari orang lain. Ketika unggahannya sepi respons, mereka mulai merasa kecewa dan menganggap dirinya tidak menarik. Dari sini terlihat bahwa validasi di media sosial perlahan menjadi ukuran harga diri seseorang.
Dalam sudut pandang Kewarganegaraan, kondisi ini tentu menjadi masalah sosial yang serius. Media sosial seharusnya digunakan sebagai sarana untuk berkembang, menyampaikan pendapat, dan berbagi informasi positif, bukan justru menjadi tempat yang membuat seseorang kehilangan identitas dirinya sendiri.
Nilai-nilai Pancasila sebenarnya bisa menjadi pegangan dalam menghadapi kondisi ini. Salah satunya adalah menghargai diri sendiri dan orang lain tanpa harus menjatuhkan atau membanding-bandingkan kehidupan. Selain itu, masyarakat juga perlu lebih bijak dalam menggunakan media sosial agar tidak mudah terpengaruh oleh standar kehidupan yang belum tentu nyata.
Menurut saya, salah satu solusi yang paling penting adalah meningkatkan kesadaran diri dalam menggunakan media sosial. Kita perlu memahami bahwa tidak semua yang ada di internet harus diikuti. Setiap orang memiliki jalan hidup, kemampuan, dan prosesnya masing-masing. Media sosial seharusnya menjadi alat untuk berkembang, bukan tempat untuk kehilangan diri sendiri.
Namanya adalah media untuk bersosialisai bukan tempat untuk meletakkan sepenuh hidup. BaMedia sosial sesuainyak anak muda yang pemikirannya sudah rusak karena menggunakan media sosial secara asal. Beberapa contoh kasusnya adalah wanita yang melupakan harga dirinya berpakaian tidak sopan untuk dipandang di media sosial menjadi contoh tidak baik untuk wanita muda, contoh lainnya yang baru marak adalah fandom game digital yang seharusnya menjadi komunitas untuk sharing, saling membantu, dan menunjukkan apresiasi sekarang menjadi tempat untuk beradu pendapat, menjelekkan game lain, membully anggota komunitas baru yang bertanya hal ini dikarenakan banyaknya anak muda yang kurang pendidikan terhadap cara yang benar untuk menggunakan media sosial.
Selain itu, keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar juga memiliki peran penting dalam membangun rasa percaya diri anak muda. Pendidikan tentang literasi digital dan kesehatan mental juga perlu diperkuat agar generasi muda lebih siap menghadapi tekanan sosial di era digital seperti sekarang.
Pada akhirnya, media sosial memang membawa banyak manfaat, tetapi jika digunakan tanpa kontrol, dampaknya bisa cukup berbahaya bagi identitas seseorang. Jangan sampai seseorang terlalu sibuk menjadi “orang lain” di media sosial sampai lupa menjadi dirinya sendiri di kehidupan nyata.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


