Di era kekinian, ketahanan energi bukan lagi topik eksklusif pihak tertentu. Topik ini sudah menjangkau ruang publik, bahkan sampai ke sirkel tongkrongan pribadi.
Karena pengaruhnya yang langsung menyangkut hajat hidup orang banyak, dampak dinamika ketersediaan bahan bakar dan naik-turun harga (sekecil apapun itu) akan langsung dirasakan masyarakat.
Terbukti, gejolak di Timur Tengah yang tak kunjung beres, telah menghadirkan gejolak harga minyak global, yang dampaknya turut dirasakan langsung masyarakat, termasuk di Indonesia.
Situasi ini telah membuat masyarakat waspada, karena harga kebutuhan kompak naik. Pemerintah pun mulai mengatur strategi penghematan, antara lain dengan menerapkan kebijakan WFH bagi ASN setiap hari Jumat sejak bulan April 2026 silam.
Masalahnya, mengingat sifatnya yang darurat, berhemat adalah strategi defensif jangka pendek, bukan untuk jangka panjang, apalagi permanen. Sekuat-kuatnya daya tahan satu negara dalam berhemat, tetap ada batas daya tahan yang tak bisa ditawar.
Maka, pemerintah Indonesia mulai melirik sumber energi terbarukan, seperti tenaga matahari dan panas bumi, yang memang punya potensi besar. Jika melihat situasinya, pemerintah sedang menemukan sebuah "kesempatan dalam kesempitan", karena berbagai kesulitan akibat gejolak konflik di Timur Tengah, justru menghadirkan satu momentum transisi energi, yakni dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan.
Kehadiran Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung di waduk Cirata, dan eksplorasi energi panas bumi di gunung Kamojang (keduanya berada di Jawa Barat), menunjukkan, seberapa serius upaya pemerintah dalam menghadapi ancaman krisis energi global.
Kali ini, upayanya lebih proaktif, karena tidak hanya sebatas mengeluarkan himbauan kepada masyarakat untuk berhemat.
Di sini, pemerintah sudah mulai mengukur, sampai kapan strategi berhemat bisa digunakan, dan kapan harus lebih proaktif mengupayakan alternatif pengganti berkualitas bagi masyarakat.
Sebuah langkah yang sudah seharusnya dilakukan, karena situasi global yang serba dinamis memang membutuhkan keberanian untuk lebih adaptif.
Lewat energi terbarukan, kemandirian energi bisa mulai dibangun, sehingga ketergantungan pada impor migas bisa semakin dikurangi. Ketika ada gejolak geopolitik, seperti yang terjadi di Timur Tengah, dampak negatifnya bisa diminimalkan, jika ketahanan dan swasembada energi sudah terbentuk.
Dari perspektif lingkungan, dengan catatan jika sumber energi terbarukan bisa benar-benar digarap optimal, ada keberlanjutan yang akan menjadi bonus. Sumber daya alam yang digunakan dapat diperbarui, tanpa merusak lingkungan.
Sifat ini berbeda dengan hasil tambang seperti minyak bumi atau batubara, yang tidak dapat diperbarui. Sudah begitu, proses eksplorasi dan penambangannya merusak lingkungan.
Mengingat kompleksitas dinamika situasi yang berkembang, diperlukan kerjasama lintas sektor. Langkah ini antara lain sudah dilakukan pemerintah, dalam hal ini Kementerian ESDM dan Komdigi, lewat acara Gaskeun Camp (Indonesia.go.id menyapa) Seri Yogyakarta, yang berlangsung Selasa (12/5) lalu.
Bertempat di Artotel Suites Bianti Yogyakarta, acara yang diikuti sejumlah komunitas di Yogyakarta ini menjadi satu contoh langkah proaktif pemerintah. Di sini, pemerintah tak ragu turun langsung menggandeng masyarakat, sebagai teman seperjuangan yang sejajar.
Melalui tema "Gen-Z Mandiri Energi: Jurus Jitu Berdaulat di Era Digital" yang diusung, pemerintah menyadari pentingnya partisipasi masyarakat dalam menghadapi ancaman krisis energi global, dan membangun kemandirian energi nasional.
Dengan menjadikan masyarakat, khususnya Gen-Z yang melek teknologi, sebagai lokomotif penggerak, gaya komunikasi yang digunakan dapat lebih cair, karena relevan dan dekat dengan keseharian di masyarakat.
Di sisi lain, pendekatan kolaboratif ini juga menghadirkan satu potensi unik berupa ruang bebas berekreasi bagi masyarakat, khususnya Gen-Z, dalam koridor kebebasan yang bertanggung jawab.
Jika potensi unik ini dapat dioptimalkan, seharusnya proses komunikasi dan penerapan kebijakan publik (khususnya terkait sektor energi) bisa berjalan tanpa menghadirkan kegaduhan tak perlu di masyarakat, karena sudah lebih efektif dan efisien.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


