Danau Toba sudah lama jadi tujuan wisata yang tidak perlu banyak penjelasan. Tapi di salah satu sudut danau terluas di Asia Tenggara ini ada sebuah pulau yang belum sebanyak itu dibicarakan orang, padahal isinya cukup untuk membuat Kawan betah lebih dari sehari. Namanya Pulo Sibandang, terletak di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara.
Pulau ini bukan pulau biasa. Pulo Sibandang terbentuk dari letusan terakhir dan terdahsyat Gunung Purba Toba sekitar 74.000 tahun lalu, dan kini masuk sebagai salah satu dari 16 geosite dalam Toba UNESCO Global Caldera Geopark.
Di atas pulau yang terlahir dari bencana geologi itu kini berdiri tiga desa, yakni Desa Sibandang, Desa Papande, dan Desa Sampuran, yang bergabung bersama membentuk satu kawasan desa wisata.
Kolaborasi tiga desa ini yang kemudian membawa Pulo Sibandang masuk ke jajaran 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024, sekaligus menjadi satu-satunya desa wisata dari Sumatera Utara yang lolos dari 321 pendaftar tahun itu.
Sekilas Mengenai Desa Wisata Pulo Sibandang
Pulo Sibandang bukan hanya pulau dengan pemandangan danau. Di dalamnya tersimpan catatan sejarah yang masih bisa ditelusuri sampai sekarang. Ada makam Raja Sorta Uluan dan benteng batu yang menjadi bagian dari warisan lokal yang dijaga warga.
Banyak penduduk yang tinggal di sini adalah generasi ketiga dari para pelaku sejarah setempat, sehingga cerita-cerita tentang tempat ini tidak hanya tersimpan di kepala orang tua, tapi masih hidup dalam percakapan sehari-hari.
Desa Papande, salah satu dari tiga desa di pulau ini, dikenal sebagai penghasil ulos harungguan yang masih diproduksi menggunakan alat tenun tradisional. Ulos jenis ini bukan produk massal, dan proses pembuatannya yang dilakukan tangan pengrajin lokal menjadikannya memiliki nilai tersendiri bagi siapa pun yang membawanya pulang sebagai oleh-oleh.
Daya Tarik Utama Desa Wisata Pulo Sibandang
Pulo Sibandang menawarkan beberapa hal sekaligus yang sulit ditemukan di satu tempat yang sama.
Pemandangan Danau Toba dari pulau ini sudah tentu jadi yang pertama dinikmati. Hamparan air danau yang luas, perbukitan di kejauhan, dan udara yang bersih membuat suasana di sini terasa berbeda dari pusat wisata Danau Toba yang lebih ramai.
Kawan bisa menyewa perahu kayu tradisional yang disebut solu untuk mengelilingi perairan sekitar pulau, menikmati danau dari atas air dengan cara yang lebih dekat.
Trekking menjadi salah satu kegiatan yang mulai banyak diminati di sini, termasuk menyusuri jalur menuju situs-situs budaya seperti makam raja dan benteng batu. Bukan sekadar jalan-jalan, tapi setiap langkah di jalur itu bisa disertai cerita dari warga lokal yang memang tumbuh besar dengan kisah-kisah di balik tempat tersebut.
Tari Hoda-Hoda adalah pertunjukan yang khas dari Pulo Sibandang. Yang menarik, tarian ini selalu ditampilkan bersama mossak, seni bela diri khas Toba, sehingga tontonannya punya dua sisi sekaligus, antara keindahan gerak dan ketangkasan.
Festival Kaldera Toba yang pernah digelar di sini pada akhir Mei 2024 menampilkan berbagai aktivitas budaya serupa dan disambut antusias warga maupun pengunjung dari luar.
Dari sisi agrowisata, Pulo Sibandang punya mangga udang, varietas mangga lokal dengan rasa manis dan daging yang tipis. Kebiasaan masyarakat setempat memakannya bersama kulitnya menjadi pengalaman tersendiri bagi pengunjung yang belum pernah mencobanya.
Di pulau ini juga masih berdiri pohon-pohon mangga pertama yang ditanam pada masa penjajahan Belanda, usianya sudah ratusan tahun dan menjadi saksi bisu perjalanan panjang pulau ini.
Bagi Kawan yang tertarik pada tenun, bisa langsung melihat proses pembuatan ulos harungguan di Desa Papande. Menyaksikan kain itu dibuat dari awal dengan alat tenun tradisional adalah pengalaman yang tidak bisa digantikan dengan sekadar membeli produk jadinya.
Akses Menuju Desa Wisata Pulo Sibandang
Pulo Sibandang bisa dicapai dari dua arah, dari Medan atau dari Samosir. Dari Medan, perjalanan memakan waktu sekitar tujuh jam.
Salah satu pilihan transportasi adalah travel Tiomaz Executive dengan tarif mulai Rp120.000 per orang menuju Bandara Silangit. Dari Bandara Silangit, perjalanan dilanjutkan dengan menyewa kendaraan menuju Muara, yang merupakan pintu masuk ke Pulo Sibandang.
Dari Samosir, Kawan bisa menyeberang menggunakan feri Muara Putih dari Pelabuhan Sipinggan menuju Pelabuhan Muara dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Rute ini cocok bagi yang sudah lebih dulu berada di kawasan Samosir dan ingin menambahkan Pulo Sibandang dalam perjalanan.
Ayo Berkunjung ke Desa Wisata Pulo Sibandang!
Pulo Sibandang sebagai kawasan desa wisata tidak memiliki jam operasional khusus. Untuk menginap, tersedia homestay milik warga yang bisa dipesan lebih dulu melalui pengelola desa wisata.
Tarif sewa perahu solu dan biaya aktivitas lain seperti trekking dan menyaksikan pertunjukan budaya sebaiknya dikonfirmasi langsung kepada pengelola atau kelompok sadar wisata setempat, karena harga dapat berubah.
Pulo Sibandang cocok untuk Kawan GNFI yang ingin menikmati Danau Toba dengan cara yang lebih dalam dari sekadar melihat dari tepi. Siapkan waktu minimal satu malam agar bisa menjelajahi situs budaya, menyaksikan pertunjukan tari, dan mencicipi mangga udang langsung dari pohonnya.
Hubungi pengelola desa wisata terlebih dahulu sebelum berangkat agar kunjungan bisa diatur dengan baik.
Jadi, kapan Kawan mau berkunjung ke Desa Wisata Pulo Sibandang?
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


