legenda si boru deak parujar cerita rakyat dari sumatera utara - News | Good News From Indonesia 2026

Legenda Si Boru Deak Parujar, Cerita Rakyat dari Sumatera Utara

Legenda Si Boru Deak Parujar, Cerita Rakyat dari Sumatera Utara
images info

Legenda Si Boru Deak Parujar, Cerita Rakyat dari Sumatera Utara


Legenda Si Boru Deak Parujar merupakan salah satu cerita rakyat yang berasal dari daerah Sumatera Utara. Legenda ini berkisah tentang asal usul orang-orang Batak dulunya.

Bagaimana kisah lengkap dari legenda Si Boru Deak Parujar tersebut? Simak cerita rakyat dari Sumatera Utara tersebut dalam artikel berikut ini.

Legenda Si Boru Deak Parujar, Cerita Rakyat dari Sumatera Utara

Dinukil dari buku Asal Usul: Bunga Rampai Cerita Rakyat Sumatera Utara, dikisahkan pada awalnya orang Batak dulunya mengenal satu dewa, yakni Mulajadi Na Bolon. Dewa ini menciptakan seekor ayam dan memiliki telur tiga pasang.

Telur ayam ini memiliki ukuran yang jauh lebih besar dari induknya. Setelah bertelur, Mulajadi Na Bolon memberikan 12 butir padi pada ayam tersebut.

Ayam ini diperintahkan untuk memakan satu padi setiap bulannya. Nantinya setelah setahun, paruhnya akan gatal dan diminta untuk mematuk setiap pasang telurnya.

Perintah Mulajadi Na Bolon ini dilakukan dengan baik oleh ayam tersebut. Setelah mematuk telur-telur itu, muncul tiga pasang manusia di dalamnya.

baca juga

Pasangan kembar pertama bernama Batara Guru dan Raja Odap-Odap. Sementara itu, pasangan kembar kedua bernama Batara Sore dan Diumajati. Terakhir, ada juga Batara Bulan dan Raja Parojar.

Tidak lama kemudian, Mulajadi Na Bolon kemudian memerintahkan burung layang-layang membawa tiga ruas bambu. Dari ruas bambu ini kemudian muncul tiga orang gadis cantik jelita.

Ketiga gadis ini kemudian dinikahkan dengan Batara Guru, Batara Sore, dan Batara Bulan. Kini hanya tinggal saudara kembar mereka saja yang belum memiliki pasangan.

Dari pernikahan ini, Batara Guru, Batara Sore, dan Batara Bulan akhirnya memiliki seorang putri. Ketiga putri tersebut bernama Si Boru Deak Parujar, Nanbaura, dan Narudang Pulu Begu.

Ketiga putri ini kemudian dinikahkan dengan saudara kembaran ayahnya. Namun Si Boru Deak Parujar menolak untuk dinikahkan dengan saudara kembar Batara Guru, yakni Raja Odap-Odap.

Si Boru Deak Parujar kemudian melaporkan hal ini pada Mulajadi Na Bolon. Dia berkata akan sudi menikahi Raja Odap-Odap jika diberi benang atau kapas untuk disulam menjadi kain hingga selesai.

Mulajadi Na Bolon memenuhi permintaan tersebut. Namu Si Boru Deak Parujar memiliki caranya tersendiri untuk terlepas dari takdirnya.

Saat siang hari, Si Boru Deak Parujar menyulam benang dengan tekun. Namun saat malam tiba, dia kembali membongkar semua sulaman itu.

Hal ini ternyata membuat Mulajadi Na Bolon Murka. Akhirnya Si Boru Deak Parujar diturunkan ke muka bumi sebagai hukuman.

Seiring berjalannya waktu, Mulajadi Na Bolon sempat meminta Si Boru Deak Parujar untuk kembali naik ke kahyangan. Namun permintaan itu ditolak oleh Si Boru Deak Parujar.

Akhirnya Mulajadi Na Bolon mengutus Raja Odap-Odap untuk turun ke bumi. Tujuan turunnya Raja Odap-Odap tentu untuk menikahi Si Boru Deak Parujar.

Mulajadi Na Bolon kemudian memberikan ultimatum pada Si Boru Deak Parujar. Akhirnya Si Boru Deak Parujar bersedia untuk menikah dengan Raja Odap-Odap.

baca juga

Pernikahan ini kemudian melahirkan manusia pertama, yakni Raja Ihat Manisia dan Boru Itam Manisia. Kelak Raja Ihat Manisia dan Boru Itam Manisia memiliki seorang anak yang bernama Raja Miok-Miok.

Raja Miok-Miok kemudian beranak cucu bernama Raja Tantan Debata. Setelah itu, Raja Tantan Debata kemudian memiliki keturunan bernama Si Raja Batak.

Konon dari keturunan inilah yang nantinya asal usul orang Batak dulunya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

IJ
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.