Tak hanya menerima makanan dalam bentuk siap santap, siswa SD Kanisius Pucangsawit Solo juga diajak memahami proses pembuatan makanan bergizi sejak dari tanah. Mereka belajar menanam, merawat, memanen, hingga mengolah hasil kebun sendiri menjadi menu sehat.
Di sudut sekolah, dulunya hanya berupa lahan kosong berisi puing dan rumput liar. Kini lahan itu dijadikan sebagai kebun sirkular yang ramai oleh aktivitas siswa. Kebun tersebut kini jadi tempat praktik di luar kelas.
Sejak Maret 2026, pihak sekolah mulai memanfaatkan lahan tidur menjadi ruang belajar terbuka yang dekat dengan kehidupan anak-anak sehari-hari. Ada berbagai sayuran yang tumbuh di lahan itu, seperti pakcoy, bayam, kangkung, caisim, tomat, cabai, timun, kacang panjang, hingga jagung tumbuh.
Panen perdana telah dilakukan pada April 2026. Saat itu siswa memanen pakcoy, bayam, kangkung, dan caisim. Suasana panen jelas menjadi momen yang paling ditunggu.
Anak-anak memegang wadah kecil, mencabut sayur yang sudah besar, lalu membersihkan tanah di akar tanaman. Setelah itu, hasil panen dibawa ke dapur sekolah untuk diolah bersama.
Kepala SD Kanisius Pucangsawit, Perdana Wulansari, menjelaskan bahwa kebun tersebut dibuat bukan sekadar untuk menanam sayur. Sekolah ingin menghadirkan pembelajaran yang lebih utuh. Anak-anak dikenalkan pada proses hadirnya makanan sehat, mulai dari bibit ditanam, tanaman dirawat, hingga hasil panen diolah menjadi makanan yang bisa mereka konsumsi sendiri.

Siswa SD Kanisius Solo belajar menanam sayuran di kebun sekolah
Menurutnya, pengalaman itu penting agar siswa memahami bahwa makanan sehat tidak datang secara instan.
“Kami belajar mengadakan proses pembelajaran yang holistik. Anak-anak belajar menghargai proses, bahwa makanan sehat itu tidak instan ada di pasar, tapi ada proses menanam, merawat hingga memanen,” ujar Perdana Wulansari, dikutip detikJateng, Kamis (30/4/2026).
Banyak anak mengenal sayur hanya saat sudah matang di piring. Sebagian bahkan tidak tahu bentuk asli tanaman yang dimakan setiap hari. Melalui kebun sekolah, siswa bisa melihat langsung bagaimana kangkung tumbuh, seperti apa daun caisim, kapan tomat mulai berbuah, atau mengapa cabai perlu dirawat lebih hati-hati.
Siswa juga bisa melihat langsung bagaimana benih tumbuh menjadi sayur siap panen. Mereka belajar menyiram tanaman, membersihkan gulma, hingga menunggu masa panen datang. Proses itu juga melatih tanggung jawab dan ketelatenan.
Uniknya Metode Pembelajaran di Kebun bagi Masing-Masing Kelas
Menariknya, kebun tidak berdiri sendiri sebagai kegiatan tambahan. Area tersebut justru dipakai menjadi ruang kelas alternatif. Anak-anak belajar dengan benda nyata yang ada di hadapan mereka.
Setiap kelas mendapat metode dan pengalaman belajar yang berbeda. Siswa kelas 1, misalnya, memakai kebun sebagai tempat belajar berhitung. Guru mengajak mereka menghitung jumlah tanaman di satu bedengan, lalu menjumlahkan dengan bedengan lain. Sebelum menghitung, mereka juga harus mengenali jenis tanamannya terlebih dahulu.

Siswa SD Kanisius Solo panen sayuran di kebun sekolah
Untuk siswa kelas 3 dan 4, kebun dipakai sebagai objek menggambar. Mereka mengamati bentuk daun, batang, buah, dan warna tanaman. Dari situ, pelajaran seni terasa lebih hidup karena objeknya ada di depan mata. Cara seperti ini membuat anak tidak cepat bosan, sekaligus melatih kepekaan mereka terhadap lingkungan sekitar.
Selain kebun sayur, sekolah juga memelihara 10 ekor ayam petelur. Kehadiran ayam ini menjadi sarana belajar tambahan tentang sumber protein hewani. Anak-anak bisa melihat proses ayam bertelur, memahami cara perawatan ternak sederhana, dan mengetahui bahwa telur yang biasa dimakan pun berasal dari proses yang membutuhkan tanggung jawab.
Ada pula tanaman obat keluarga atau TOGA seperti mint dan tanaman herbal lain. Dari sini siswa diperkenalkan bahwa halaman rumah pun bisa menjadi sumber manfaat kesehatan. Pengetahuan semacam ini penting di tengah generasi yang makin jauh dari alam dan lebih akrab dengan gawai.
Cara Kekinian Olah Hasil Tanaman
Yang menarik, sekolah tidak menyajikan sayur hasil panen dengan cara biasa. Pakcoy diolah menjadi smoothies dan dicampur nanas serta jeruk. Langkah ini menjadi strategi cerdas agar anak-anak lebih tertarik mengonsumsi sayur.
Banyak siswa yang biasanya enggan makan sayur justru penasaran ketika sayuran diubah menjadi minuman segar. Dari sini terlihat bahwa edukasi gizi tidak harus kaku, tetapi bisa dibuat menyenangkan.
Sekolah juga mengenalkan konsep “Isi Piringku”, yaitu panduan gizi seimbang yang mendorong anak memahami pentingnya kombinasi karbohidrat, protein, sayur, buah, dan air minum dalam menu harian. Dengan melihat langsung hasil kebun mereka sendiri, konsep gizi terasa lebih dekat, bukan sekadar melihat gambar dan teori di buku pelajaran.
"Kemarin pakcoinya kami olah menjadi smoothies dicampur dengan nanas dan jeruk. Ini bagian dari edukasi gizi 'Isi Piringku' supaya mereka tahu makanan sehat itu seperti apa," lanjut Sari.
Program SD Kanisius Pucangsawit ini juga mendapat perhatian Wali Kota Solo, Respati Ardi. Ia datang langsung ke sekolah, ikut memanen pakcoy bersama siswa, dan mengapresiasi inovasi tersebut.
Menurutnya, model pembelajaran seperti ini layak diterapkan di sekolah lain karena menggabungkan pendidikan, gizi, dan pembentukan karakter dalam satu kegiatan nyata.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


