Kawan GNFI tentu sudah sangat hafal jika Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Meskipun begitu, Belanda tidak ingin Indonesia merdeka begitu mudah. Belanda akhirnya meluncurkan serangan kepada Indonesia yang ditandai dengan Agresi Militer Belanda I dan II.
Namun, rakyat Indonesia dengan gigih dan berani bertempur guna mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Belanda akhirnya mengakui kemerdekaan Indonesia pada Konferensi Meja Bundar tahun 1949.
Nah, tahukah kamu jika Kabupaten Malang menyimpan sisa-sisa kisah kekejaman tentara Belanda selama masa agresi militer? Kisah ini diingat oleh masyarakat sebagai Peniwen Affair. Peristiwa ini terjadi di Desa Peniwen, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang.
Kronologi Peniwen Affair

Papan Nama Monumen Peniwen Affair © Dokumentasi Pribadi
Pada masa Agresi Militer Belanda II, daerah Malang selatan merupakan wilayah yang strategis bagi para pejuang untuk melancarkan perang gerilya. Desa Peniwen dikenal sebagai salah satu basis pejuang Indonesia di daerah selatan Gunung Kawi. Lokasinya yang berada di pegunungan serta memiliki lahan yang subur menjadi alasan mengapa Desa Peniwen menjadi basis para pejuang republik.
Selain itu, Komunitas Kristen Peniwen juga mendirikan Panti Husodo yang berfungsi sebagai rumah sakit darurat selama perang. Remaja Desa Peniwen membentuk Palang Merah Remaja (PMR) untuk mendukung layanan kesehatan dan pertolongan pertama selama masa gerilya.
Belanda akhirnya bergerak ke Desa Peniwen untuk mencari gerilyawan yang bersembunyi pada bulan Februari 1949, atau di akhir masa Agresi MIliter Belanda II. Pasukan Belanda pun melakukan aksi teror kepada penduduk desa.
Puncak kekejaman tentara Belanda terjadi pada tanggal 19 Februari 1949. Pasukan Belanda masuk ke Desa Peniwen dan menyerbu Panti Husodo yang menjadi rumah sakit. Perbuatan ini jelas-jelas melanggar Konvensi Jenewa yang melarang tentara menyerang fasilitas kesehatan dan bangunan sipil. Mereka memaksa seluruh petugas medis di Panti Husodo keluar dan menembaki mereka satu persatu.
Puluhan warga sipil Desa Peniwen harus meregang nyawa terkena peluru tentara Belanda. Sebagian besar dari mereka adalah remaja anggota PMR Desa Peniwen dengan jumlah sebesar 12 orang. Rakyat yang gugur di peristiwa ini sebanyak 5 orang. Nama-nama mereka diabadikan di sebuah tugu yang didirikan untuk mengenang peristiwa tragis ini.
Mengabadikan Gugurnya Relawan PMR

Makam Relawan yang Gugur © Dokumentasi Pribadi
Sebuah monumen mulai dibangun di bagian selatan Panti Husodo pada tahun 11 Agustus 1983 untuk mengenang Peniwen Affair. Monumen ini diresmikan pada tanggal 10 November 1983 bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan oleh Sekretaris Jenderal PMI Pusat. Saat ini, lokasi Panti Husodo dialihfungsikan menjadi SDN 2 Peniwen.
Monumen ini berdiri kokoh setinggi kurang lebih 5 meter. Pada bagian puncak, terdapat patung anggota PMR yang sedang menolong pejuang yang sedang terluka. Di bagian depan monumen terdapat tulisan “Monumen Peniwen Affairs 19 Pebruari 1949”, menandai peristiwa dan waktu terjadinya pembantaian di Desa Peniwen.
Di bagian belakang monumen, terabadikan nama-nama anggota PMR dan warga yang gugur dalam Peniwen Affair.
Monumen ini juga memiliki relief yang menampilkan diorama pembantaian yang terjadi. Relief terpahat di sisi kiri, belakang, dan kanan monumen.
Relief pertama menggambarkan anggota PMR yang secara giat menolong pejuang yang sedang terluka. Kemudian, relief kedua menggambarkan tentara Belanda yang menangkap relawan PMR dan warga Peniwen dan mengikat tangan mereka di bagian punggung.
Adapun relief ketiga menggambarkan peristiwa yang sangat menyayat hati, yakni ketika tentara Belanda menembaki dan melakukan pembantaian.
Di bagian selatan monumen juga terdapat makam korban Peniwen Affairs yang berjumlah 10 orang. Kawan GNFI bisa melihat nama-nama korban yang terabadikan di batu nisan makam mereka.

Relief di Monumen Peniwen Affair © Dokumentasi Pribadi
Berkunjung ke Monumen Peniwen Affairs
Bagi Kawan GNFI yang sedang mengunjungi Malang dan suka tentang sejarah negara kita, sangat direkomendasikan untuk tidak lupa mengunjungi Monumen Peniwen Affairs. Pastikan kendaraan Kawan GNFI cukup prima untuk diajak melalui jalan menanjak ya, mengingat lokasi Desa Peniwen yang berada di atas gunung.
Jadi, apakah Kawan tertarik untuk ke Monumen Peniwen Affair? Silakan bagikan pengalamanmu, ya!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


