Seorang anak kecil pernah menyodorkan sepucuk surat kepada Amelia Khairani Sutrisno. Anak itu menyampaikan rasa terima kasih karena Amelia berusaha membuat perjalanan para penumpang aman. Bagi penumpang lain, perjalanan itu mungkin rutinitas. Bagi Amelia, momen itu adalah pengingat bahwa pekerjaannya bukan sekadar mengemudi, apalagi kereta yang perlu keahlian khusus.
“My calling is to serve people,” kata Amelia, dikutip dari Media Keuangan Kemenkeu.
Ya, Amelia Khairani Sutrisno adalah seorang perempuan yang berprofesi menjadi masinis MRT.
Selama puluhan tahun, kabin masinis memang identik dengan laki-laki. Alasannya masih erat dengan budaya maskulinitas bahwa masinis butuh ketahanan fisik, konsentrasi tinggi, dan tanggung jawab besar. Laki-laki dinilai mumpuni dan memenuhi kriteria itu.
Akan tetapi, saat ini, perempuan pun banyak mengisi posisi itu, salah satunya Amelia. Ia mengemudikan MRT (Mass Rapid Transit) Jakarta, sistem transportasi umum berupa kereta cepat di dalam kota. MRT adalah kereta listrik modern yang dirancang untuk mengangkut banyak penumpang dengan cepat, tepat waktu, dan bebas macet.
Tak hanya itu, Amelia menjadi bagian dari angkatan pertama masinis perempuan MRT Jakarta. Ia memang bukan satu-satunya masinis perempuan, tetapi langkahnya menjadi simbol penting. Total ada sembilan perempuan dalam angkatan awal tersebut.
Disiplin dan Empati Dibentuk dari Rumah
“Menjadi masinis itu tidak ada ruang untuk lengah,” tegas Amelia.
Amelia lahir di Tulungagung, Jawa Timur. Ayahnya prajurit TNI AD, sedangkan ibunya seorang perawat. Dari ayahnya, ia belajar disiplin. Sementara itu, dari ibunya, Amelia belajar ketelitian dan empati.
Rumah Amelia kebetulan berada dekat Stasiun Tulungagung. Ia terbiasa melihat kereta lalu-lalang sejak kecil. Akan tetapi, sejak kecil ia tidak pernah bercita-cita menjadi masinis. Justru ia ingin menjadi dokter, mengikuti jejak ibunya.
Meski demikian, saat menempuh pendidikan tinggi, Amelia memilih masuk Politeknik Perkeretaapian Indonesia (PPI) Madiun (2014–2017). Awalnya ia hanya memproyeksikan peluang kerja yang lebih besar di bidang tersebut. Lama-kelamaan, Amelia mulai melihat transportasi sebagai bagian penting bagi kehidupan banyak orang.
Lulus dari PPI, Amelia langsung ikut seleksi masinis MRT Jakarta. Nilainya termasuk yang tertinggi. Sejak Oktober 2017, ia resmi menjadi train driver.
“Kalau sudah memutuskan sesuatu, harus dijalani sungguh-sungguh,” kenangnya, mengingat pesan ayahnya.
Terhitung, Amelia telah menjalani profesi ini lebih dari 8 tahun. Ia dikenal menjaga standar keselamatan dan pelayanan tinggi.
Kegigihan Amelia Bekerja sambil Belajar
Bagi Amelia, karier dan pengetahuan tidak pernah cukup. Ia selalu merasa kurang dan haus akan ilmu.
Di tengah kesibukan kerja, ia tetap melanjutkan pendidikan. Ia mengambil studi Teknik Sipil di Universitas Jayabaya pada 2020–2022. Pilihan ini memperkuat pemahamannya tentang infrastruktur yang berkaitan dengan transportasi.
Lagi-lagi, Amelia masih ingin mengejar pendidikan. Ia ingin memahami sistem transportasi lebih dalam. Bukan hanya operasional, tapi juga sistem keselamatan dan integrasi.
Amelia punya target dapat melanjutkan studi ke University of Birmingham, Inggris. Kampus ini adalah salah satu pusat studi perkeretaapian dunia.
Mengingat pesan ayah, Amelia tidak kehabisan akal untuk belajar di tengah padatnya jadwal.
“Saya curi-curi waktu untuk belajar,” ujarnya.
Ia belajar IELTS di sela istirahat, bahkan sebelum matahari terbit. Rutinitas kecil itu akhirnya membuahkan hasil. Amelia lolos beasiswa LPDP. Ia melanjutkan studi magister di University of Birmingham, Inggris (2024–2025), di bidang Railway Systems Engineering and Integration.
Bagi Amelia, lolos LPDP bukan sekadar mendapat beasiswa. Ia sadar, dana itu berasal dari APBN, dari uang rakyat. Karena itu, ia merasa punya tanggung jawab untuk memberi dampak setelah studinya selesai.
“LPDP bukan garis finish, justru dari situ kita harus memperluas kontribusi kita,” katanya.
Pandangan itu membuatnya melihat seluruh proses yang ia jalani sejauh ini sebagai bagian dari perjalanan panjang, bukan tujuan akhir. Ia percaya, apa yang dikerjakan hari ini akan berlanjut ke tahap berikutnya.
"Tidak hanya di perkeretaapian, tapi juga di seluruh sektor transportasi. Saya optimis, saya punya kompetensi, saya semangat bekerja, saya melakukan ini semua itu dari hati… tantangan pasti ada tapi ketidakoptimisan itu tidak pernah ada sih di saya," tandasnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


