mangrove dan bahaya plastik ekosistem pesisir yang harus diselamatkan - News | Good News From Indonesia 2026

Mangrove dan Bahaya Plastik, Ekosistem Pesisir yang Harus Diselamatkan

Mangrove dan Bahaya Plastik, Ekosistem Pesisir yang Harus Diselamatkan
images info

Mangrove dan Bahaya Plastik, Ekosistem Pesisir yang Harus Diselamatkan


Hutan mangrove di pesisir Indonesia memegang peran vital terhadap keseimbangan ekosistem pantai. Tidak hanya mencegah abrasi, hutan mangrove juga menjadi rumah bagi banyak spesies hewan, seperti kepiting bakau, ikan-ikan kecil, udang, dan hewan lainnya.

Namun, ancaman sampah terutama sampah plastik yang terus datang dan meningkat memunculkan masalah serius bagi keberlanjutan hutan tersebut.

Apa Itu Mangrove, Apa Istimewanya?

Mangrove adalah hutan yang tumbuh di pesisir, zona pasang surut kawasan tropis, dan subtropis. Hal yang membuat mangrove berbeda dari hutan pada umumnya adalah karena sistem akar yang unik.

Akar ini disebut akar udara (pneumatophores) yang menjulur ke atas permukaan tanah seperti jari-jari dan pondasi alami. Ia berfungsi menahan gelombang, menjebak dan membentuk sedimen, serta menjadi habitat bagi berbagai jenis hewan seperti kepiting bakau, udang, hingga ikan-ikan kecil. 

Tidak berhenti di situ, mangrove juga memiliki kemampuan untuk menyerap karbon dalam jumlah yang jauh lebih besar dari hutan di daratan. Mengutip berita dari Forest Digest, mangrive dapat menyerap karbon hingga 3—5 kali lebih besar dari jumlah karbon yang diserap hutan biasa.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Daniel Murdiyarso dari Center for International Forestry Research (CIFOR) pada tahun 2015 menunjukkan bahwa serapan karbon oleh mangrove bisa mencapai 1.083 ton per hektar per tahun.

Manfaat mangrove tidak berhenti pada kemampuannya menyerap karbon dan memberi tempat tinggal bagi berbagai jenis hewan, tetapi juga bagi manusia. Dengan berkumpulnya berbagai jenis hewan, manusia dapat memanfaatkannya sebagai salah satu sumber pendapatan ataupun sebagai salah satu bahan pangan mereka sehari-hari. 

“Warga sekitar banyak yang menangkap kepiting bakau untuk dijual atau dikonsumsi sendiri, karena kan habitatnya di sana,” ujar Sampurno menjelaskan kepada penulis.

Sampurno adalah salah satu warga di Pantai Cemara, Banyuwangi yang telah lama menjaga dan merawat hutan mangrove di Pantai Cemara. 

baca juga

Ancaman terhadap Mangrove

Ironi datang dari pedang bermata dua akar-akar mangrove. Akar tanaman ini memang benar bermanfaat, tetapi hal itu juga yang menjadi alasan banyaknya sampah plastik yang tersangkut.

Akhirnya, itu semua mengakibatkan hutan mangrove kotor. Habitat alami hewan-hewan tersebut hilang dan yang lebih parah adalah menjadi bahaya tersembunyi bagi manusia. 

Plastik yang dibuang sembarangan masuk ke saluran air, sungai, dan bermuara di laut. Dari laut, arus membawanya ke pesisir dan mengendap di hutan mangrove. Plastik tersebut tidak hilang begitu saja. Ia hanya mengecil dan pecah sehingga menjadi mikroplastik yang berbahaya. 

Plastik-plastik itu juga mengusir ikan-ikan di kawasan hutan mangrove. Ketika air pasang terjadi, biasanya warga memanfaatkannya untuk pergi memancing.

Namun, jika banyak sampah plastik, maka dapat dipastikan hasil tangkapan mereka akan sangat sedikit. Tak jarang yang “tertipu” oleh sampah plastik sebab dikira sebagai ikan.

“Iya mas, kalau pasang gini suka nyangkut sama plastik, bukan ikan. Kalau ada sampah gini hasil tangkapan juga turun drastis,” ujar No, salah seorang warga yang biasa memancing ikan di kawasan hutan mangrove. Zamani, warga lainnya, mengaku jika sampah plastik ini sangat mengganggu dan mempengaruhi hasil tangkapan mereka.

baca juga

Bersama-sama Menjaga Mangrove

TIdak ada satu solusi yang secara pasti dapat menyelamatkan mangrove, tetapi yang diperlukan adalah kombinasi dari pengelolaan sampah dari hulu, perlindungan ketat terhadap kawasan mangrove, restorasi dan rehabilitasi mangrove dengan melibatkan warga dan komunitas lokal.

Aksi lain yang Kawan GNFI bisa lakukan meski tidak berada di kawasan mangrove adalah dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Dengan kombinasi di atas, kawasan hutan mangrove akan lebih terjaga dan semua bisa merasakan manfaatnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.