cipera makanan tradisional khas karo yang jadi simbol kehormatan dan kasih sayang - News | Good News From Indonesia 2026

Cipera, Makanan Tradisional Khas Karo yang Jadi Simbol Kehormatan dan Kasih Sayang

Cipera, Makanan Tradisional Khas Karo yang Jadi Simbol Kehormatan dan Kasih Sayang
images info

Cipera, Makanan Tradisional Khas Karo yang Jadi Simbol Kehormatan dan Kasih Sayang


Cipera, salah satu makanan tradisional khas masyarakat Karo yang patut Kawan coba ketika berkunjung ke daerah Sumatera Utara. Apalagi kuliner yang satu ini belum tentu bisa ditemui kapan saja.

Biasanya cipera dihidangkan dalam beberapa acara tertentu yang digelar di tengah masyarakat Karo. Meskipun demikian, ada juga beberapa warung yang memang secara khusus memasukkan makanan tradisional khas dari Sumatera Utara tersebut dalam menu yang mereka sajikan.

Sama seperti beberapa makanan tradisional lain yang ada di Indonesia, keberadaan cipera bagi masyarakat Karo memiliki nilai lebih dari hanya sekadar kuliner saja. Makanan tradisional yang satu ini juga memiliki nilai serta makna filosofis mendalam yang terkandung di dalamnya.

Bagaimana ulasan lebih lanjut seputar makanan tradisional cipera tersebut? Simak ulasan terkait makanan tradisional khas Karo ini dalam artikel berikut.

baca juga

Mengenal Cipera, Makanan Tradisional Khas Karo

Cipera adalah salah satu makanan tradisional khas yang berasal dari Sumatera Utara. Seperti yang sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya, makanan tradisional ini berasal dari kalangan masyarakat suku Karo yang ada di daerah tersebut.

Dikutip dari buku Harvina yang berjudul Terites & Ciper: Makanan Tradisional Khas Karo, pada dasarnya cipera merupakan makanan yang terbuat dari bahan dasar ayam kampung dan tepung jagung. Terdapat beberapa bagian ayam yang bisa digunakan untuk membuat makanan tradisional ini, seperti leher, sayap, kaki, hati, hingga ampela.

Selain ayam dan tepung jagung, ada juga beberapa bumbu dan bahan lainnya yang juga digunakan dalam proses memasak cipera. Adapun bahan lain yang digunakan untuk memasak makanan tradisional ini di antaranya bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, dan rempah lainnya.

Sekilas cipera memiliki tampilan yang mirip seperti gulai ayam pada umumnya. Namun terdapat sedikit perbedaan antara kedua kuliner ini, khususnya pada bagian kuahnya.

Kuah cipera biasanya akan jauh lebih kental jika dibandingkan dengan gulai ayam pada umumnya. Penggunaan tepung jagung menjadi alasan mengapa kuah cipera memiliki tekstur yang lebih kental.

Tidak Mudah untuk Ditemukan Kapan Saja

Jika Kawan ingin mencicipi cipera, maka perlu usaha lebih untuk menikmati makanan tradisional khas Karo tersebut. Sebab cipera biasanya hanya disajikan dalam momen-momen tertentu saja.

Biasanya cipera menjadi salah satu hidangan yang disajikan saat ada acara penting di tengah masyarakat Karo. Misalnya, cipera biasanya disajikan pada saat acara pernikahan, kerja tahun, hingga tujuh bulanan.

Meskipun demikian, ada juga beberapa rumah makan yang menyediakan cipera sebagai salah satu menu yang mereka sajikan. Warung makan Karo bisa menjadi salah satu alternatif tempat yang dapat Kawan tuju jika tertarik untuk mencicipi makanan tradisional yang memiliki cita rasa gurih tersebut.

baca juga

Memiliki Nilai Filosofis yang Mendalam

Selain menjadi makanan yang kaya akan cita rasa, cipera ternyata juga memiliki makna dan nilai filosofis yang mendalam. Hal ini membuat cipera tidak hanya dipandang sebatas makanan saja.

Bagi masyarakat Karo, cipera sering kali dianggap sebagai makanan yang menyimbolkan kehormatan dan kasih sayang. Jika ada tuan rumah yang menyajikan makanan ini pada tamu yang datang, maka hal tersebut adalah bentuk rasa hormat dan kasih sayang atas kedatangannya.

Selain itu, tidak setiap tamu biasanya akan disajikan cipera oleh setiap tuan rumah. Biasanya cipera baru akan disajikan pada saat ada tamu khusus atau kehormatan yang berkunjung ke rumah, seperti paman dan sejenisnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

IJ
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.