Ketika anggaran dipangkas, rata-rata lembaga akan menahan diri, memperkecil target, merapikan prioritas, dan bermain aman. Namun tidak dengan Prof. E. Aminudin Aziz, Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia saat bersama dengan Kang Maman dalam podcast GoodTalk GNFI. Bayangkan sebuah Lembaga yang anggarannya dipangkas hampir separuh, dari Rp721 miliar menjadi Rp378 miliar.
Lalu, pemimpinnya berdiri di depan publik dan berkata: tahun ini kita akan menggandakan target program kita. Kebanyakan birokrat berpikir bahwa itu bencana. Bagi Prof. Amin, itu merupakan logika yang masuk akal, asalkan tahu apa yang sebenarnya kawan bangun.
Di saat anggaran Perpustakaan Nasional turun hampir separuh, ia justru memilih arah yang berlawanan, yakni menaikkan target literasi secara signifikan. Keputusan ini terdengar kondradiktif, bahkan nekat. Tapi di baliknya, tersimpan cara pandang yang berbeda tentang literasi bahwa yang dibangun bukan sekadar program, melainkan sebuah ekosistem yang hidup.
Tahun 2025, Perpusnas menjalankan program Relawan Literasi Masyarakat (ReLiMa) dengan 180 relawan, menggunakan anggaran yang kini sudah tidak ada lagi dalam jumlah yang sama. Tahun 2026, dengan anggaran yang jauh lebih kecil, Prof. Amin menargetkan 360 relawan, dua kali lipat. Ia menghitung dengan cara yang berbeda.
Bukan Soal Uang, tapi Soal Pengakuan
Untuk memahami logika ini, kita perlu tahu dulu mengapa ReLiMa lahir. Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan pegiat literasi. Selama puluhan tahun, ada ribuan orang, di pelosok desa, di pulau-pulau terpencil, di gang-gang sempit perkotaan, yang secara sukarela mendirikan taman baca, meminjamkan buku dari koleksi pribadi, mengajarkan anak-anak membaca tanpa dibayar sepeser pun.
Mereka bergerak tanpa seragam dan hampir tanpa perhatian dari negara. ReLiMa lahir bukan untuk menggantikan mereka. Lahir pertama kalinya mengakui bahwa mereka ada.
“Kami akui mereka berkontribusi besar, tapi selama ini tidak ada perhatian, kita perhatikan,” kata Prof. Amin. Pengakuan itu menurutnya sangat penting, di mana negara turut hadir membersamai dalam sebuah gerakan literasi.
Ekosistem, Bukan Proyek
Yang membedakan cara berpikir Prof. Amin dari banyak pejabat lainnya adalah kesadarannya bahwa literasi bukan program, ia adalah ekosistem. Ekosistem butuh banyak komponen yang bekerja bersamaan. Buku yang tersedia, tempat yang mengundang, orang yang menggerakkan, kebijakan yang berpihak, dan yang paling sulit adalah ego sektoral yang rela dilepaskan.
Karena literasi yang sesungguhnya, seperti yang ia yakini bukan sekadar tentang baca-tulis. Ia adalah tentang bagaimana sebuah bangsa berpikir. Tentang bagaimana seorang anak kecil di pulau terpencil punya kesempatan yang sama untuk bermimpi besar seperti anak yang berada di Jakarta. Tentang martabat, bukan martabat seseorang, tapi martabat sebuah bangsa.
“Tidak ada di dunia ini, masyarakat atau bangsa yang bermartabat kalau misalnya tingkat literasinya rendah. Sangat tidak ada, karena apa? Bicara literasi itu bicara peradaban manusia. Dari mulai yang sangat sederhana, bisa mengenali lingkungan sampai kepada menciptakan sesuatu yang baru itu adalah literasi,” ucap Prof. Amin.
Makanya dari itu, menurutnya buku yang tidak digerakkan adalah buku yang mati. “Ketika buku ini ada tapi kemudian tidak dimanfaatkan, kan sayang juga,” ungkap Prof. Amin. “Para relawan inilah yang menggerakkan pemanfaatan buku ini,” jelasnya.
Di sinilah logika paradoks anggaran itu menjadi masuk akal. Uang bisa habis untuk membeli buku, tapi tanpa ada orang yang datang, bercerita, yang mengajak anak-anak duduk dan membaca bersama, buku itu hanya akan menjadi pajangan berdebu. Maka ReLiMa adalah nyawa dari investasi fisik yang sudah dikeluarkan sebelumnya. Lebih banyak relawan berarti lebih banyak buku yang benar-benar akan dibaca.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


