Banyak perantau datang ke Yogyakarta, bukan sekadar untuk tinggal, tapi untuk menguji diri, mencari bentuk, dan menempatkan diri dalam denyut ekosistem seni yang hidup. Mereka ikut menghidupi, sekaligus dihidupi oleh kota ini. Salah satunya adalah Teuku Shabir, seorang perupa asal Aceh.
Teuku Shabir (lahir 1997) memulai perjalanannya dari Institut Seni Budaya Indonesia Aceh, lalu melanjutkan studi Magister Seni di Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Sejak 2015, ia aktif berpameran di berbagai kota di Indonesia Yogyakarta, Jakarta, Bali, Padang, Surakarta, Medan, Jambi, hingga Nusa Tenggara Barat—serta menjangkau ruang internasional seperti Polandia, Slovenia, Mumbai, dan Italia, melalui proses kurasi dan seleksi.
Dalam praktik mutakhirnya, Shabir menjadikan rempah sebagai medium sekaligus gagasan utama. Bagi dirinya, rempah bukan sekadar bahan dapur, melainkan jejak sejarah, warisan keluarga, dan cara memahami ketahanan hidup. Ketertarikan ini berakar dari kisah ayahnya yang merintis usaha cengkeh pada 1970-an—jatuh, bangkit, dan terus berjuang untuk keluarga. Jejak itu berlanjut pada pamannya yang hingga kini menjadi agen pala dan pinang di Aceh.
Di tangan Shabir, rempah menjadi simbol ketekunan. Ia tumbuh dalam budaya Aceh yang lekat dengan rempah—baik dalam keseharian, kuliner, hingga ritual seperti keunduri blang, keunduri laot, keunduri maulod, hingga keunduri jirat. Rempah baginya adalah jembatan: antara rasa dan ingatan, antara tubuh dan alam, antara manusia dan nilai-nilai yang diwariskan.
Kedekatan itu kemudian menjelma menjadi eksplorasi artistik dalam pameran tunggal perdananya di Yogyakarta, “Bungong Lawang Ngon Keluarga,” yang berlangsung di Bolo Space. Ruang ini dipilih bukan tanpa alasan—ia menemukan keselarasan antara semangat ruang dengan narasi yang ia bawa.
Pameran ini dibuka pada 3 April 2026 oleh seniman maestro Heri Dono, melalui gestur sederhana tapi simbolik: bunga cengkeh yang diuleg, lalu digoreskan langsung ke kanvas. Sebuah pembukaan yang intim, dilengkapi pembacaan puisi, seolah menandai bahwa pameran ini bukan hanya tentang visual tetapi juga pergerakan.
Pameran ini dikuratori oleh Anang Saptoto, teman Shabir yang juga seorang seniman multidisiplin. Anang Saptoto memberikan catatan proses dalam pameran ini:
"Dalam prosesnya, cerita-cerita dikategorikan menjadi plot: keluarga, kehidupan sebagai petani rempah, hingga proses produksi dan distribusi. Dari sana, gagasan visual dibangun. Dalam satu diskusi, saya menyinggung konsep selective focus, sebuah istilah dalam fotografi mengenai cara melihat di mana ada yang tajam diantara yang pudar. Seperti ingatan: tidak semua hadir utuh, kadang blur, tetapi selalu ada yang terlihat jelas. Dari sini, Shabir mengembangkan pendekatan visualnya, bereksperimen dengan gestur, ukuran, sudut pandang, hingga fragmentasi obyek. Visualisasi cerita menjadi gambar adalah hal yang umum. Namun yang menguatkan karya Shabir adalah impresinya: tekanan warna, suasana, dan emosi yang dihadirkan. Tulisan dan gambar tidak saling menggantikan, tetapi saling menguatkan. Shabir bermain secara estetika diantara dokumentatif, arsip hidup, dan keputusan-keputusan artistik."
Dalam pemilihan judul, awalnya ditulis dengan bahasa Indonesia, yaitu perjalanan cengkeh dan cerita keluarga, dalam bahasa Aceh kami sederhanakan menjadi Bungong Lawang ngon Keluarga. Jika bahasa adalah medium, maka pilihan bahasa dan makna dalam judul ini adalah bagian dari pernyataan karya.
Sejauh langkah yang telah ditempuh, itulah yang ditampilkan. Ke depan, pameran ini akan berlanjut. Mungkin saat ini kebermanfaatannya belum begitu terasa. Namun bayangkan 50 tahun lagi generasi dalam keluarga Shabir menemukan arsip visual dan catatan ini, mungkin mereka akan bersyukur akan proyek yang dikerjakan ini.
Teuku Shabir menguatkan karya-karya ini bukan hanya bentuknya, tetapi impresinya: tekanan warna, suasana, dan emosi. Teks dan gambar tidak saling menggantikan, melainkan saling mengikat dan membentuk lapisan antara dokumentasi, arsip hidup, dan keputusan artistik.
Judul “Bungong Lawang Ngon Keluarga” sendiri menjadi pernyataan. Awalnya ditulis dalam bahasa Indonesia, lalu disederhanakan ke dalam bahasa Aceh. Di titik ini, bahasa bukan sekadar alat, tapi bagian dari karya, yang membawa identitas, dan posisi.
Pameran yang berlangsung hingga 16 April 2026, ini menghadirkan karya-karya yang terasa hangat, kadang surealis, tapi tetap humanis. Ada kedekatan yang sulit dijelaskan, seolah mengajak kita kembali ke akar ke rumah, ke ingatan, ke sesuatu yang sering luput kita sadari: keberlimpahan yang selama ini ada di sekitar kita.
Melihat karya-karya Shabir bukan hanya tentang melihat rempah. Tapi tentang membaca ulang hidup, melalui sesuatu yang tampak sederhana, namun menyimpan cerita panjang dan mengakar di dalamnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


